MEMBANGUN PERADABAN EMAS HANYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM
Keunggulan Sistem Pendidikan Islam
Islam menawarkan paradigma pendidikan yang lebih komprehensif dan unggul. Ini kerana Islam meletakkan ilmu sebagai kewajipan sekaligus jalan kemuliaan. Kewajipan menuntut ilmu ditegaskan dalam hadis Nabi ﷺ:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR Ibnu Majah).
Al-Quran juga menegaskan kemuliaan orang berilmu:
يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتۚ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan di antara kamu beberapa darjat.” (TMQ al-Mujadilah [58]: 11).
Tujuan pendidikan dalam Islam tidak hanya sekadar untuk melahirkan saintis pembangun peradaban. Apa yang utama adalah untuk membentuk keperibadian Islam yang utuh (syakhshiyyah Islamiyyah). Tujuan utama pendidikan dalam Islam selari dengan tujuan penciptaan manusia, yakni untuk mewujudkan hamba yang tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Pendidikan hendaklah melahirkan manusia yang menjadikan seluruh aktivitinya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Hal ini ditegaskan dalam al-Quran:
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (TMQ adz-Dzariyat [51]: 56).
Islam juga mewajibkan pemimpin negara untuk memuliakan ilmu, para pencari ilmu dan para pengajarnya. Dalam pandangan Islam, guru adalah pekerjaan mulia dan wajib dimuliakan. Rasulullah ﷺ menegaskan keutamaan orang yang mengajarkan ilmu:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
“Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya dan ikan di laut, semuanya mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR at-Tirmidzi).
Pesan utama hadis ini menegaskan bahawa pekerjaan guru yang mengajarkan ilmu adalah amal yang sangat mulia. Dalam pandangan Islam, kemuliaan guru ditandai dengan mendapat doa daripada seluruh makhluk.
Pemimpin negara juga wajib menyediakan infrastruktur pendidikan yang baik. Prinsip kepemimpinan dalam Islam ditegaskan dalam Hadis Nabi SAW:
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam (pemimpin negara) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggungjawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Tanggungjawab ini termasuk menyediakan sistem pendidikan yang berkualiti tinggi dan saksama. Sejarah mencatatkan bagaimana institusi pendidikan seperti Baitul Hikmah menjadi pusat ilmu pengetahuan global, yang disokong sepenuhnya oleh negara (Khilafah Islam). Institusi-institusi ini melahirkan para cendekiawan dan saintis terkemuka yang menyumbang secara signifikan kepada pelbagai disiplin ilmu.
Membangun Peradaban Emas
Islam juga mengarahkan pendidikan untuk membangun kekuatan umat. Tujuannya agar umat mandiri, berpengaruh di peringkat antarabangsa, serta bebas daripada penjajahan ekonomi dan kebergantungan teknologi kepada pihak asing. Sistem pendidikan Islam dengan kekuatan landasannya yang sempurna akan mampu mewujudkan negara super power yang akan membawa arah peradaban dunia.
Peradaban besar yang lahir daripada sistem pendidikan Islam akan menjadi kekuatan global yang mandiri dan mampu menghadapi hegemoni global peradaban sekular kapitalistik saat ini. Islam menegaskan pentingnya menyiapkan kekuatan maksimum sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT:
وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٍ
“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki..” (TMQ al-Anfal [8]: 60).
Fakta sejarah menunjukkan bahawa pada era Kekhalifahan Islam, umat Islam menjadi pusat inovasi dan peradaban dunia. Tanpa kehadiran para ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang telah mewariskan peradaban yang sangat agung, kemajuan peradaban Barat saat ini tidak mungkin terjadi. Secara jujur, hal ini diakui oleh salah seorang cendekiawan Barat sendiri, yakni Montgomery Watt. Dia menyatakan, “Adalah agak munasabah jika kita menyatakan bahawa peradaban Eropah tidak dibina oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat tidak akan menjadi apa-apa.”
Jacques C. Reister juga berkomentar, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.”
Bahkan yang menarik, sumbangsih peradaban Islam terhadap dunia, termasuk dunia Barat, juga pernah diakui oleh salah seorang bekas Presiden Amerika Syarikat, Barack Obama. Hal itu terungkap ketika dia berpidato pada 5 Julai 2009. Dia antara lain menyatakan, “Peradaban berhutang besar pada Islam. Islamlah yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad serta membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Kebangkitan di Eropah…” (http://jakarta.usembassy.gov.).
Hal ini menjadi bukti bahawa sistem pendidikan Islamlah yang mengintegrasikan iman, ilmu dan kekuasaan mampu melahirkan peradaban unggul. Hal ini membuktikan bahawa Islam, sebagai agama sempurna dengan seluruh perangkat ajarannya, mampu mewujudkan peradaban maju dan mulia.
Alhasil, jika kita ingin menjadi negara yang mengusung peradaban emas sekaligus menjadi negara adidaya yang maju dan kuat, tak ada jalan lain, kecuali kita hendaklah menerapkan sistem pendidikan Islam. Tentu dalam naungan institusi pemerintahan yang menjadikan akidah Islam sebagai dasarnya, sebagaimana pada era kekhilafahan Islam terdahulu.
WalLaahu a’lam bi ash-shawaab. []
—*—
Hikmah:
Allah SWT berfirman:
إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ وَمَا ٱخۡتَلَفَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُمۡۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بَِٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ
“Sesungguhnya agama (yang diredhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tidaklah berselisih faham orang-orang yang telah diberi Kitab, kecuali setelah mereka memperolehi ilmu, kerana kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (TMQ Ali Imran [3]: 19). []
Diterjemah, dipetik dan diolah daripada sumber: Buletin Dakwah Kaffah Edisi 422
#SistemPendidikan #DasarPendidikanNegara