(Merealisasikan autoriti Hukum Syarak, menentukan piawai perbuatan dalam kehidupan)
Islam tidak mencukupkan tuntutan agar terdapat keterikatan dengan syarak dalam kehidupan individu dan pergaulan di antara mereka sehari-hari. Namun dalam nas-nas yang amat jelas, Islam menuntut agar ada pemerintahan berdasarkan syarak. Allah berfirman sebagai seruan kepada Rasulullah,
… فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ…
“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” [TMQ Al Maidah (5): 48]
Namun itu pun belum cukup, bahkan ada nas-nas dengan memberi ancaman kepada orang-orang yang menerapkan hukum selain hukum syarak. Firman Allah,
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَٰفِرُونَ …
“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” [TMQ Al Maidah (5): 44]
Iaitu orang yang berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah dengan adanya keyakinan bahawa itu layak diterapkan sedangkan hukum syarak tidak layak dipakai, maka orang tersebut adalah kafir. Namun jika tidak mengiktikadkan bahawa itu semua layak diterapkan dan Islam tidak layak diterapkan, maka dia termasuk maksiat.
Oleh kerana itu, Allah berfirman dalam ayat berikutnya,
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُون…
“Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang zalim.”[ TMQ Al Maidah (5): 45]
Juga dalam ayat berikutnya,
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ …
“Barang siapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang fasik.” [TMQ Al Maidah (5): 47]
Bukan sekadar itu, bahkan Islam memerintahkan kaum muslimin agar memerangi penguasa dan mengangkat pedang di hadapan mereka apabila mereka menerapkan hukum kafir, juga apabila tampak jelas-jelas kekufurannya, seperti dalam hadis Ubadah Bin Shamit tentang baiat, “Juga agar kami tidak merebut kekuasaan daripada seorang pemimpin kecuali (Sabda Rasulullah), ‘Kalau kalian melihat kekufuran yang tampak secara terang-terangan, yang dapat dibuktikan berdasarkan dalil daripada Allah (Al Wahyu).’” Menurut Thabrani dengan lafaz, “Kekufuran yang jelas.” Dalam riwayat lain, “Kalau kalian melihat kemaksiatan kepada Allah secara terang-terangan.” Menurut riwayat Ahmad, “Tidakkah kita memerangi mereka ya Rasulullah?” Baginda menjawab, “Tidak, selama mereka melakukan solat.”
Dalam hadis Malik, “Dikatakan, ‘Ya Rasulullah, tidakkah kita akan mengangkat pedang?’ Baginda menjawab, ‘Jangan, selama mereka masih menegakkan solat.’” Dalam riwayat lain, “Kami mengatakan, ‘Ya Rasulullah, tidakkah kita memerangi hal yang demikian itu?’ Baginda menjawab, ‘Jangan, selama mereka masih menegakkan solat.’” Maka, mafhum hadis-hadis ini adalah agar kita merebut kekuasaan daripada mereka apabila kita melihat kekufuran yang nyata. Termasuk mengangkat pedang dan memerangi mereka apabila tidak menegakkan solat. Menegakkan solat adalah kiasan daripada penerapan hukum Islam.
Dahulu, penguasa yang tidak memiliki kuasa dalam persoalan harta disebut dengan Waliyus Solat. Dan orang yang memiliki kuasa dalam persoalan harta disebut Waliyus Sadaqah. Maka dalam keadaan apa pun berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah sebenarnya merupakan kekufuran yang amat jelas. Mafhum hadis tersebut adalah agar merebut kekuasaan dan memerangi dengan pedang terhadap orang yang melakukannya.
Dalil-dalil ini menunjukkan bahawa Islam memerintahkan untuk memerangi orang yang menerapkan hukum selain Islam, dengan perintah memerangi penguasa tatkala tampak jelas-jelas kekufurannya. Termasuk perintah memerangi para pemimpin yang tidak menegakkan solat, iaitu mereka yang tidak menerapkan hukum berdasarkan apa yang diturunkan Allah. Dengan demikian, tampak begitu besar kepedulian syarak terhadap penerapan pemerintahan berdasarkan hukum syarak. Dia (syarak) telah memerintahkan dengan perintah yang pasti. Bukan sekadar itu, bahkan syarak melarang berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah dengan larangan yang pasti. Itu pun belum cukup, bahkan syarak memerintahkan kaum muslimin untuk memerangi para penguasa, apabila mereka berhukum dengan selain syarak, dengan mengangkat senjata di hadapan mereka hingga kembali kepada hukum syarak. Sehingga penerapan hukum syarak tidak hanya terbatas pada kehidupan individu dan pergaulan sehari-hari di antara individu-individu tersebut. Tetapi juga mencakup aktiviti penerapan hukum syarak semuanya. Maka penerapan hukum syarak diwajibkan bagi umat dan para penguasa seperti halnya diwajibkan bagi seluruh kaum muslimin, yang tidak ada bezanya baik rakyat jelata mahupun penguasa, agar terikat pada hukum syarak. Dengan demikian, akan terwujud nilai keterikatan kepada hukum di dalam landasan yang dipergunakan membangun umat, negara, dan masyarakat.
Sumber: https://www.facebook.com/812692572241893/posts/1948528675324938/