Di antara kelebihan syariat Islam juga adalah pemeliharaan terhadap hak-hak anak yatim, orang miskin dan para janda. Islam memasukkan mereka ke dalam naungan keamanan dan pemeliharaan masyarakat Muslim dengan memberi jaminan secara maknawi dan kebendaan. Dalam firman-Nya, Allah SWT memerintahkan untuk mengasihi anak yatim, “Oleh itu, adapun anak yatim maka janganlah engkau berlaku kasar terhadapnya” [TMQ Adh-Dhuha (93): 9]. Allah juga memerintahkan untuk memberikan orang-orang miskin, hak-hak yang diwajibkan kepada mereka di sisi Allah sebagaimana firman-Nya, “Dan berikanlah kepada kerabatmu, dan orang miskin serta orang musafir akan haknya masing-masing; dan janganlah engkau membelanjakan hartamu dengan boros yang melampau.” [TMQ Al-Israa’ (17): 26].
Dalam membantu orang-orang miskin dan juga para janda, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memberikan dan memenuhi keperluan golongan tersebut sehingga tahap mereka tidak merasakan kesukaran sama sekali. Sabda Rasulullah SAW, “memberikan bantuan kepada para janda dan orang-orang miskin ibarat mujahid di jalan Allah atau seperti mereka yang mendirikan solat malam dan berpuasa di siang hari. Maka, apakah pahala dan ganjaran yang lebih agung daripada itu?”
Rasulullah juga menganjurkan untuk berbuat baik kepada anak-anak yatim dengan janji pahala yang besar dengan memberikan hak-hak dan mencukupkan keperluan serta pemeliharaan terhadap mereka. Nabi SAW bersabda, “Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan dan lelaki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini, Rasulullah SAW mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.” (Riwayat Ahmad)
Bahkan sehingga ke tahap Baginda menganjurkan umatnya untuk bersatu menanggung anak-anak yatim seperti anak mereka sendiri. Baginda bersabda, “Orang yang memelihara anak yatim di kalangan umat muslim, memberikannya makan dan minum, pasti Allah akan masukkan ke dalam syurga, kecuali ia melakukan dosa yang tidak boleh diampuni.” (HR Tirmidzi dari Ibnu Abbas).
Manhaj Islam tidak memandang anak-anak yatim, orang-orang miskin dan para janda sebagai orang memerlukan tuntutan kehidupan secara kebendaan semata-mata. Dalam pandangan Islam, mereka merupakan golongan yang kurang mendapatkan kelembutan dan kasih sayang. Kerana itu, Rasulullah mengajar kita untuk mengasihi orang-orang miskin dan anak-anak yatim dengan meringankan beban mereka. Perkara itu jelas kelihatan ketika ada seseorang datang mengadu kepada Rasulullah berkenaan kekerasan hatinya dan Rasulullah bersabda, “Silakan beri makan orang miskin dan usap kepada anak yatim,” (Ibnu Hajar Al-Asqalani).
Di sisi lain, syariat Islam telah memperingatkan dan memberi amaran kepada mereka yang berlaku zalim dan memakan harta anak-anak yatim dalam sabda Rasulullah, “Jauhilah oleh kalian 7 hal yang membinasakan.” Maka para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apa 7 hal tersebut?” Maka Nabi yang mulia mengatakan:(1) Dosa kesyirikan kepada Allah, (2) Dosa sihir, (3) Dosa membunuh seorang jiwa yang diharamkan oleh Allah Ta’ala melainkan dengan alasan yang hak, (4) Dosa memakan harta riba, (5) Dosa memakan harta anak yatim, (6) Dosa berpaling dari medan perang dan (7) Dosa menuduh seorang wanita muslimah yang terhormat dengan tujuan yang keji (zina),” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Islam juga menganjurkan untuk memberikan infak kepada orang miskin dan anak-anak yatim sebagaimana sabda Baginda, “Dan sungguh harta itu seperti dedaunan hijau yang manis. Maka beruntunglah seorang muslim yang dengan hartanya dia memberi orang-orang miskin, anak yatim dan ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal)”. (HR Al-Bukhari)
Dari sudut maknawi, pandangan Islam sebenarnya lebih jauh dari apa yang disebutkan di atas. Satu ketika, Rasulullah menjamah makanan di majlis walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya dan tidak memperdulikan orang-orang miskin dan anak yatim. Baginda bersabda, “Makanan terburuk adalah makanan dalam walimah yang hanya mengundang orang kaya tanpa mengundang orang miskin. Barangsiapa tidak memenuhi undangan walimah, maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya” (HR. Muslim).
Rasulullah SAW sebagai ketua negara telah meletakkan diri Baginda sebagai penanggungjawab atau wali bagi anak-anak yatim dan fakir miskin serta orang-orang yang memerlukan. Sabda Nabi SAW “Aku adalah semulia-mulia manusia di antara kaum mukminin di dalam Kitabullah. Siapa saja di antara kalian yang meninggalkan hutang atau memerlukan bekal (adh-Dhu’ah) maka mintalah kepadaku dan aku akan menjadi walinya.”
Baginda adalah orang yang paling pantas dalam melaksanakan apa yang telah disabdakannya. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abi Aufa bahawa Nabi tidak pernah menolak untuk berjalan bersama-sama dengan orang-orang miskin dan para janda, kemudian Baginda akan mencukupkan keperluan mereka semua.
Begitulah Islam memelihara hak-hak secara menyeluruh. Islam telah mengangkat kedudukan anak-anak yatim dan orang miskin dalam peradaban yang berperikemanusiaan.
Sumber: Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia, Prof. Dr. Raghib As-Sirjani