Oleh: Ustaz Yuana Ryan Tresna
Jadi hakikat kemenangan adalah ketika umat Islam menjadi umat yang bertakwa kepada Allah SWT. Pada saat ini, kita menyaksikan masih banyak perintah Allah SWT yang belum diamalkan dan berbagai larangan Allah yang masih dilanggar, terutama syariah Islam yang berkaitan dengan pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, baik dalam bidang pemerintahan, ekonomi, sosial, undang-undang jenayah, pendidikan, politik luar negeri dan lain sebagainya.
Sebab belum diamalkan syariah Islam secara kaffah dalam kehidupan kita inilah yang menyebabkan kehidupan kaum muslimin pada saat ini semakin memburuk, terjajah, hancur serta tertindas. Saudara-saudara kita di Palestin, Syria, Iraq, Afghanistan, Xinjiang, Chechnya, Rohingya, Selatan Thailand, Filipina Selatan, dan sebagainya, mereka dijajah, diseksa, dan banyak yang diusir dari negerinya, tanpa ada yang melindungi dan membelanya.
Di Indonesia misalnya, rakyat semakin miskin, harga-harga keperluan asas yang terus mencanak tinggi, cukai yang makin memberatkan, kekayaan alam kita dikaut oleh korporasi-korporasi asing, perkhidmatan kesihatan dan Pendidikan yang berkualiti semakin mahal, pergaulan pemuda dan pemudinya semakin rosak, korupsi kian merajalela, kerosakan lingkungan yang semakin parah, dan sebagainya.
Pangkal kemerosotan ini adalah kerana umat Islam telah banyak menyimpang dari aturan Allah SWT. Keadaan itu telah diterangkan oleh Allah SWT,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى – ١٢٤
“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta…”. (TMQ Taha: 124)
Menurut Imam Ibnu Katsir makna “berpaling dari peringatan-Ku” adalah, “menyalahi perintah-Ku dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku, melupakannya dan mengambil petunjuk dari selainnya.” (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, V/323). Sedangkan penghidupan yang sempit tidak lain adalah kehidupan yang semakin miskin, sengsara, menderita, terjajah, teraniaya, tertindas dan sebagainya, sebagaimana yang kita saksikan dan rasakan sekarang ini di dunia Islam.
Pada Hari Raya Aidilfitri, kita hendaklah menjadikannya sebagai momentum untuk membuktikan diri, bahawa kita adalah umat yang layak dan berhak untuk disebut sebagai umat yang bertakwa di hadapan Allah SWT, yakni yang siap siaga tunduk secara menyeluruh (total) kepada syariat-Nya.