Menuju Penyatuan Ummah
Wajar menjadi pertanyaan setiap dari kita, mengapa ibadah haji tidak memberikan impak persatuan yang hakiki dan berlanjutan? Mengapa nikmat persatuan itu hilang usai ibadah haji dan umat tetap dalam keadaan porak-poranda?
Patut disayangkan, ibadah haji yang mengumpulkan dan melebur jutaan orang dalam satu tempat dan satu waktu, ternyata belum mampu membawa mereka menuju persatuan yang hakiki. Hal ini terus terjadi saban tahun. Persatuan umat ketika berhaji baru sebatas mewujudkan ikatan spiritual tanpa sistem (rabithah ar-ruhiyah bi la nizham). Sama persis dengan ibadah solat berjemaah atau solat Jumaat. Umat berkumpul di satu tempat dan satu waktu, kemudian bubar begitu saja. Tak lagi ada ikatan di antara mereka.
Sepatutnya ibadah haji menjadi konferensi akbar untuk membangun kesedaran umat, bahawa mereka kini telah tercerai-berai. Tidak lagi menjadi umat yang satu. Banyak permasalahan umat yang perlu diselesaikan secara bersama.
Ironinya, hari ini kaum Muslim mementingkan ego kebangsaan masing-masing Mareka tak peduli pada keadaan saudaranya. Bahkan yang lebih ironi, beberapa negara Muslim seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Emiriah Arab Bersatu memberikan dukungan kepada pemerintah Komunis China yang melakukan kezaliman terhadap umat Muslim Uighur.
Jelas bahawa, kaum Muslim perlu membangun kembali persatuan hakiki di antara mereka. Demikian sebagaimana dulu diawali oleh kaum Muhajirin dan Anshar yang bersatu dalam ikatan akidah Islam. Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Kaum Mukmin itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) kedua saudara kalian itu dan takutlah terhadap Allah supaya kalian mendapat rahmat”. (TMQ al-Hujurat [49]: 10).
Ikatan akidah yang melahirkan ukhuwah islamiyah ini bukan saja tercipta di Madinah, Negara Islam pertama di dunia, namun terus menjalar ke setiap wilayah, di mana pun Islam tersebar melalui dakwah dan futuhat (penaklukkan). Setiap bangsa yang memeluk Islam kemudian mengganti ikatan kesukuan dan kebangsaan mereka dengan ukhuwah islamiyah. Mereka menyambut saudara seiman mereka sekalipun berbeza suku bangsa, juga sekalipun para pendatang itu yang menaklukkan negeri mereka. Bangsa Sepanyol di Andalusia dan Cordoba, Persia, Syam, suku Barbar di Afrika. Semua bersatu dalam ikatan akidah dan ukhuwah islamiyah bersama kaum Muslim yang berasal dari Jazirah Arab.
Sayang, hari ini kaum Muslim berada di titik terlemah kerana terpecah-belah. Tak sanggup membela diri dan memberikan perlindungan kepada sesama Muslim. Mereka malah membiarkan saudara seiman terus nazak di tengah penderitaan.
Hari ini sudah sebelas tahun bumi Syam dilanda peperangan. Jutaan mangsa masih tidak mendapat keadilan dan pembelaan yang tuntas.
Selain itu, akibat Perang Arab Saudi-Yaman, sekitar 70 ribu rakyat (dan kini lebih) menjadi korban. Di China, rakyat Muslim Uighur dipenjarakan oleh Pemerintah Komunis China di kem-kem konsentrasi. Umat Islam sedunia tentu wajib memberikan pertolongan kepada mereka dan menyelesaikan pertikaian yang ada serta menghentikan kezaliman (Lihat: surah al-Anfal [8]: 72).
Bersatu di Bawah Kalimah Tauhid
Alhasil, mari kita kukuhkan kembali ikatan ukhuwah islamiyah kita. Satukan hati kita. Campakkan ego kebangsaan (nasionalisme) dan kelompok yang telah membuat kita tercerai-berai, yang telah membuat musuh terus-menerus menguasai kita.
Mari kita jadikan kalimat tauhid sebagai pemersatu kita. Sungguh kita adalah umat yang satu. Bertuhankan satu, Allah SWT. Berhukum satu, Al-Quran. Dengan persatuan di bawah kalimat tauhid itulah Allah SWT akan menolong dan memuliakan kita.
Sumber: Buletin Kaffah no. 100, “Haji: Bersatu dalam Kalimah Tauhid”