Penulis: Muhammad Husain Abdullah
Perubahan itu juga tampak dalam diskusi yang berlangsung antara Heraklius, Raja Romawi, dengan Abu Sufyan bin Harb. Heraklius berkata, “Apa yang dia (Muhammad) perintahkan kepada kalian?” Abu Sufyan menjawab, “Sembahlah Allah semata, dan janganlah kalian persekutukan Dia dengan sesuatu apa pun, tinggalkanlah apa yang diucapkan oleh nenek moyang kalian. Beliau juga memerintahkan kami untuk mendirikan solat, berkata jujur, menjaga kehormatan (‘iffah), dan bersilaturrahmi.” (Sahih al-Bukhari ma’a Fath ul Baari, Juz I, hal. 26-31)
Dalam waktu singkat, bangsa Arab berubah menjadi umat yang padu dan solid. Keterpecahbelahan mereka dalam berbagai suku, berganti menjadi sebuah kesatuan yang integral dalam satu akidah, satu falsafah kehidupan, dan perilaku. Keadaan ini juga menggantikan suku sakat berdasarkan ikatan darah dan kerabat dengan sebuah pengikat berupa ketundukan kepada Allah semata, sekaligus menggantikan peperangan dalam rangka membela hidup atau membela kemuliaan suku, dengan jihad fi sabilillah.
Pemikiran Islam telah membentuk orang-orang Arab dan selain Arab sehingga memiliki keperibadian-keperibadian islami yang unik, bersedia mengorbankan nyawa dan apa saja yang dimilikinya dalam rangka mengemban risalah Islam ke seluruh umat manusia. Contohnya adalah Mus’ab bin ‘Umair yang rela meninggalkan keluarga dan tanah airnya, serta kenikmatan hidupnya di kota Mekah demi menyambut seruan Rasulullah saw. yang memanggilnya untuk pergi ke Madinah al-Munawwarah.
Akibatnya, dia terbebani kehidupan yang sempit dan terasing di sana. Namun, dia terus melakukan hubungan (ittishaal) dengan penduduk Madinah. Hingga akhirnya dia berjaya mempersiapkan masyarakat Madinah untuk menegakkan Daulah Islamiyah yang terus tertegak hingga 13 abad lamanya.
Begitu juga Shuhaib al-Rumiy yang rela seluruh hartanya diambil orang-orang Quraisy sebagai ganti hijrahnya ke Madinah (Darul Hijrah). Berkenaan dengan dirinya, turun firman Allah, “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari mardhaatillah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” [TMQ Al-Baqarah (2): 207]
Islam telah mengubah bangsa Arab ke dalam kehidupan baru yang teratur. Sebuah kehidupan baru yang memiliki ciri khas dalam kehidupan. Islam juga mengubah bangsa-bangsa yang telah masuk ke dalam naungan panji Islam. Mereka merasakan kehidupan yang sama. Islam juga mewarnainya dengan corak Islam (shibghatul Islam).
Akhirnya, Persia dan Romawi meninggalkan akidah-akidah mereka, dan memeluk akidah Islam. Mereka menyatu ke dalam pemikiran dan kebudayaan (tsaqafah) Islam, serta turut mengemban dakwah Islam. Pada gilirannya seluruh bangsa melebur dalam pangkuan Islam. Mereka menjadi umat yang satu; satu kesatuan pemikiran, perasaan, dan sistem. Tidak ada perbezaan antara orang Arab atau pun bukan Arab (a’jamiy). Tidak ada keutamaan antara yang satu dengan lainnya kecuali atas dasar ketakwaannya.
Transformasi yang dihasilkan oleh Islam terhadap manusia yang mengemban dan menerapkannya, dapat disimpulkan sebagai berikut:
- Pemikiran Islam telah mengubah manusia dari penyembahan terhadap selain Allah seperti patung dan api, kepada penyembahan terhadap Allah semata.
- Pemikiran Islam telah mengubah pandangan mereka tentang kehidupan, dari cara pandang yang dangkal menuju cara pandang yang mendalam lagi jernih (nazharatan ‘amiiqatan mustaniiratan) yang merupakan cerminan dari akidah Islam, iaitu pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, dan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia, serta tentang hubungan antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya.
- Pemikiran Islam telah mengubah ikatan-ikatan yang ada pada mereka seperti ikatan kepentingan (al-mashlahiyyah), kesukuan (al-qabiliyyah), dan patriotisme (al-wathaniyyah) kepada ikatan ideologis, sebagai sebuah ikatan yang kekal lagi kukuh. Adapun ikatan-ikatan sebelumnya bersifat sementara dan lemah.
- Pemikiran Islam telah mengubah tolok ukur aktiviti kehidupan mereka dari egoisme manfaat kepada tolok ukur halal dan haram. Apabila halal, mereka mengerjakan dan mengamalkannya, sedangkan jika haram, mereka segera menjauhi dan membencinya.
- Pemikiran Islam telah mengubah asas hubungan kenegaraan. Sebelumnya, hubungan kenegaraan dibangun atas kepentingan-kepentingan material, ketamakan, dan kelelahan, kemudian menjadi tegak atas asas penyebaran pemikiran Islam dan mengembannya kepada seluruh umat manusia.
- Pemikiran Islam telah mengubah persepsi tentang kebahagiaan pada diri umat. Sebelumnya, kebahagiaan tecermin dalam pemenuhan terhadap syahwat dan segala bentuk kenikmatan dunia. Setelah itu, persepsi kebahagiaan beralih kepada mencari redha Allah.
Akhirnya, mereka tidak takut akan kematian, dan berharap syahid di jalan Allah. Ini kerana mereka telah memahami bahawa dunia hanyalah jalan menuju akhirat yang tecermin pada firman Allah Swt.,
“Dan carilah dengan apa-apa yang diberikan Allah kepadamu akan negeri akhirat dan jangan lupakan bagianmu di dunia…” [TMQ Al-Qashash (28): 77].
Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-Dasar Pemikiran Islam