MANUSIA MATI SESUAI KEBIASAANNYA SAAT HIDUP
Oleh: Ustaz Arief B. Iskandar
Ada orang meninggal dalam keadaan taat kepada Allah SWT: saat solat berjemaah di masjid, membaca al-Quran, berzikir atau bertaubat kepada Allah SWT; saat menghadiri majlis ilmu atau mengajarkan ilmu; saat berdakwah atau berjihad di jalan Allah SWT; dll.
Sebaliknya, banyak orang mati dalam keadaan maksiat kepada Allah SWT: mati di kelab malam, di meja judi atau di tempat pelacuran; mati saat mabuk atau mati kerana dadah; mati saat menikmati wang rasuah, atau riba; mati dalam keadaan aurat terdedah atau saat sedang menari di atas pentas; mati dalam keadaan menyakiti ibu bapa, mengabaikan hak-hak suami/isteri atau menzalimi orang lain; dll.
Banyak juga orang yang mati dalam keadaan menunda-nunda bahkan meninggalkan solat, lalai dari zikir mengingati Allah SWT, jarang sekali membaca al-Quran; dalam keadaan asyik bermain games, berhibur di tempat-tempat hiburan, dll.
Semua itu bergantung pada kebiasaan masing-masing saat hidup.
Demikian sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnu Katsir dan Imam as-Sa’adi serta ulama lainnya rahimahumulLaah:
أَنَّهُ مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ
“Sungguh siapa saja yang hidup di atas suatu kebiasaan tertentu, dia pun akan diwafatkan di atas kebiasaan tersebut.” (Ibnu Katsir, Tafsiir al-Qur’aan al-‘Azhiim, 2/101; as-Sa’adi, Taysiir al-Kariim ar-Rahmaan fii Tafsiir Kalaam al-Manaan, 1/130).
Kesimpulannya, kita boleh saja berharap agar mati dalam keadaan husnul khatimah. Namun pada akhirnya, kita akan mati sesuai dengan kebiasaan kita saat hidup; adakah kebiasaan kita itu taat kepada Allah SWT atau kita biasa melakukan dosa dan bermaksiat kepada-Nya; adakah dalam keadaan selalu ingat kepada Allah SWT atau sering lalai kepada-Nya.
Wa maa tawfiiqii illaa bilLaah ‘alayhi tawakkaltu wa ilayhi uniib. []
#muhasabah #kehidupan #habit #mati #kematian