TANGGUNGJAWAB ULAMA & UMARA MENGATASI KEMUNGKARAN
Berkaitan dengan pembasmian kemungkaran, maka tindakan ini memerlukan sinergi antara ulama dan umara, bersama-sama dengan umat (rakyat) secara umum.
Pentingnya kedudukan ulama dan umara (penguasa) juga diungkapkan dalam syair Imam al-Hasan al-Bashri (w. 110 H), sebagaimana dinukil al-Hafizh Ibn al-Jawzi (w. 597 H), menuturkan:
ولولا العلماء لكان الناس كالبهائم ولولا السلطان لأكل الناس بعضهم بعضاً
“Jika tiada ulama maka sungguh manusia bagaikan binatang, dan jika seandainya tiada al-sulthân (al-khalifah) maka sungguh manusia akan menzalimi satu sama lain.”[1]
Dan sebaliknya, jika tiada penguasa yang menegakkan hukum-hukum Allah, memelihara masyarakat dari kemungkaran maka terjadi fitnah.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
والفتنة: إذا لم يكن إمام يقوم بأمر الناس
“Fitnah terjadi jika tidak ada Imam (Khalifah) yang berdiri untuk mengatur manusia (dengan hukum-hukum Islam-pen.).”[2]
Atsar salafuna al-shalih di atas sejalan dengan ketetapan Islam berkenaan dengan tanggungjawab penguasa dan tokoh umat, Rasulullah -sallallâhu ‘alayhi wa sallam- bersabda:
« أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ »
“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya, penguasa yang memimpin rakyat dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. al-Bukhârî, Muslim dll)
Imam al-Baghawi (w. 516 H) menjelaskan makna al-râ’i dalam hadis ini yakni pemelihara yang dipercaya atas apa yang ada padanya (tanggungjawabnya). Nabi ﷺ memerintahkan mereka dengan menasihati apa-apa yang menjadi tanggungjawabnya, dan memperingatkan mereka dari perbuatan berkhianat, dengan pengajarannya bahawa mereka adalah orang yang akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Maka al-ri’âyah: adalah memelihara sesuatu dan baiknya pengurusan. Dimana di antara bentuknya adalah pemeliharaan atas urusan-urusan rakyat dan perlindungan atas mereka. [3]
Catatan Kaki:
[1] Jamâluddin Abu al-Faraj Ibn al-Jawzi, Âdâb al-Hasan al-Bashri wa Zuhduhu wa Mawâ’izhuhu, Dâr al-Nawâdir, Cet. III, 1428 H, juz I, hlm. 58.
[2] Abu Bakr Ahmad bin Muhammad al-Khallal, Al-Sunnah, Ed: Dr. ‘Athiyyah al-Zahrani, Riyadh: Dâr al-Râyah, Cet. I, 1410 H, juz III, hlm. 81. Dalam catatan kaki kitab ini disebutkan bahawa atsar ini sanadnya sahih dan mazhab ahlus sunnah memandang wajibnya mengangkat Imam (khalifah) yang memelihara kemaslahatan masyarakat.
[3] Ibnu Mas’ud al-Baghawi, Syarh al-Sunnah, Beirut: Al-Maktab al-Islami, Cet. II, 1403 H, juz X, hlm. 61.
Sumber: Cinta Quran Centre
#kewajipankhalifah #perananulama #kepemimpinan #tanggungjawabpemimpin