[Nafsiyah] Ummatan Wahidah
Penulis: Faizah Rosyidah
Sesungguhnya potensi yang dimiliki umat ini untuk bersatu sangatlah banyak. Mengimani Allah SWT (tauhid) adalah pangkal dari semua potensi persatuan umat. Umat memiliki Allah yang satu. Allah turunkan risalah untuk mengatur hidup manusia melalui kitab yang satu (Al-Quran). Risalah ini dibawa oleh nabi yang satu (Muhammad SAW). Ketika Umat menyembah Allah menghadap arah yang satu (Kaabah), umat diminta untuk hanya takut dan taat pada perintah pemimpin yang satu—iaitu selama masih dalam rangka taat pada Allah SWT dan tidak menyelisihi-Nya.
Inilah tauhid yang telah menyatukan kaum muslim di mana pun mereka berada, apa pun ras dan suku bangsanya, serta apa pun pilihan politiknya. Jila telah memiliki akidah yang sama, maka mereka bersaudara dan diperintahkan untuk bersatu padu di atas ikatan persaudaraan ini.
Lebih luas lagi, sesungguhnya Islam telah menunjukkan bahawa dunia boleh disatukan seluruhnya dengan sistem Islam, meskipun di dalamnya terdapat berbagai macam perbezaan. Bukankah Rasulullah telah berjaya menyatukan jazirah Arab yang terdiri daripada berbagai agama, adat, dan kebudayaan dalam kesatuan syariat Islam?!
Dalam hal ini Rasulullah menggunakan kata ummatan wahidah dalam Piagam Madinahnya yang masyhur. Objek piagam tersebut adalah suku-suku dan kaum yang belum memeluk Islam, termasuk orang-orang Yahudi dan Nasrani di Madinah. Adapun maksud dari ummatan wahidah dalam Piagam Madinah tecermin dalam kalimat berikut, “Bahawa bilamana timbul di antara kamu perselisihan tentang sesuatu masalah, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan kepada Muhammad SAW.” (Sirah Ibnu Hisyam jilid II, hal. 501)
Ertinya, Rasulullah SAW dalam Piagam Madinahnya menyatukan berbagai kabilah, ras, bahkan berbagai agama dengan sistem Islam. Meski disatukan dalam sistem Islam, dalam masalah akidah dan ibadah, non muslim diberikan hak dan kebebasan melaksanakan agama mereka sesuai keyakinan mereka masing-masing. Di luar masalah tersebut, kedudukan mereka sebagai warga negara, hak, dan kewajipan mereka adalah sama dengan kaum muslim.
Sementara untuk internal kaum muslim sendiri, sangat banyak kita temukan perintah dari Allah dan Rasul-Nya agar kita bersatu, saling menguatkan antara satu sama lain, tidak boleh terpecah-belah, apatah lagi saling bermusuhan.
Allah berfirman, “Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” [TMQ al-Hujurat (49): 10]
“Sesama orang mukmin itu bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan.” (HR Bukhari)
“Tidak beriman seorang di antaramu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim)
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih-mengasihi, sayang-menyayangi, dan santun-menyantuni, bagaikan satu tubuh yang jika satu anggotanya menderita sakit, maka menderita juga keseluruhan tubuhnya.” (HR Muslim)
Oleh kerana itu, tidak sepatutnya sesama muslim saling bermusuhan, saling membenci, saling mendengki, dan saling menjatuhkan. Sebaliknya, sesama muslim hendaklah saling menguatkan, mempererat persaudaraan, berkasih sayang, dan bersatu-padu dalam menjalankan risalah Islam dan mendakwahkannya. Lebih-lebih lagi bagi para pengemban dakwah Islam yang sangat menginginkan persatuan umat ini.
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan kurnia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” [TMQ Ali Imran (3): 103]
Apabila berlaku perbezaan, maka ingatlah bahawa persamaan kita lebih banyak daripada perbezaannya. Mengingat hal ini dapat mencegah pertentangan di antara umat, terutama umat muslim.
Persatuan adalah fitrah bagi manusia. Persatuan sangatlah mahal harganya, kerana persatuan adalah anugerah dari Allah. Allah SWT berfirman, “Dan jika mereka (orang kafir) hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memberikan kekuatan kepadamu dengan pertolongan-Nya dan dengan (dukungan) orang-orang mukmin, dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, nescaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah Telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [TMQ al-Anfal (8): 62-63]
Wallahualam.
#nafsiyah #umatislam #ummatanwahidah #kesatuanumat