YANG LEBIH JAHAT DARI “SEKADAR” MEMBAKAR AL-QURAN
Oleh: Ustaz Arief B. Iskandar
AL-QURAN kembali dibakar. Membuat hati setiap Muslim ikut terbakar. Tentu jika mereka masih memiliki setitik iman dan dalam keadaan sedar.
Kali ini pelaku pembakaran al-Quran mulia tersebut seorang ahli politik pencundang kafir dari Sweden. Dunia Islam terus marah. Kaum Muslim di seluruh dunia layak dan wajib murka. Tak boleh sekadar berdiam diri. Apalagi sampai tidak peduli. Ketika di hadapan mereka kaum kafir berkali-kali menistakan dan merendahkan al-Quran yang suci.
Namun demikian, sikap marah dan murka kerana al-Quran suci dinistakan dan direndahkan–dengan cara dibakar atau cara apapun—seolah-olah menjadi tak bermakna. Ini kerana jika penistaan al-Quran dalam bentuk lain yang lebih jelas berlaku, namun tidak pernah ditanggapi. Situasi seumpama ini sebenarnya sudah lama terjadi.
Sebagaimana difahami, al-Quran bukan sekadar kumpulan lembaran kertas berbentuk mushaf yang bertuliskan firman Allah SWT dengan menggunakan bahasa/tulisan Arab. Al-Quran adalah kitab petunjuk dan kitab hukum yang di dalamnya berisi seluruh konsep dan aturan yang diperlukan dan diperlukan oleh seluruh manusia, tak hanya kaum Muslim.
Faktanya, sebagai kitab petunjuk dan kitab hukum, al-Quran sesungguhnya sudah lama dinistakan dan direndahkan oleh kaum Muslim. Terutama oleh para penguasa mereka. Buktinya, petunjuk hidup dan aturan hukum untuk mengatur kehidupan kaum Muslim saat ini bukan diambil dari al-Quran, tetapi dari ideologi dan peradaban Barat sekular.
Dalam pengaturan ekonomi, para penguasa Muslim–sebagaimana para penguasa di Barat–mengambil sistem ekonomi kapitalis-liberal yang digagas oleh Adam Smith, David Ricardo, John Maynard Keynes dan para ahli ekonomi Barat kapitalis lainnya. Bukan sistem ekonomi Islam yang digali dari al-Quran.
Dalam bidang politik, para penguasa Muslim–sebagaimana para penguasa Barat–menerapkan sistem politik demokrasi moden yang digagas oleh Montesquieu, John Locke, JJ Rousseau, dan lain-lain. Bukan sistem politik Islam yang digali dari al-Quran.
Dalam bidang perundangan, para penguasa dan kaum Muslim juga menerapkan hukum-hukum Barat sekular yang digagas Imanuel Kant, Hugo De Groot, dan lain-lain. Bukan hukum-hukum Islam yang digali dari al-Quran.
Maknanya, jika benar kita marah dan murka tatkala mushaf al-Quran dihinakan dan dinistakan (dibakar, dilemparkan ke almari, diduduki atau diinjak-injak, dll), sepatutnya kita jauh lebih marah dan lebih murka saat isi/kandungan al-Quran yang berupa petunjuk dan aturan hidup manusia dicampakkan dan tidak diterapkan secara total dalam kehidupan kaum Muslim, sebagaimana saat ini.
Dalam hal ini menarik apa yang dinyatakan oleh Joseph Brodsky–seorang penyair, pengkritik dan Penerima Anugerah Nobel (1987) dari Rusia–ketika dia menyatakan, “Ada kejahatan yang lebih mengerikan dari sekadar membakar buku. Salah satunya adalah tidak membaca buku.”
Bagi Brodsky, tindakan mencampakkan buku–dengan enggan membaca buku–adalah tindakan kejahatan yang lebih kejam dari sekadar membakar buku.
Al-Quran tentu bukan buku. Namun, bagi seorang Muslim, al-Quran tentu lebih dari sekadar buku. Al-Quran adalah kitab suci sekaligus pedoman hidup. Ia berisi sekumpulan petunjuk, aturan dan hukum-hukum yang–jika diamalkan dan diterapkan dalam kehidupan–akan menjadi sumber kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.
Dalam Islam, membakar al-Quran–tentu dengan tujuan penistaan–memang merupakan jenayah dan bentuk kejahatan. Pelakunya layak dikenakan tindakan dan dihukum dengan hukuman tegas. Namun demikian, mencampakkan petunjuk, aturan dan hukum-hukum al-Quran jauh lebih jahat dari “sekadar” membakar al-Quran. Sebabnya, efek dari tindakan mencampakkan petunjuk, aturan dan hukum-hukum al-Quran juga jauh lebih dahsyat dari “sekadar” membakar mushaf al-Quran. Efek dahsyatnya tidak lain adalah rosaknya tatanan kehidupan umat manusia secara global sebagaimana yang berlaku saat ini, yang terbukti telah menciptakan pelbagai kesengsaraan hidup manusia di dunia dan pastinya mendatangkan murka dan azab Allah SWT di akhirat.
Alhasil, jika demikian, mari tunjukkan juga kemarahan kita–bahkan dengan kadar yang paling maksima; misalnya dengan demonstrasi besar-besaran di seluruh dunia–saat al-Quran dicampakkan hukum-hukumnya, digantikan dengan hukum-hukum sekular buat manusia, sebagaimana sudah berlangsung puluhan tahun, paling tidak sejak Khilafah Islam terakhir di Turki diruntuhkan tahun 1924, hingga saat ini.
Mari kita terus menuntut dan mendesak para penguasa Muslim untuk segera menerapkan hukum-hukum al-Quran secara kaaffah dalam seluruh aspek kehidupan, sekaligus mencampakkan hukum-hukum sekular yang sudah terbukti hanya menimbulkan aneka kemudaratan bagi manusia di seluruh dunia.
Mari kita tunjukkan kepada dunia kemarahan yang sesungguhnya!
Wa maa tawfiiqii illaa bilLaah ‘alayhi tawakkaltu wa ilayhi uniib.