Menyucikan Diri pada Bulan Suci
Penulis: Ustaz Arief B. Iskandar
Hal yang paling menonjol dilakukan oleh kaum muslim sepanjang Ramadhan adalah tazkiyatun-nafs (penyucian diri). Bahkan, Ramadhan sering dijadikan sebagai momentum untuk menyucikan diri.
Dalam Al-Quran, tazkiyah an-nafs antara lain bermakna,
Pertama, menyucikan diri dari kemusyrikan dan kekufuran. Allah Swt. berfirman,
“Dialah Yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka.” (TMQ Al-Jumu’ah [62]: 2).
Maksud frasa yuzakkîhim (menyucikan mereka) dalam ayat di atas adalah menyucikan mereka dari najis dan kekufuran. (Ath-Thabari, Tafsir ath-Thabari, 28/93).
Kedua, menyucikan diri dari keburukan-keburukan amal perbuatan, yakni dengan melakukan amal-amal soleh. (Lihat Tafsir Abi as-Sa’ud, 8/247).
Ketiga, menjalankan ketaatan kepada Allah Taala. Allah Swt. berfirman,
“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.” (TMQ Asy-Syam [91]: 6–9).
Menurut Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya, Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, frasa man zakkâha maksudnya adalah siapa yang disucikan jiwa oleh Allah Swt. dengan ketaatan kepada-Nya.
Keempat, tidak memiliki dosa atau bertaubat dari dosa-dosa. Allah Swt. berfirman,
“Musa berkata, ‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang suci?’.” (TMQ Al-Kahfi [18]: 74).
Dalam kitab tafsir yang sama, Imam Al-Qurthubi menyatakan bahawa kata zakiyyah dalam ayat di atas adalah orang yang tidak berdosa sedikit pun. Akan tetapi, boleh juga orang yang berdosa, lalu dia bertaubat dari dosanya.
Kelima, keimanan dan ketaatan menyeluruh kepada Allah Taala. Allah Swt. berfirman,
“Itu adalah balasan bagi orang yang menyucikan diri.” (TMQ Thaha [20] 76).
Ibnu Katsir menyatakan, man tazakkâ pada ayat di atas maknanya adalah yang menyucikan dirinya dari dosa, keburukan dan syirik. Dia menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dan senantiasa mengikuti segala perbuatan baik sebagaimana yang dicontohkan oleh para rasul.
Semoga kita dijadikan oleh Allah Swt. memiliki jiwa-jiwa yang suci, yakni jiwa-jiwa yang selalu taat kepada-Nya dan jauh dari segala dosa. Amin.
Wa mâ tawfîqî illâ billâh wa ’alayhi tawakkaltu wa ilayhi unîb.