KHILAFAH ITU BUKAN TUJUAN DAKWAH, NAMUN THARIQAH MEWUJUDKAN KEHIDUPAN ISLAM, ITULAH TUJUAN DAKWAH
Oleh: Ustaz Adi Victoria
Sejak kali pertama duduk halaqah untuk dibina dalam gerakan dakwah hingga sampai saat ini, tidak pernah ditanamkan kepada kami bahawa khilafah itu adalah tujuan dari dakwah yang dilakukan. Adapun tujuan dari dakwah adalah untuk memulakan kembali kehidupan Islam.
دعوة لاستئناف الحياة الإسلامية
Yakni dakwah untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam.
Kehidupan Islam adalah kehidupan yang diatur dengan hukum syariah Islam secara menyeluruh pada setiap aspek kehidupan. Namun secara fakta, tidak mungkin hal tersebut boleh diwujudkan tanpa adanya suatu sistem yang menerapkannya, itulah yang disebut sebagai sistem khilafah. Jadi khilafah bukanlah TUJUAN (GHAYAH), namun METODE (THARIQAH) untuk mewujudkan terwujudnya kehidupan Islam tersebut.
Bahkan, tanpa adanya khilafah, tidak akan terwujud yang namanya penjagaan terhadap urusan agama (Islam) dan umatnya. Misalnya:
1. Tanpa adanya khilafah, orang mudah untuk murtad (al muhaafazhatu ‘alaa al-diin)
2. Tanpa adanya khilafah, nyawa umat Islam khususnya begitu mudah ditumpahkan oleh orang kafir. Bahkan secara umum pembunuhan begitu mudah terjadi. (al-muhaafazhatu ‘alaa an nafs)
3. Tanpa adanya khilafah, khamr yang jelas haram namun begitu mudah diperjual-belikan. Padahal khamr itu induk (ibu) keburukan, merosakkan akal.(al-muhaafazhatu ‘alaa al-‘aqli)
4. Tanpa adanya khilafah, tindakan zina banyak terjadi, akibatnya hamil diluar nikah sangat banyak. (al-muhaafazhatu ‘alaa al-nasl)
5. Tanpa adanya khilafah, tidak ada yang menjaga harta umat, sumber daya alam dijarah oleh kuasa dan kelompok asing. (al-muhaafazhatu ‘alaa al-maal)
6. Tanpa adanya khilafah, tidak ada yang dapat menjaga kehormatan orang lain, umat Islam begitu dihinakan oleh umat lainnya. (al-muhaafazhatu ‘alaa al-karaamah)
7. Tanpa adanya khilafah, tidak ada yang dapat mengaja keamanan orang lain, kehidupan menjadi tidak tenteram. Perbuatan jenayah sering meningkat. (al-muhaafazhatu ‘alaa al-amni)
8. Tanpa khilafah, penerapan syariat Islam tidak dapat dilakukan secara kaffah. (al-muhaafazhatu ‘alaa al-dawlah)
Inilah pentingnya keberadaan khilafah, untuk menjadi penjaga terhadap agama dan umat ini. Maka sangat menghairankan kalau ada orang “alergik” terhadap dakwah menyampaikan wajibnya khilafah.
Sama seperti kehairanan yang dialami oleh Hanzhalah bin Ar-Rabi’ ra., jurutulis Rasulullah saw, tatkala melihat kacau bilau untuk menyingkirkan khalifah Uthman bin Affan ra. oleh orang-orang yang termakan hasutan Abdullah bin Saba’, dia pernah melantunkan syair demikian:
عجبت لما يخوض الناس فـيه * يرومون الخلافة أن تزولا
Aku hairan dengan apa yang sedang menyibukkan orang-orang itu, mereka sangat berharap agar khilafah segera lenyap.
ولو زالت لزال الخير عنـهم * ولاقوا بعدها ذلا ذلـيلا
Sungguh jika saja ia lenyap maka lenyap pula kebaikan yang ada pada mereka, dan mereka akan menghadapi penghinaan sesudah itu.
وكانوا كاليهود أو النصارى * سواء كلهم ضلوا السبيلا
Dan mereka akan menjadi seperti kaum Yahudi dan Nasrani, setiap mereka sama-sama berada di jalan yang sesat.
Imam Al Ghazali mengatakan:
الدين والسلطان توأمان، الدين أس والسلطان حارس، فما لا أس له فمهدوم وما لا حارس له فضائع
“Agama dan kekuasaan (ibarat) saudara kembar. Agama adalah asas dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu yang tanpa asas (dasar) nescaya runtuh dan sesuatu tanpa penjaga nescaya lenyap” (Imam al-Ghazali, al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd).
Khalifah ‘Uthman bin Affan رضي الله عنه berkata :
إن الله ليزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآن
“Sesungguhnya, Allah akan benar-benar mencegah dengan kekuasaan, yang tidak dapat dicegah oleh Al Quran.” (Syaikh Muhammad Husain Abdullah, At thariqah asy syar’iyyah Li isti’nafi al hayah al islamiyyah)
Imam Al Mawardi juga mengatakan :
اﻹﻣﺎﻣﺔ: ﻣﻮﺿﻮﻋﺔ ﻟﺨﻼﻓﺔ اﻟﻨﺒﻮﺓ ﻓﻲ ﺣﺮاﺳﺔ اﻟﺪﻳﻦ ﻭﺳﻴﺎﺳﺔ اﻟﺪﻧﻴﺎ
“Imamah/khilafah adalah sebutan bagi pengganti kenabian dalam menjaga agama (Islam) dan memelihara urusan dunia.”
Wallahu a’lam bisshowab.