[Pemikiran Politik Islam] Lingkungan Politik (Bahagian 2/2)
Penulis: Syeikh Abdul Qadim Zallum
[Sambungan dari Bahagian 2/2]
Setiap orang yang berkeinginan menjadi ahli politik, serta mampu beraktiviti untuk merealisasikan lingkungan politik dan berfungsi di dalamnya perlu memenuhi empat persyaratan. Pertama, mempunyai informasi mengenai berita dan aktiviti politik. Kedua, melakukan analisis tentang berita dan aktiviti politik tersebut. Ketiga, menyampaikan pendapatnya tentang berita dan aktiviti politik kepada umat. Keempat, pendapatnya tersebut hendaklah berasal atau berlandaskan suatu sudut pandang tertentu tentang kehidupan.
Tanpa keempat hal tersebut, lingkungan politik Islam tidak mungkin dapat direalisasikan dan seseorang tidak mungkin mampu beraktiviti di dalamnya. Sementara itu, usaha mengikuti berita dan peristiwa politik merupakan langkah pertama dalam membangun lingkungan politik, kesedaran politik, atau penyampaian pendapat dari suatu sudut pandang yang khas. Semua ini akan membuat pelaksanaan langkah pertama itu menjadi sempurna.
Sudah tampak jelas bahawa negara-negara kafir tidak hanya menghapuskan negara Islam, tetapi juga mengisi benak kaum muslim dengan keengganan terlibat dalam masalah politik. Mereka juga menjauhkan kaum muslim dari usaha mengikuti berita dan peristiwa politik. Begitu juga, berbagai lingkungan politik selalu menutup kesempatan bagi siapa saja yang datang membawa pendapat yang berlandaskan sudut pandang Islam atau paling tidak kesempatan tersebut tidak dibuka secara sukarela.
Demikian pula, orang-orang yang mengikuti berita dan peristiwa politik, lalu berusaha menyampaikan pendapat yang islami, akan merasakan bahawa kesempatan tersebut tertutup baginya, sekalipun hal ini terjadi di negara-negara yang menyebut diri mereka sebagai pelopor kebebasan.
Dengan demikian, permasalahannya bukan sekadar usaha mengikuti dan menganalisis berita politik atau menyampaikan pendapat sesuai sudut pandang yang khas. Akan tetapi ada kewajipan untuk masuk ke dalam lingkungan politik di negeri-negeri kaum muslim, sekalipun bertentangan dengan keinginan penguasa lingkungan politik dan sangat sukar untuk dilakukan.
Suatu masalah yang perlu diperbincangkan dan menjadi perhatian kaum muslim adalah penciptaan lingkungan politik Islam di negeri-negeri kaum muslim. Lingkungan politik Islam tentu akan muncul saat negara Islam ditegakkan. Namun demikian, memasuki lingkungan-lingkungan politik sebelum negara Islam ditegakkan wajib dilakukan dengan berjuang merealisasikan Islam dalam kehidupan, khususnya dalam lingkungan politik. Dengan demikian, berjuang memasuki lingkungan politik di negeri-negeri kaum muslim merupakan permasalahan mendasar yang mesti dilaksanakan para aktivis politik Islam.
Lingkungan politik di negeri-negeri kafir merupakan lingkungan yang korup dan rosak. Lingkungan politik mereka berfungsi sebagaimana slogannya, “Tujuan menghalalkan segala cara”, serta karakteristik dan metodenya menganut prinsip-prinsip Machiavelli. Lebih lanjut, egoisme dan kepentingan peribadi tercermin dalam diri para ahli politiknya. Dengan demikian, tidak ada satu pun kebaikan yang dapat kita tiru. Kita sebaliknya berkewajipan menyelamatkan negeri dan rakyat mereka.
Sementara itu, lingkungan politik di negeri-negeri kaum muslim bukan hanya mengalami kerosakan sebagaimana lingkungan politik Barat. Akan tetapi juga berisi agen-agen Barat dan para peniru yang terpesona dengan sistem dan politik kufur, serta penuh dengan rasa antipati, kebencian, dan keengganan terhadap Islam.
Oleh sebab itu, ahli politik muslim bukan hanya wajib memasuki lingkungan politik mereka, tetapi juga perlu menghancurkan lingkungan politik korup tersebut dan menggantinya dengan lingkungan politik Islam. Untuk menghancurkan lingkungan politik tersebut memang boleh dilakukan dari luar lingkungan, tetapi berjuang di dalam lingkungan politik akan lebih mudah dan lebih produktif.
Walaupun para ahli politik yang berada dalam lingkungan politik di negeri-negeri kaum muslim tidak berpengaruh secara signifikan dibandingkan dengan para ahli politik Barat, tetapi mereka dianggap berpengaruh kuat di dalam negeri-negeri kaum muslim. Mereka bagaikan raksasa di mata rakyatnya kerana mereka adalah para penguasa, pemimpin-pemimpin kelompok, atau orang- orang yang berpengaruh dalam kehidupan rakyat.
Lagi pula, mereka memiliki kecerdasan, pengetahuan, dan kepakaran yang cukup untuk membuat mereka lebih dari rakyatnya. Mereka juga mempunyai kepandaian dan kemampuan melakukan improvisasi untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai keadaan. Jadi, mereka akan melakukan solat lima waktu dalam saf terdepan di masjid apabila majoriti masyarakat beragama Islam.
Sangat mungkin orang-orang seperti ini menjadi orang pertama dalam lingkungan politik yang korup itu, sekaligus menjadi pemimpin pergerakan politik. Dengan demikian, sangat jelas bahawa orang-orang itu tidak memiliki kejujuran dan pandai bersembunyi di sebalik topeng kemunafikan. Mereka juga sangat pandai membuat kerosakan dan sangat berpengalaman dalam memimpin negara, serta menjatuhkan ahli politik yang jujur.
Apabila Negara Islam berjaya ditegakkan dan orang- orang seperti ini masih ada, barangkali mereka akan menunjukkan kejujuran dan pemahamannya sehingga mereka dapat dijadikan pemimpin dalam lingkungan politik. Oleh sebab itu, pengaruh mereka mesti diakhiri demi melindungi diri kita dari ancaman mereka.
Dalam sejarah kontemporer, kita dapat melihat bahawa ketika Amerika berusaha menyingkirkan kekuasaan Britain atas beberapa wilayah kaum muslim, mereka berusaha menghapus lingkungan politik lama yang ada di wilayah tersebut. Amerika berusaha menyerang lingkungan politik yang ada di Mesir dan Irak dengan melakukan berbagai pembunuhan, penahanan, dan ancaman terhadap kehidupan rakyat.
Usaha tersebut dalam beberapa perkara mampu melemahkan ancaman dan mengurangkan bahayanya, tetapi tidak mampu menghapuskan sepenuhnya lingkungan politik tersebut. Dengan demikian, lingkungan politik lama tetap hidup di Mesir dan Irak, walaupun tersembunyi laksana api dalam sekam. Hal ini terjadi akibat Amerika dan agen-agennya tidak berupaya merekayasa lingkungan politik baru untuk menggantikan lingkungan yang akan dihapuskan.
Dengan mengabaikan adanya usaha-usaha dari luar untuk menghapuskan suatu lingkungan politik dan mencegahnya timbul ke permukaan, suatu rejim tidak akan dapat menghapus lingkungan politiknya. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahawa lingkungan politik merupakan “saudara kembar” setiap pemerintahan. la bagaikan bayangan pada setiap sosok manusia.
Oleh sebab itu, di mana pun terdapat suatu pemerintahan, suatu lingkungan politik akan muncul. Setelah kedatangan Rasulullah SAW di Madinah, lingkungan politik diwujudkan dengan menerima Islam dan kesediaan umat untuk mendukungnya. Lingkungan politik lama yang dipimpin oleh ‘Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya jatuh.
Ketika Rasulullah SAW menaklukkan Mekah, beliau SAW menghapuskan lingkungan politik yang ada dan menghilangkan pengaruh orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kaum muslim menggantikan kepemimpinan mereka sehingga lingkungan politik yang baru berhasil dibangun dan yang lama berhasil dimusnahkan.
Negara Islam perlu menghapuskan semua lingkungan politik dengan segala cara, di antaranya dengan menyingkirkan para pemimpinnya, memotong sumber penghidupan mereka, atau menyingkirkan institusi politik dan moral mereka. Hal ini sesuai dengan tuntutan hukum alam dan diperlukan dalam rangka menegakkan negara Islam dan menyingkirkan negara kufur.
Namun demikian, hal ini tidaklah mencukupi sehinggalah tegaknya lingkungan politik Islam yang terdiri dari para ahli politik muslim yang jujur dan mempunyai kesedaran, bukan ahli politik yang munafik. Apabila para ahli politik muslim yang jujur dan memiliki kesedaran mengehadkan aktiviti mereka hanya pada usaha mengikuti dan menganalisis berbagai berita dan peristiwa politik, mereka tidak akan mampu membangun lingkungan politik.
Orang-orang yang pernah terlibat dalam lingkungan politik kufur dan terbukti mampu bertahan hidup akan lebih mampu memimpin, menciptakan, dan memasuki berbagai lingkungan politik. Dengan demikian, bibit kehancuran negara sudah tercipta sejak awal negara itu berdiri. Akibatnya, para ahli politik muslim yang jujur dan memiliki kesedaran tidak dapat masuk ke dalam lingkungan politik di negara Islam. Bahkan lebih jauh lagi, para ahli politik munafik itu terdorong untuk membangun dan memimpin lingkungan politik baru.
Para ahli politik muslim yang jujur dan memiliki kesedaran tersebut perlu melangkah lebih jauh lagi. Mereka perlu mengikuti berita dan peristiwa politik, menganalisisnya, menyampaikan pendapatnya berdasar sudut pandang Islam, serta berusaha memasuki lingkungan politik. Jika tidak demikian, dikhuatiri mereka akan terus berdiri di luar arena, walaupun arena tersebut adalah arena yang mereka bangun dan tertutup hanya untuk golongan mereka.
Permasalahan kaum muslim yang jujur dan memiliki kesedaran pada saat ini bukan lagi untuk menjadi ahli politik. Permasalahan mereka saat ini adalah usaha membangun lingkungan politik Islam. Tanpa memedulikan berapa lama waktu yang diperlukan (panjang atau pendek), negara Islam pasti berdiri.
Ketika negara Islam berjaya ditegakkan, dikhuatiri orang-orang yang terlibat dalam lingkungan politik sebelumnya beserta para ahli politik korup akan mendahului kita dengan membangun lingkungan politik Islam yang mereka ciptakan dan terdiri atas kelompok mereka saja. Demikian pula, sebelum negara Islam didirikan, para ahli politik muslim yang jujur hidup sebagai masyarakat pinggiran.
Walaupun mempunyai kemampuan untuk menegakkan lingkungan politik Islam atau memasuki lingkungan politik kufur dengan tujuan untuk mengubahnya, mereka akan tetap berada di pinggiran dan kehadirannya tidak bermakna dan tidak efektif.
Para ahli politik muslim perlu hadir dalam lingkungan politik dengan segenap penderitaan dan kesulitannya, serta masa depan yang penuh harapan dan kejayaan. Ini mewajibkan adanya muslim yang jujur dan sedar politik (menyedari pentingnya menjadi ahli politik), khususnya menyedari kehadiran kelompok mereka sebagai parti politik, bukan organisasi gerakan Islam semata.
Memang benar Rasulullah SAW hanya membangun lingkungan politik di Madinah, setelah negara Islam ditegakkan. Memang benar bahawa tekanan dan penindasan para penguasa di negeri-negeri kaum muslim terhadap para syabab (pemuda aktivis) parti politik telah membuat muslim yang jujur dan sedar politik tidak dapat bergerak secara leluasa dalam politik.
Memang benar bahawa majoriti muslim yang jujur dan sedar politik bukan berasal dari kelas yang berpengaruh dan berpendidikan, serta bukan pula dari kelompok yang sudah matang dan berpengalaman. Namun, sejarah menunjukkan bahawa sahabat Nabi SAW di Mekah tetap berupaya memasuki arena politik. Perdebatan antara Abu Bakar ra. dan para pemimpin Quraisy mengenai konflik bangsa Parsi dan Romawi merupakan usaha kaum muslim memasuki lingkungan politik.
Begitu pula ucapan Umar bin Khattab ra. kepada orang-orang Mekah, “Begitu jumlah kami mencapai 300 orang, kami akan mengusir kalian dari Mekah atau kalian mengusir kami.” Ucapan ini juga merupakan suatu contoh perjuangan untuk mengurus kepentingan umat. Tekanan yang keras dan penindasan bangsa Quraisy terhadap kaum muslim tidak perlu dibahas.
Abu Bakar ra. pernah memikul pakaian-pakaian terpakai ke pasar untuk dijual. Tidak seorang pun dari para sahabat Rasul SAW berasal dari kelas yang berpengaruh, kecuali Hamzah bin Abdul Muthallib dan Umar bin Khattab. Dari kelompok masyarakat mana pun mereka (baik masyarakat golongan atas mahupun bawah), apabila menjadi seorang muslim, mereka kehilangan status sosial tersebut.
Begitu juga majoriti para sahabat masih berusia muda. Terbukti, status sosial dan usia muda tersebut tidak menghalang mereka menjadi sosok yang cerdas. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi seorang muslim yang jujur dan sedar politik untuk tidak berusaha menjadi seorang ahli politik dan berupaya memasuki lingkungan politik.
Waktu berjalan cepat dan mesti dikalahkan. Para musuh dan lawan Islam sangat memusuhi umat islam yang jujur dan sedar politik. Oleh sebab itu, para ahli politik muslim yang jujur mestilah lebih kuat dalam pemikiran dan ideologi yang diemban, demikian pula kuat dalam akidahnya.
Mereka mesti bersikap berani sebagaimana pemahaman dan kesedaran mereka. Jika tidak, kemenangan boleh beralih ke pihak lain, walaupun mereka telah merintis jalan kemenangan. Bahkan, mereka akan tetap jauh dari pertarungan sejati dalam kehidupan.
Dengan demikian, usaha mengikuti berita, menganalisisnya, menyampaikan pendapat mengenai berita tersebut, serta memastikan pendapat tersebut selalu berdasarkan sudut pandang tertentu (Islam), akan menjadikan mereka sebagai ahli politik muslim yang jujur. Mereka akan mewakili umat pada masa sekarang dan masa depan, serta mendatangkan harapan bagi umat.
Sumber: Syeikh Abdul Qadim Zallum, Pemikiran Politik Islam, Upaya Membumikan Politik Sebagai Mainstream Gerakan.