[Hadits Shiyam] Keterikatan pada Hukum-Hukum Syarak, Merealisasikan Autoriti Hukum Syarak dan Menentukan Standard Perbuatan dalam Kehidupan (Bahagian 3/3)
Islam tidak mencukupkan tuntutan agar hanya terdapat keterikatan dengan syarak dalam kehidupan individu dan interaksi di antara mereka sehari-hari. Namun di dalam nas-nas yang amat jelas, Islam juga menuntut agar ada pemerintahan berdasarkan syarak. Allah SWT berfirman sebagai seruan kepada Rasulullah SAW, “Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (TMQ Al Maidah: 48).
Itu pun belum cukup. Bahkan ada nas-nas dengan memberi ancaman kepada orang-orang yang menerapkan hukum selain hukum syarak. Firman Allah SWT, “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (TMQ Al Maidah: 44).
Orang yang berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah dengan adanya keyakinan bahawa perkara itu layak diterapkan, manakala hukum syarak pula dianggap tidak layak diguna-pakai, maka orang tersebut adalah kafir. Namun jika dia tidak mengiqtikadkan bahawa itu semua layak diterapkan dan Islam tidak layak diterapkan, maka dia termasuk bermaksiat.
Oleh kerana itu, Allah SWT berfirman dalam ayat berikutnya, “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang zalim.” (TMQ Al Maidah: 45).
Juga dalam ayat berikutnya, “Barang siapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang fasik.” (TMQ Al Maidah: 47).
Bukan sekadar itu, bahkan Islam memerintahkan kaum muslim agar memerangi penguasa dan mengangkat pedang di hadapan mereka apabila mereka menerapkan hukum kafir. Demikian pula apabila telah terlihat jelas kekufurannya, seperti dalam hadis Ubadah bin Shamit tentang baiat, “Juga agar kami tidak merebut kekuasaan dari seorang pemimpin, kecuali (sabda Rasulullah), ‘Kalau kalian melihat kekufuran yang tampak secara terang-terangan dan dapat dibuktikan berdasarkan dalil dari Allah (Al-Wahyu).’”
Menurut Thabrani dengan lafaz, “Kekufuran yang jelas.” Sedangkan dalam riwayat lain, “Kalau kalian melihat kemaksiatan kepada Allah secara terang-terangan.”
Menurut riwayat Ahmad, “Tidakkah kita memerangi mereka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, selama mereka melakukan solat.”
Dalam hadis Malik, “Dikatakan, ‘Ya Rasulullah, tidakkah kita akan mengangkat pedang?’ Beliau menjawab, ‘Jangan, selama mereka masih menegakkan solat.’” Sedangkan dalam riwayat lain, “Kami mengatakan, ‘Ya Rasulullah, tidakkah kita memerangi hal yang demikian itu?’ Beliau menjawab, ‘Jangan, selagi mereka masih menegakkan solat.’”
Jadi, makna hadis-hadis ini adalah agar kita merebut kekuasaan dari mereka apabila kita melihat kekufuran yang nyata. Termasuk agar kita mengangkat pedang dan memerangi mereka apabila mereka tidak menegakkan solat. Menegakkan solat adalah kiasan dari penerapan hukum Islam. Dahulu, penguasa yang tidak memiliki kekuasaan dalam persoalan harta disebut dengan Waliyus Shalat, sedangkan orang yang berkuasa dalam persoalan harta disebut Waliyus Shadaqat.
Oleh kerananya, dalam keadaan apa pun, berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah SWT sebenarnya merupakan kekufuran yang amat jelas. Makna hadis tersebut adalah agar kaum muslim merebut kekuasaan dan memerangi dengan pedang terhadap orang yang melakukannya.
Dalil-dalil ini menunjukkan bahawa Islam memerintahkan agar memerangi orang yang menerapkan hukum selain Islam, dengan perintah memerangi penguasa tatkala tampak jelas kekufurannya. Termasuk perintah memerangi para pemimpin yang tidak menegakkan solat, iaitu mereka yang tidak menerapkan hukum berdasarkan apa yang diturunkan Allah.
Dengan demikian, tampak begitu besar kepedulian syarak terhadap penerapan pemerintahan berdasarkan hukum syarak. Syarak telah memerintahkan dengan perintah yang pasti.
Bukan sekadar itu, bahkan syarak melarang berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah dengan larangan yang pasti. Itu pun belum cukup, syarak juga memerintahkan kaum muslim untuk memerangi para penguasa apabila mereka berhukum dengan selain syarak, yakni dengan mengangkat senjata di hadapan mereka hingga mereka kembali kepada hukum syarak. Dengan demikian, penerapan hukum syarak tidak hanya terbatas pada kehidupan individu dan interaksi sehari-hari di antara individu-individu tersebut. Akan tetapi juga mencakup aktiviti penerapan semua hukum syarak.
Jelaslah bahawa penerapan hukum syarak diwajibkan bagi umat dan para penguasa seperti halnya diwajibkan bagi seluruh kaum muslim. Tidak ada bezanya, baik rakyat jelata mahupun penguasa, semua perlu terikat pada hukum syarak. Dengan demikian, akan terwujud nilai keterikatan kepada hukum (sebagai perundangan, pen.) di dalam landasan yang dipergunakan untuk membangun umat, negara, dan masyarakat.
Sumber: Hadits Shiyam