Larangan “silent treatment” pada Pasangan
Oleh: Ustazah Kholda Najiyah (Founder Salehah Institute)
Viral di alam maya, ada pasangan yang bercerai kerana tidak tahan diperlakukan “silent treatment” (tindakan diam diri sebagai respon konflik). Suami cenderung mendiamkan isteri, terutama ketika terjadi konflik. Perilaku seperti ini, ternyata banyak terjadi. Baik suami mahupun isteri, ada yang memilih diam dan tidak menyelesaikan masalah. Akibatnya, tidak ada resolusi konflik. Akurnya pun cenderung lama, boleh sampai berhari-hari dan bahkan berminggu-minggu dalam hubungan yang beku.
Pelaku “silent treatment”, enggan menjalin komunikasi dengan pasangannya. Bahkan sengaja mengabaikan. Tidak menjawab atau merespon ketika berbincang. Mendiamkan. Menghindari kontak mata. Tidak membalas chat. Tidak menjawab panggilan telefon. Lebih parah lagi, memblok semua akses komunikasi dan media sosial. Tidak mahu diajak membahas masalah. Bahkan bersikap playing victim alias menyalahkan pasangan atas sikap diamnya
Ketika berduaan pun, lebih asyik dengan gadjet masing-masing. Tidak bercakap. Hanya hadir secara fizikal, namun tidak membersamai secara emosional. Bila perilaku ini berlaku secara terus menerus, pasangan akan merasa diabaikan. Tidak terjalin hubungan romantik. Merasa kesepian, hingga lama-lama mati rasa.
“Silent treatment” dilakukan oleh pasangan atas banyak alasan. Ada yang kerana terlalu kecewa atau tidak puas terhadap pasangan. Pada awalnya hanya ingin meredakan emosi peribadi, tapi kemudian ego untuk menghangatkan hubungan semula. Sengaja diam untuk menghindari perdebatan dan pertengkaran hebat, namun enggan memulakan komunikasi. Atau yang parah, memang sengaja tidak mahu bertanggungjawab atas suatu masalah. Menghukum pasangan dengan mendiamkan dan mengasingkan mereka.
Tentu ini bukan sikap dan perilaku yang terpuji. Boleh merosakkan mental, membuat pasangan menderita dan berbahaya bagi kelangsungan hubungan. Kerana itu, perlu segera diatasi. Salah satu atau kedua belah pihak, hendaklah segera membuka diri untuk mula menjalin komunikasi. Maafkan diri sendiri dan maafkan pasangan. Buang rasa keinginan untuk terlalu menjaga citra diri. Redakan amarah dan turunkan ego dan emosi. Ingat, Islam melarang perilaku “silent treatment” yang secara psikologi telah menyakiti pasangan. Berikut alasannya:
- Hak pasangan untuk diperlakukan dengan baik, hormat, respek, penuh perhatian dan penghargaan.
Firman Allah SWT di dalam surah An-Nisa ayat 19 maksudnya, “ …dan bergaullah dengan mereka secara patut … “ bermakna mesti memperlakukan pasangan dengan cara yang baik. Ibnu Katsir menerangkan, “Yakni perbaguslah ucapan kalian kepada mereka, dan perbaguslah perbuatan kalian dan keadaan kalian sesuai kemampuan kalian, sebagaimana kalian menyukai hal itu dari mereka.” Jadi, bagaimana kita ingin diperlakukan, begitu pula perlakuan kita pada pasangan.
- Dianjurkan untuk bermusyawarah dalam membuat keputusan atau menyelesaikan masalah.
Firman Allah SWT dalam surah As-Syura ayat 38 maksudnya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan solat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
Ini merupakan anjuran agar kaum muslimin membiasakan diri bermusyawarah untuk mengambil keputusan. Termasuk jika ada masalah, dimusyawarahkan hingga ada solusi akhir. Jadi, jangan malah mendiamkan dan menghindar dari membicarakan masalah.
- Tidak boleh mendiamkan muslim lebih dari 3 hari.
Bayangkan jika ada suami isteri yang saling diam lebih dari tiga hari, pasti suasana rumah sangat kaku. Tidak nyaman. Menyebabkan penghuninya bosan dan tidak betah. Ini bahaya. Maka, buatlah kesepakatan, ketika berkonflik perlu segera berdamai lagi. Misalnya satu jam kemudian, perlu sudah berdamai. Lalu esok ketika suasana hati sudah membaik, kemarahan sudah mereda dan emosi turun, boleh dibincangkan lagi apa masalahnya dan bagaimana solusinya.
Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, dimana bila keduanya berjumpa, yang ini memalingkan pandangannya (dari yang lain) dan yang ini juga melakukan hal yang sama, maka yang terbaik dari keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam”. (HR Tirmidzi)
- Larangan memutus silaturahim,
Sengaja mendiamkan pasangan, apalagi memutus semua akses komunikasi, bertentangan dengan ajaran Islam untuk menjalin silaturahim. Jika dilakukan secara berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, boleh jadi putus silaturahim. Padahal Rasulullah Saw bersabda yang maksudnya: “Tidak akan masuk syurga orang yang memutus silaturahim.” (HR Bukhari & Muslim)
- Anjuran mendamaikan perselisihan.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujrat ayat 10 yang maksudnya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara kerana itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”
Bila ada teman atau saudara kita sesama Muslim berselisih saja, kita dianjurkan untuk saling mendamaikan. Apatah lagi jika kita sendiri yang berselisih, tentunya lebih utama jika berusaha untuk berdamai. Jika melakukan “silent treatment”, bagaimana perdamaian dapat terwujud. Oleh kerana itu, sudah sepatutnya keluarga muslim menjauhkan diri dari perilaku “silent treatment”.