Ramadhan, Kesempatan untuk Becermin dan Berubah
Penulis: Muslimah ash-Shami
Bulan Ramadhan bulan yang berkah, bulan yang kita rayakan dengan gembira, meskipun kita mengalami berbagai penderitaan, kesedihan, dan musibah. Bulan yang keberkahan dan keagungannya disebutkan dalam banyak ayat dan hadis, termasuk sabda Nabi Muhammad ﷺ tentang malam pertama Ramadhan.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika awal Ramadhan tiba, maka syaitan-syaitan dan jin dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Sedangkan pintu-pintu syurga dibuka, dan tidak satu pintu pun yang ditutup. Lalu ada seruan (pada bulan Ramadhan): Wahai orang yang menginginkan kebaikan, datanglah. Wahai orang yang ingin kejahatan, tahanlah dirimu. Pada setiap malam Allah SWT memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka.” (HR Tirmidzi).
Dari hadis tersebut tersirat, barang siapa yang mencari kebaikan, maka dia akan mencarinya dan berusaha untuk mendapatkannya, dan barang siapa yang menginginkan keburukan, maka dia akan mencarinya dan berusaha untuk mendapatkannya. Maksudnya, setiap orang bekerja sesuai dengan tujuan yang diharapkan dan diinginkannya.
Ramadhan adalah bulan kebaikan dan keberkahan, serta kesempatan besar untuk berjuang meraih kejayaan di dunia dan akhirat. Bulan ini adalah musim ketaatan dan ladang untuk berlumba-lumba dalam beramal soleh dan meraih ketakwaan demi meraih redha Allah, iaitu kejayaan sejati.
Bulan ini adalah bulan kebajikan yang istimewa, bukan hanya kerana bulan puasa dan ibadah, tetapi juga kerana bulan ini adalah kesempatan berharga untuk merenungkan hubungan kita dengan Allah dan mengevaluasi kembali arah hidup kita untuk berubah menjadi lebih baik, dan untuk mempertimbangkan tujuan sejati kita dan mendefinisikan makna kejayaan dalam hidup kita, bukan dari perspektif duniawi, tetapi dari perspektif agama, spiritual, dan moral.
Manusia terbagi menjadi dua jenis, yakni (1) mereka yang telah menetapkan tujuan atau sasaran mereka dan mereka tahu apa yang mereka inginkan dan apa yang akan mereka lakukan, dan (2) mereka yang tidak tahu bagaimana hari-hari mereka akan berlalu!
Hal ini juga terjadi saat Ramadhan: mereka yang telah menetapkan tujuan dan tahu apa yang mereka inginkan dari Ramadhan dan buah apa yang mereka harapkan untuk dipetik. Jenis lainnya adalah orang yang lalai, tidak peduli, dan lalai, yang tertarik pada berbagai gangguan yang tersebar selama Ramadhan dari saluran satelit dengan program-programnya yang melalaikan dan tidak berfaedah, dan yang membuang-buang waktu mereka di media sosial dan melepak dengan teman-temannya hingga fajar tanpa hasil, kemudian tidur sepanjang hari.
Di antara mereka adalah orang-orang yang berfikiran sempit yang memperlakukan orang lain dengan buruk dengan dalih bahawa mereka sedang berpuasa, yang tersesat dalam kesesatan dan pelanggaran hukum Islam seolah-olah puasa hanyalah menahan diri dari makan dan minum!
Hati-hatilah terhadap semua ini kerana hal itu merampas waktu terbaik dan tujuan terbaik kita. Marilah kita tetapkan tujuan kita untuk mengikuti jalan kejayaan dengan berjuang untuk mendapatkan pahala dan balasan serta meraih redha Allah Taala. Marilah kita mencari pertolongan-Nya, dan jangan sampai kita menjadi tidak berdaya dan tidak bersemangat. Orang yang dirampas adalah orang yang dirampas pahalanya di musim pahala, sedangkan orang yang ditipu adalah orang yang menghambur-hamburkan barang mahal dengan harga yang murah.
Mari kita introspeksi diri, masing-masing melihat keadaannya dengan jujur dan telus, serta melihat tujuannya: Adakah perbuatan kita sudah sesuai dengan spiritualiti bulan ini? Adakah kita berpuasa di siang hari sebagaimana sepatutnya, iaitu menahan diri dari segala hal yang membuat Allah murka, baik dalam perkataan mahupun perbuatan, atau hanya sekadar berpuasa makanan dan minuman? Apakah kita melakukan amal soleh pada malam hari, seperti solat, bertasbih, memuji, berzikir kepada Allah, dan lainnya, atau adakah kita melakukan hal-hal yang telah disebutkan di atas yang banyak mengundang perhatian orang saat Ramadhan?
Adakah kita merenungkan ayat-ayat Al-Quran, atau adakah kita hanya membaca lembaran-lembaran yang kita baca dan bergegas menyelesaikan bacaannya tanpa merenungkan atau mengamalkan hukum-hukumnya?
Apakah kita menunjukkan solidariti dengan keluarga, sahabat, dan tetangga serta bertindak untuk memenuhi keperluan orang miskin dan yang memerlukan, terutamanya mereka yang menahan diri untuk meminta, dan jumlah mereka saat ini sudah terlalu banyak dalam situasi saat ini, atau adakah kita semua berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk diriku dan keluargaku, dan beban serta kekhuatiranku sudah cukup bagiku”?
Seperti yang kita ketahui bersama bahawa Ramadhan adalah bulan ibadah, kita tidak boleh lupa bahawa bulan ini juga merupakan bulan beraktiviti dan berkarya, bukan bulan tidur, tidak aktif, dan bermalas-malasan. Banyak orang yang menggunakan musim Ramadhan sebagai alasan untuk meninggalkan pekerjaan atau mengabaikannya.
Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan kebaikan, termasuk menyediakan juadah untuk berbuka puasa bagi mereka yang berpuasa. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa memberikan kepada orang yang berpuasa sesuatu yang dapat digunakan untuk berbuka, maka dia akan mendapatkan pahala yang sama dengan pahala orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.”
Ya, ada jamuan makan dan meja untuk berbuka puasa, tetapi orang yang berpuasa dan yang mana? Adakah untuk orang miskin, yang memerlukan, dan kerabat, atau hanya untuk orang kaya dan mereka yang berkepentingan? Adakah jamuan makan tersebut diadakan untuk menyenangkan Allah SWT dan untuk mendapatkan pahala berbuka puasa orang yang berpuasa, atau hanya untuk menunjuk, membanggakan, menyombongkan diri, dan kemunafikan?
Begitu juga, masjid-masjid dipenuhi jemaah, dan setelah Ramadhan Anda melihat masjid-masjid kosong, kecuali beberapa orang, seolah-olah Allah SWT hanya memerintahkan solat berjemaah di masjid-masjid hanya di bulan Ramadhan!
Di manakah spiritualiti di bulan suci ini? Di manakah kedekatan yang sebenarnya dengan Allah di dalamnya?
Sebagaimana kita menghiasi rumah-rumah kita dengan kegembiraan menyambut datangnya bulan yang penuh berkah, kita pun mesti menghiasi jiwa, hati, dan lidah kita untuk melaluinya; dengan membuat hati kita bercahaya dengan keimanan, cinta, solidariti, dan toleransi sejati, berprasangka baik kepada orang lain dan menyebut mereka dengan cara yang menyenangkan mereka, serta menghindari ghibah tentang mereka, serta banyak lagi akhlak dan nilai-nilai Islam yang indah yang tidak kita miliki dalam pergaulan kita.
Ramadhan hanyalah hari-hari yang terbatas, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Semoga hina orang yang sampai di bulan Ramadhan, tetapi tidak diampuni dosanya.”
Sebagai penutup, kami sampaikan bahawa Ramadhan dapat diringkas dalam dua kalimat, “Ramadhan itu singkat dan tidak ada kelalaian; dan kedatangannya adalah saat yang tidak ada kelonggaran.”
Oleh sebab itu, setiap kali kita merasa malas, marilah kita mengingat firman Allah SWT dalam ayat tentang puasa, [أيَّاماً مَعْدُودَاتٍ] “selama beberapa hari saja.”
Ya, hari-hari itu terbatas dan pahalanya besar dan berlimpah jika kita manfaatkan dengan baik. Semoga Allah menjadikan kita dan kalian termasuk orang-orang yang diberi petunjuk untuk memanfaatkannya.
Marilah kita semua memohon kepada Allah SWT agar kita termasuk dalam golongan orang-orang yang diterima amal kita saat Ramadhan dan di luar Ramadhan.
“Ya Allah, pertemukanlah kami dengan Lailatulqadar dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menang. Ya Allah, penuhi Ramadhan untuk kami dan kembalikan kepada kami dengan kebaikan, keberkahan, dan kesejahteraan, dan semoga janji Allah SWT dan khabar gembira dari Rasul-Nya—selawat dan salam kepadanya—tentang negara Islam, telah terpenuhi. Semoga Allah menerima amal soleh dan ketaatan kita semua.”
#TarbiahRamadhan