[Mafahim Islamiyyah] Metode Syarie untuk Melanjutkan Kehidupan Islam (Bahagian 5/12)
Penulis: Muhammad Husain Abdullah
- Jalan syarie untuk melanjutkan kehidupan Islam
Kita telah memahami realiti negara (dar) yang kita hidup di dalamnya, bahawasanya negeri itu seperti telah kami jelaskan, adalah negeri kufur (darul kufr). Kita juga telah mengerti tentang kehidupan yang sedang kita jalani, iaitu kehidupan tidak Islami dalam masyarakat yang tidak Islami.
Seperti itulah realiti di mana Rasulullah SAW telah menemukannya di Mekah ketika Allah SWT mengutusnya menjadi Rasul bagi kaumnya dan semua manusia. Ini untuk mengubah kehidupan masyarakat di mana baginda tinggal di dalamnya, juga mengubah kehidupan semua manusia. Setelah memahami hal tersebut, maka jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW untuk perubahan dalam rangka mewujudkan awal kehidupan Islami adalah metode syarie. Ini satu-satunya metode yang dituntut dari setiap parti atau kelompok untuk menempuh jalan dalam melanjutkan kehidupan Islami yang telah berjalan secara berkesinambungan lebih daripada 13 abad.
Sesungguhnya Allah SWT yang telah menuntut manusia agar kehidupannya terikat dengan Islam. Allah juga telah menuntut manusia agar terikat dengan metode (thariqah) yang telah ditetapkan-Nya untuk merealisasikan sebuah idea (fikrah), iaitu melangsungkan kehidupan Islami. Allah SWT berfirman, “… Apa jua yang diberikan oleh Rasululullah SAW (sama ada pemberian atau perintah) kepada kamu, maka terimalah, dan apa jua yang dilarangnya kamu melakukannya, maka patuhilah larangannya.” [TMQ Al-Hasyr (59): 7].
Huruf mim pada ayat ini termasuk lafaz yang bererti umum, yakni mencakup setiap perkara yang telah dibawa oleh Rasulullah melalui wahyu, baik pemikiran (fikrah) atau metode (thariqah). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [TMQ Al Ahzab (33): 21].
Allah SWT juga berfirman sebagai seruan kepada Rasul-Nya, “Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (seluruh manusia) kepada Allah dengan bukti yang nyata. Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.” [TMQ Yusuf (12): 108].
Bagi memperjelas penjelasannya, Rasulullah SAW pernah membuat garis di depan para sahabatnya dengan satu garis lurus di atas pasir. Di kanan dan kiri garis itu, baginda membuat garis-garis yang banyak, lalu baginda bersabda, “Ini adalah jalanku yang lurus dan ini adalah jalan-jalan di mana pada setiap pintu jalan darinya ada syaitan yang mengajak kepadanya.”
Kemudian Nabi SAW membaca firman-Nya, “Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku (agama Islam) yang lurus, maka hendaklah kamu menurutnya dan janganlah kamu menurut jalan-jalan (yang lain daripada Islam), kerana jalan-jalan yang lain itu memisahkan kamu daripada jalan Allah. Itulah yang diperintahkan oleh Allah kepada kamu , mudah-mudahan kamu bertakwa.” [TMQ Al-An’am (6): 153].
Allah SWT juga telah memperingatkan Rasul-Nya seraya berfirman, “… Dan berjaga-jagalah supaya mereka tidak memesongkan kamu daripada sesuatu hukum yang telah diturunkan oleh Allah kepadamu.” [TMQ Al-Maidah (5): 49].
Allah SWT juga telah mengancam orang-orang Islam yang mengingkari perintahnya (perintah Nabi SAW), “Oleh itu, hendaklah mereka yang mengingkari perintahnya, beringat serta berjaga-jaga agar mereka tidak ditimpa bala bencana atau ditimpa azab yang pedih…” [TMQ An-Nur (24): 63].
Nas-nas tersebut dan lainnya mewajibkan kita terikat dengan metode yang telah ditempuh Rasulullah SAW dalam mengemban dakwah hingga berjaya menegakkan negara Islam. Hal ini supaya kita tidak menyimpang darinya walau sehujung rambut dengan alasan perbezaan situasi dan keadaan atau menghindari bahaya. Begitu juga agar kita tidak menyimpang darinya dengan alasan kemaslahatan umum atau beradaptasi dengan zaman.
Sesungguhnya Allah SWT yang telah menfardhukan metode ini kepada kita. Allah yang mengerti dan meliputi segala sesuatu yang di antaranya adalah situasi-situasi kekuatan atau kekerasan musuh-musuh dakwah.
Sesungguhnya orang yang meneliti dan mempelajari nas-nas syarak dalam Al-Quran dan sunnah akan menemukan bahawa garis-garis besar untuk mengemban dakwah sangat jelas dan nyata.
Pertama, menubuhkan tubuh jemaah atau parti tersebut dengan mengajarkan para pengemban dakwah dengan pemikiran-pemikiran Islam, baik berupa akidah dan hukum-hukum syarak. Ini dilakukan dengan tsaqafah yang intensif sehingga mereka layak menjadi pemimpin-pemimpin umat dan Islam yang bergerak di tengah masyarakat. Ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika baginda membina para sahabatnya dengan wahyu yang turun kepadanya sehingga baginda dapat membentuk kelompok yang sangat solid untuk memasuki pergolakan pemikiran dan perjuangan politik pada masyarakat jahiliah.
Kelompok ini menjadi sebaik-baik manusia setelah para Nabi. Mereka sabar menyertai Nabi SAW dalam memikul penderitaan semasa fasa Mekah. Kemudian mereka bersama-sama membina negara di Madinah al-Munawwarah. Setelah Nabi SAW meninggalkan mereka, maka mereka membawa Islam ke seluruh daerah taklukan.
Oleh sebab itu, wajib bagi para pengemban dakwah yang beraktiviti untuk melangsungkan kehidupan Islam, seperti parti atau jemaah, untuk mengikuti firman Allah SWT, “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah daripada yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” [TMQ Al-Maidah (5): 104].
Mereka wajib menancapkan akidah Islam ke dalam jiwa mereka dan selain mereka. Mereka juga wajib membersihkan akidah Islam dari setiap noda yang melekat selama masa-masa yang telah berlalu disebabkan kebodohan atau penyesatan. Sesungguhnya kejelasan akidah dan pembenaran yang pasti dengan akidah merupakan asas yang dibangun di atasnya setiap pemikiran Islam dan merupakan mata air yang memancar daripadanya setiap hukum syarak.
Apabila asas ini sangat kuat dan menancap pada orang-orang yang meyakininya, maka pengaruhnya yang dalam akan efektif dalam jiwa. Akidah itu dapat mengangkat pemeluknya dari tempat yang paling rendah menuju puncak ketinggian dan terbentang di hadapan mereka batas-batas cakerawala. Dengan demikian, mereka tidak memandang kehidupan dunia sebagai akhir putaran. Akan tetapi mereka hanya memandang kepada puncak yang sangat jauh dan tinggi, iaitu meraih redha Allah SWT, serta kepada syurga-syurga dan nikmat yang abadi.
Oleh kerana itu, orang-orang Muslim saat ini hendaklah mulai mengemban risalah Islam untuk menyebarkan petunjuk dan keadilan antara manusia, sebagaimana nenek moyang mereka sebelum ini. Kekuatan dan keteguhan hati mereka tidak pernah lemah dan luntur. Akidah ini akan menggerakkan mereka untuk melipatgandakan kesungguhan dan menghadapi kesulitan yang menghadang. Mereka akan memandang hina kehidupan dunia sehingga dapat mengembalikan umat Islam kepada kedudukan dan kejayaannya dengan melangsungkan kehidupan Islam dan menegakkan Negara Islam.
Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.
#mafahimislamiyyah #darulislam #negaraislam #DakwahIslamKaffah