Tanpa Penjaga, Umat Terus Dirundung Duka
Takwa adalah satu-satunya bekal keselamatan dan kebahagiaan kita di dunia yang melalaikan. Juga di akhirat kelak yang tak berkesudahan.
Kerana itu mari kita senantiasa menjaga takwa kita. Sepenuh jiwa-raga kita. Sekuat tenaga kita. Melebihi usaha kita mengejar dunia yang tak seberapa.
Tak banyak di antara kita yang tahu, bahawa sistem pemerintahan Islam global—iaitu Khilafah—runtuh sudah lebih dari 105 tahun lalu.
Khilafah adalah satu-satunya simbol kemuliaan, kekuatan dan keagungan umat ini selama berabad-abad lamanya. Khilafah adalah simbol pemersatu kaum Muslim sedunia. Khilafah adalah pelayan dan pelindung sejati umat manusia di mana pun berada.
Kerana itu sungguh keruntuhan Khilafah telah menorehkan luka di dada dan menimbulkan duka-lara bagi siapa saja. Luka itu sesungguhnya hingga sekarang makin melebar.
Khilafah bukan sekadar institusi politik duniawi. Ia sekaligus menjadi perisai (pelindung) umat ini. Khilafah adalah penjaga agama Islam yang mulia dan suci. Ia sekaligus menjadi institusi pengatur kehidupan dengan hukum-hukum Ilahi.
Saat perisai itu jatuh, umat pun roboh. Pada akhirnya mereka tak berdaya di hadapan musuh. Sungguh benar sabda Rasulullah SAW:
اَلْإِمَامُ جُنَّةٌ، يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ، وَيُتَّقَى بِهِ
“Imam (Khalifah) adalah perisai; umat berperang di belakangnya dan berlindung dengan dirinya”. (HR. Muslim)
Tanpa Khilafah, negeri-negeri Islam dipecah-belah. Dipisahkan oleh garis-garis khayalan buatan penjajah. Nasionalisme menggantikan ukhuwah Islamiyah. Tanpa Khilafah, dunia saat ini tidak diatur oleh hukum-hukum Allah, tetapi oleh hukum-hukum buatan manusia yang hanya memunculkan banyak masalah. Tanpa Khilafah, kaum Muslim pun tak berdaya dan amat lemah.
Lihatlah realiti hari ini yang amat parah: Palestin masih berdarah-darah. Penduduknya terus diburu dan dibunuh oleh Yahudi laknatullah. Gaza hendak dihapuskan dari peta sejarah. Sudan dipecah-belah. Muslim Rohingya dibantai oleh rejim komunis hauskan darah. Kashmir dirampas oleh rejim Hindu yang kejam dan perasan gagah. Di sejumlah negeri kaum Muslim lainnya, keadaannya tak kalah parah. Mereka tertindas dari segala arah. Pada masa yang sama, para penguasa mereka tetap bersikap ramah kepada kaum penjajah.
Sedangkan mereka telah diancam oleh Allah Yang Maha Gagah:
سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ
“Orang-orang yang melakukan perbuatan yang salah itu akan ditimpa kehinaan di sisi Allah” [TMQ al-An’aam (6): 124]
Dulu, ketika Khilafah masih ada, darah kaum Muslim terpelihara. Tanah dan harta mereka benar-benar terjaga. Kehormatan mereka pun tak ada yang berani menghina.
Dulu, ketika Khilafah masih ada, ia sanggup mengerahkan ribuan tenteranya. Hanya untuk membela kehormatan seorang wanita, yang dinodai oleh seorang kafir Romawi durjana di Amuriyyah. Ketika itu, pasukan Khilafah berjaya membunuh 30 ribu pasukan kafir Romawi dan menawan 30 ribu lainnya. Semua itu dilakukan oleh Khilafah hanya demi menyelamatkan seorang wanita.
Dulu, ketika Khilafah masih ada, ia sanggup menaklukkan Konstantinopel, simbol keunggulan Romawi Timur. Bahkan kota itu ditaklukkan hanya oleh seorang pemimpin muda yang masih belia, namun dipuji oleh Rasulullah SAW sebagai sebaik-baiknya kesateria.
Demikian sebagaimana sabdanya:
فَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا، وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ
“Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin (penakluk Konstantinopel) dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan tersebut.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).
Ini bukan dongeng yang mengasyikkan. Ini adalah fakta sejarah yang tak dapat disangkal. Sejarah itu hanya mungkin kembali jika umat kembali hidup di dalam naungan syariah Islam, di bawah institusi Khilafah, yang hari ini sebaliknya sengaja dicitra-burukkan. Bahkan, dimomokkan sehingga dituduh bakal membahayakan.
Sedangkan jelas, kata Imam al-Māwardī rahimahullāh secara tegas:
إِنَّ الْإِمَامَةَ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا
“Imamah (Khilafah) ditetapkan untuk menggantikan peranan kenabian dalam menjaga serta memelihara agama serta mengatur urusan dunia.” (Al-Mawardi, Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah, hlm. 5).
Imam an-Nawawi rahimahulLaah, ulama Ahlus Sunnah terkemuka mazhab Syafie, juga tegas menyatakan:
أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ نَصْبُ خَلِيفَةٍ
“Para ulama telah bersepakat bahawa wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang khalifah.” (An-Nawawi, Syarh Sahiih Muslim, 12/205).
Ini bukan pendapat satu mazhab. Ini telah menjadi ijmak ulama Ahlus Sunnah merentasi mazhab.
Ada sejumlah implikasi fikih daripada ketiadaan Khilafah seperti saat ini. Di antaranya yang paling utama:
- Tanpa Khilafah: Hudud dan hukum-hukum Allah ditinggalkan.
- Tanpa Khilafah: Jihad membela umat Islam di Palestin dan di berbagai negeri lainnya dituduh sebagai kejahatan. Para mujahidnya seperti HAMAS dilabel sebagai pengganas yang wajar dimusnahkan.
- Tanpa Khilafah: Kekayaan milik umat di seluruh dunia dengan mudah dijarah oleh kaum kafir penjajah.
- Tanpa Khilafah: Amerika Syarikat dan negara-negara Barat dengan mudah memerintah dan menguasai negeri-negeri Muslim serta memaksakan dominasi mereka atas dunia.
- Tanpa Khilafah: Hukum-hukum kufur mengatur pendidikan, ekonomi dan politik di tengah-tengah umat; menggantikan hukum-hukum Allah SWT. Padahal, ini jelas bertentangan dengan firman Allah SWT yang tegas menyatakan:
وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰئِكَ هُمُ ٱلظَّلِمُونَ
“Dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” [TMQ al-Maidah (5): 45]
Kerana itu jelas dan abash, Khilafah bukan sekadar romantisme sejarah. Khilafah adalah institusi politik dan pemerintahan penegak syariah Islam secara kaffah. Khilafah adalah pelindung sejati umat Islam sedunia dari kejahatan kaum kafir penjajah.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Sesungguhnya Allah SWT telah menjanjikan kepimpinan dan kekuasaan kepada umat Islam:
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ
“Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal soleh dari kalangan kamu (wahai umat Muhammad) bahawa Ia akan menjadikan mereka khalifah-khalifah yang memegang kuasa pemerintahan di bumi” [TMQ an-Nuur (24): 55]
Rasulullah SAW juga telah menyampaikan khabar gembira kepada kita:
مَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
“Kemudian akan ada kembali Khilafah di atas manhaj Kenabian” (HR. Ahmad).
Janji Allah SWT itu pasti. Khabar gembira dari Rasul-Nya juga tak perlu diragukan lagi. Akan tetapi, ia hanya akan turun kepada mereka yang berjuang sepenuh hati. Bukan kepada mereka yang diam atau tak peduli.
Dulu para Sahabat mendahulukan pemilihan dan pengangkatan khalifah sebelum pemakaman Rasulullah SAW. Mengapa? Kerana tanpa Khilafah, agama tak terjaga. Tanpa Khilafah, nyawa dan harta kaum Muslim juga tak terpelihara. Tanpa Khilafah, bahkan kehormatan umat ini senang dihina.
Hari ini, tanggungjawab itu ada di bahu kita. Untuk mendukung dakwah Islam demi mewujudkan cita-cita mulia. Demi tegaknya syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan kita. Tentu dalam institusi Khilafah Islam yang tegak di atas manhaj Nabi Muhammad SAW yang mulia. Hanya dengan itulah kita dapat meraih keberkatan dan redha Allah SWT. Demikian sebagaimana yang telah Allah SWT firmankan:
يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ
“Wahai orang-orang yang beriman, kalau kamu membela (agama) Allah nescaya Allah membela kamu (untuk mencapai kemenangan) dan meneguhkan tapak pendirian kamu.” [TMQ Muhammad (47): 7]
Terakhir, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah SWT. Mudah-mudahan Allah SWT mengabulkan doa-doa kita. Aamiin.
Disaring daripada :
Naskah Khutbah Jumaat (Volume 19 – Januari 2026), terbitan Tim Media IDAROH [Ikatan Da’i Rohmatan lil ‘Aalamiin]
#KhilafahSistemIslam #BisyarahRasul #KemenanganIslam #IslamKaffah #Takwa #JunnahUmmah #OneUmmah