Aidilfitri dan Harapan Kemenangan Hakiki Umat Islam
Ramadhan 1447 H telah berakhir. Tahun ini umat Islam menjalani ibadah puasa di tengah gejolak politik global yang terus memanas. Berbanding menampakkan tanda-tanda akan berakhir, sebaliknya perang antara Iran versus perikatan AS-Zionis yang dimulai pada 28-3-2026 lalu sebaliknya makin masif dan intensif.
Situasi ini tentu saja memberi impak kepada banyak perkara. Selain berisiko perang meluas ke kawasan Timur Tengah lainnya, situasi ekonomi global pun jelas mengalami tekanan. Lebih-lebih lagi ketika Iran menjalankan taktik menutup Selat Hormuz yang menjadi laluan 20% minyak dunia. Harga bahan tenaga dan logistik melonjak naik, dunia pun ketar-ketir kerana hal tersebut bermakan situasi ekonomi dan kewangan semua negara berada dalam ancaman.
Di sisi lain, situasi Palestin kian memprihatinkan. Ramadhan kali ini, Al-Aqsa ditutup bagi jemaah umat Islam hingga mereka terpaksa beribadah di jalanan. Bahkan, pihak Zionis nampaknya telah memanfaatkan perang Iran untuk memperketat pengepungan dan menggencarkan serangan, khususnya di wilayah Gaza. Mereka kembali mengepung Gaza hingga orang awam sukar untuk mendapat sumber makanan, bahan bakar, dan bantuan kemanusiaan. Sehinggakan badan pemantau hak asasi manusia, Euro-Mediterranean Human Rights Monitor, menyebut entiti Zionis sudah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada 10-10-2025.
Ramadhan Tanpa Kepemimpinan Islam
Ramadhan ke Ramadhan seterusnya, keadaan umat Islam memang masih belum juga mengalami perubahan. Berbanding mengharapkan meraih kebangkitan dan kemenangan sebagai buah daripada ibadah Ramadhan, sebaliknya keadaan umat Islam masih jauh dari ideal. Mereka terpecah-belah di bawah bendera buatan penjajah. Sebahagian besar pemimpinnya bahkan tunduk patuh pada negara kafir penjajah.
Mereka rela membuat undang-undang yang membuka jalan bagi penjajah untuk merampas hak dan harta kekayaan milik rakyatnya. Mereka bahkan tega menyerahkan leher sesama muslim hanya demi imbalan berupa sokongan atas kerusi kekuasaan dan kelangsungan dinastinya.
Apa yang terjadi di Gaza dan Iran hanyalah secuil bukti tentang ketidakberdayaan umat dan ketundukan para pemimpin muslim di hadapan para penjajah. Berbanding berusaha keras menolong, para pemimpin muslim, khususnya pemimpin Arab, malah sibuk mensejahterakan kepentingan nasionalnya akibat perjanjian jahat mereka dengan pihak musuhnya. Mereka tidak peduli sama ada umat Muhammad ini dibantai atau digempur habis-habisan.
Begitu juga dengan sikap umat Islam yang sebahagiannya telah terjebak dalam isu sektarian. Padahal, narasi itu sengaja dilontarkan musuh untuk memecah persatuan mereka dan melemahkan kekuatan mereka di hadapan musuhnya. Bahkan dengan (bersikap) demikian, tanpa sedar mereka sebenarnya telah berdiri di pihak musuh dan mendukung pembantaian sesama umat Islam.
Fakta inilah yang menyebabkan kedudukan politik umat Islam terus dalam keadaan lemah. Walaupun jumlah mereka besar, yakni sekira dua bilion, tapi mereka tidak berdaya menolong muslim Palestin, khususnya Gaza dengan menghancurkan dua juta entiti Yahudi yang merajalela di Palestin. Begitu juga Iran yang perlu berjuang sendirian menghadapi cita-cita Amerika bersama sekutu-sekutunya.
Padahal, Allah SWT telah memberi umat ini predikat sebagai sebaik-baik umat yang mampu memimpin umat-umat lainnya. Sebabnya, umat Islam telah dianugerahkan berbagai potensi menjadi pemimpin dunia, berupa jumlah sumber daya manusia yang sangat besar, sumber daya alam yang melimpah ruah, kedudukan geopolitik dan geostrategik wilayah yang signifikan, serta adanya potensi Islam sebagai ideologi yang mampu menjawab semua cabaran kehidupan.
Terkait Ramadhan, sudah semestinya ibadah di bulan mulia ini memberi impak signifikan bagi perubahan masyarakat dari masa ke masa. Betapa tidak, buah daripada ibadah Ramadhan semestinya adalah takwa. Sementara takwa adalah modal kebangkitan bagi umat Islam, bukan secara individual, tapi dalam konteks keumatan.
Sejarah menunjukkan bahawa kebangkitan umat Islam di masa lalu adalah impak penerapan Islam kaffah di bawah sistem kepemimpinan Islam (Khilafah) dan itu adalah manifestasi ketakwaan. Sementara kemundurannya terjadi apabila umat mencampakkan syariat Islam dan Khilafah, yang mana bermakna takwa telah ditinggalkan.
Merevitalisasi Ibadah Ramadhan untuk Kebangkitan
Pada hari ini, momentum Ramadhan sudah lama kehilangan intipatinya sebagai sarana membangun ketakwaan yang mendorong kebangkitan. Ibadah Ramadhan masih kental dengan sisi ruhiyah dan target meraih takwa individual. Padahal, Baginda Rasulullah SAW meneladankan Ramadhan sebagai bulan perjuangan untuk mengukuhkan kedudukan umat Islam hingga mereka benar-benar tampil sebagai umat terbaik dan pertengahan.
Momentum Ramadhan, bahkan mampu mengukuhkan kedudukan negara yang dipimpin Rasulullah dan para khalifah setelahnya sebagai negara pertama yang memimpin peradaban cemerlang. Betapa banyak peristiwa kemenangan umat Islam yang terjadi pada bulan Ramadhan. Perang Badar, Futuh Makkah, Perang Tabuk, Penaklukan Al-Quds, Andalusia, Sindh, dll., semuanya terjadi ketika Ramadhan. Namun, semuanya ini berlangsung ketika umat Islam hidup di bawah satu kepemimpinan yang menerapkan seluruh peraturan Islam sebagai bentuk wujud ketakwaan.
Oleh kerana itu, ada keperluan mendesak (urgency) bagi kita sekarang untuk membangun kembali kesedaran bahawa Islam bukan sekadar agama ritual atau panduan moral yang bersifat individual. Islam adalah agama politik spiritual alias ideologi berdimensi ruhiyah kerana mengurus seluruh urusan kehidupan, termasuk politik pemerintahan, bahkan mengarahkan umat Islam untuk menjadi pemimpin dalam konstelasi politik antarabangsa.
Kesedaran politik Islam yang terbangun di tengah umat dan menjadi visi hidup mereka inilah yang kelak akan mendorong mereka untuk melakukan perubahan mendasar. Perubahan itu berupa perubahan sistem dari sistem kepemimpinan kufur yang penuh dengan kerosakan dan menyebabkan mereka dalam keterpurukan, menjadi sistem kepemimpinan Islam—Khilafah—yang sedia menyatukan umat dalam satu ikatan politik dan sedia menjadi junnah (perisai), seraya sedia secara masif menebar rahmat bagi seluruh alam dan merebut kembali kepemimpinan global.
Sungguh tanpa kepemimpinan Khilafah, umat Islam akan terus ada di bawah telapak kaki penjajah. Berbanding memenangi perang peradaban antara Islam dan kekufuran, umat Islam sebaliknya akan terus menjadi pecundang, bahkan korban konspirasi antarabangsa untuk melanjutkan kesinambungan penjajahan sebagaimana kes Palestin, Iran, dan negeri-negeri muslim termasuk di kawasan Timur Tengah yang sangat dekat dengan sejarah kelahiran Islam.
Tentu saja, perjuangan menyedarkan umat dengan Islam politik atau ideologi ini, termasuk dalam usaha membangun kesedaran terhadap keperluan persatuan hakiki di bawah institusi Khilafah, memerlukan kesungguhan, keseriusan, dan gerak kerja yang terarah. Perjuangan sebesar dan selurus ini tidak mungkin dilakukan secara individu, tapi memerlukan kepemimpinan sebuah kelompok atau hizb yang tulus berjuang demi izzul Islam wal muslimin, bukan hizb semu yang sebaliknya berjuang di jalan demokrasi yang menjauhkan umat dari kebangkitan hakiki.
Sayang, hari ini sebahagian umat masih mengharapkan perubahan hakiki dan kebangkitan Islam melalui tampilnya sosok-sosok personal yang kelihatan garang di atas mimbar, padahal di belakangnya, mereka sebaliknya bermesraan dengan musuh yang memudaratkan kehidupan umat Islam. Oleh sebab itu, di luar penyedaran intensif dengan dakwah Islam kaffah, hizb juga akan melakukan perang pemikiran dan menyingkap strategi musuh dan peranan para penguasa muslim dalam melanjutkan agenda penjajahan.
Khatimah
Kita akan meninggalkan Ramadhan yang penuh dengan berkah dan ampunan. Umat Islam akan kembali merayakan Aidilfitri dengan penuh kegembiraan. Namun, apa yang tersisa dari Ramadhan dan Aidilfitri selain pengalaman ruhiyah—sebagaimana sebelumnya—yang sedikit demi sedikit akan terhapus sejalan dengan munculnya berbagai persoalan hidup yang perlu dihadapi dalam kehidupan sehari-hari umat Islam? Narasi “kemenangan” yang sering dikaitkan dengan momentum Aidilfitri ternyata hanya narasi kosong yang sama sekali tiada erti.
Oleh itu, sudah semestinya momentum Ramadhan dan Aidilfitri menjadi starting point untuk mengkonsolidasi dan memobilisasi kekuatan umat dengan mewujudkan takwa dan perisai individu sekaligus takwa dan perisai masyarakat. Dengan cara itu, umat dapat meraih sebenar-benar kemenangan, bukan hanya `tuntutan (claim)’ kemenangan yang tidak memberi impak pada kehidupan umat di dunia nyata.
Rasulullah SAW bersabda, “Puasa adalah perisai. Maka jangan berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika ada orang yang memerangi atau mencacinya, hendaklah dia berkata, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’.” (HR Bukhari dan Muslim).
Juga bersabda, “Sesungguhnya imam/khalifah adalah perisai yang orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika dia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika dia memerintahkan yang selainnya, maka dia perlu bertanggungjawab atasnya.”
(MuslimahNews.NET)
#Muhasabah #EidMubarak #Aidilfitri #Syawal #Ramadhan #KetakwaanHakiki
#MasyarakatMuslimIdeal #KhairuUmmah #TrueVision4Change