Palestin Tidak Akan Merdeka Jika Masih Bergantung Pada Barat
Oleh: Joko Prasetyo
Sekilas, Kenyataan Presiden Indonesia, Prabowo Subianto terkait dukungan terhadap “solusi dua negara” bagi Palestin dan Israel terlihat diplomatik dan realistic. Namun jika dilihat lebih mendalam, ada persoalan mendasar yang wajar dikritik, “Mengapa umat Islam terus menggantungkan penyelesaian Palestin kepada Barat dan forum antarabangsa yang sejak awal telah ikut menopang keberadaan Zionisme?”
Kenyataan itu kembali disampaikan Prabowo ketika pidato bersama Presiden Perancis Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris, Perancis, Rabu (28/5/2026). Dalam kesempatan tersebut, Prabowo kembali menegaskan dukungan Indonesia terhadap “solusi dua negara” dan bahkan menyebut Perancis sebagai salah satu pelopor solusi tersebut.
Sebab faktanya, “solusi dua negara” bukanlah solusi yang benar-benar menyelesaikan penjajahan. Dalam praktiknya, konsep ini sebaliknya mengakui keberadaan entiti Zionis secara kekal di tanah Palestin. Maksudnya, penjajahan tidak dihapus, melainkan dinegosiasikan agar kelihatan sah (legal) dan dapat diterima oleh dunia antarabangsa.
Padahal masalah Palestin bukan sekadar konflik perbatasan atau sengketa wilayah biasa. Ini adalah persoalan penjajahan ke atas negeri kaum Muslim yang berlangsung puluhan tahun dengan dukungan kekuatan global.
Rekod Jejak Perancis
Lebih ironi lagi, Perancis yang dipuji sebagai pelopor solusi damai sebaliknya memiliki rekod jejak yang panjang mendukung keberadaan Israel. Dalam sejarahnya, Perancis pernah menjadi salah satu pembekal utama persenjataan dan teknologi nuklear bagi Israel pada masa awal berdirinya negara Zionis.
Sehingga ke hari ini pun, negara-negara Barat, termasuk Perancis, tetap menjaga hubungan diplomatik, ekonomi, dan strategik dengan Israel walaupun serangan dan pembantaian terus berlangsung di Gaza.
Akibatnya, dunia menyaksikan paradoks yang telanjang. Barat berbicara tentang hak asasi manusia, tetapi genosid terus berlaku. Barat mengaku membela kemanusiaan, tetapi veto dan perlindungan politik terhadap Zionis tetap berjalan.
Rekod Jejak Macron
Kontradiksi itu makin terasa ketika melihat sosok Emmanuel Macron sendiri. Di dunia Muslim, Macron bukan figura neutral tanpa masalah. Kenyataannya yang membela karikatur penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW atas nama kebebasan berekspresi pernah memicu kemarahan besar umat Islam dunia.
Bahkan di bawah kepemimpinannya, Perancis beberapa kali melahirkan dasar yang bersifat Islamofobia. Daripada naratif “pemisah Islam”, pengawasan ketat terhadap lembaga-lembaga Islam, polemik pelarangan hijab, sehinggalah penutupan sejumlah organisasi dan masjid, telah meninggalkan kesan bahawa Islam kerap ditempatkan sebagai masalah yang mesti diawasi dalam ruang awam di Perancis.
Ketika itu Macron berdiri atas nama “nilai-nilai republik”, tetapi dalam masa yang sama umat melihat adanya double standard. Penghinaan terhadap simbol Islam dibela atas nama kebebasan, sementara kritik terhadap agenda tertentu di Barat sebaliknya boleh disekat dengan sangat keras.
Kerana itu, wajar kalau muncul pertanyaan, “Bagaimana mungkin dunia Islam menggantungkan harapan besar pembebasan Palestin kepada kekuatan politik yang bahkan tidak menunjukkan penghormatan yang wajar terhadap ajaran Islam?”
Sejarah Kolonialisme Perancis
Keraguan itu semakin kuat jika menoleh sejarah panjang kolonialisme Perancis di negeri-negeri Muslim, terutama di Afrika Utara. Dari Algeria hingga Afrika Barat, kolonialisme Perancis meninggalkan jejak penjajahan, pembantaian, eksploitasi, dan usaha menjauhkan umat daripada identiti Islamnya sendiri.
Maka wajar bila sikap Barat, tidak terkecuali Perancis, hari ini dipandang bukan sepenuhnya sebagai perubahan paradigma, melainkan hanya perubahan wajah dominasi.
Kerana itu, pertanyaan pentingnya bukan lagi sekadar, “Bagaimana mencari perdamaian?”, melainkan, “Mengapa umat terus berharap kepada pihak yang menjadi sebahagian daripada masalah?”
Inilah masalah paradigma politik hari ini. Negeri-negeri Muslim didorong untuk percaya nasib Palestin hanya boleh diselesaikan melalui meja diplomasi antarabangsa, resolusi PBB, dan restu negara-negara besar. Akibatnya, umat kehilangan kepercayaan pada kekuatan politiknya sendiri.
Padahal sejarah menunjukkan, penjajah tidak pernah benar-benar berhenti menjajah hanya kerana diplomasi moral. Kekuatan global hanya menghormati kekuatan yang nyata. Baik secara politik, ekonomi, mahupun militer.
Persoalan yang Lebih Besar
Di sinilah akar persoalan yang lebih besar. Tercerai-berainya dunia Islam dalam sempadan nasionalisme. Palestin akhirnya dipersempit menjadi urusan satu bangsa, satu wilayah, atau satu negara kecil yang berhadapan sendirian melawan kekuatan global.
Padahal bagi kaum Muslim, Palestin bukan isu lokal. Palestin adalah urusan umat. Ketika umat dipisah dalam batas-batas nation state, masing-masing sibuk dengan kepentingan nasionalnya sendiri, maka pembebasan Palestin pun akhirnya hanya menjadi slogan tahunan tanpa kekuatan sebenar.
Kerana itu, masalah Palestin sejatinya bukan hanya soal serangan Zionis, tetapi juga ketiadaan persatuan politik umat Islam yang mampu bertindak secara independent tanpa bergantung pada Barat.
Indonesia memang boleh aktif berdiplomasi. Namun diplomasi tanpa paradigma yang mandiri hanya akan membuat negeri-negeri Muslim terus bergerak dalam orbit tata dunia yang ditentukan kekuatan besar kapitalistik.
Selagi umat masih menggantungkan pembebasan Palestin kepada sistem antarabangsa yang dibangun dan dikendalikan kekuatan besar dunia, Palestin kemungkinan besar akan terus dinegosiasikan. Bukan benar-benar dibebaskan.
Palestin memerlukan persatuan politik umat yang mampu membebaskan negeri-negeri Muslim daripada dominasi asing dan menghentikan penjajahan secara hakiki melalui Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah yang berdiri di atas tauhid dan menerapkan syariat Islam secara kaffah. Allahu Akbar![]
#FreePalestine #WeNeedKhilafah #PalestineNeedsJihad