Hutan dalam Pandangan Islam
Oleh: Nabila Zidane
Dalam perspektif Islam sebagaimana dijelaskan Sheikh Taqiyuddin an-Nabhani, hutan dan sumber alam yang menjadi keperluan masyarakat adalah termasuk dalam pembahasan kepemilikan umum (milkiyyah ‘ammah). Beliau mendasarkan konsep ini antara lain pada hadis Rasulullah SAW tentang manusia bersyarikat dalam air, padang rumput, dan api.
Dalam kajian pemikiran An-Nabhani, kepemilikan umum tidak boleh dikuasai oleh individu atau segelintir orang untuk kepentingannya sendiri.
Ini bermakna, rakyat adalah pihak yang memiliki hak atas manfaat sumber alam tersebut.
Negara bertugas mengelolanya, bukan menjadikannya ladang keuntungan segelintir orang. Ini poin penting.
Dalam konsep An-Nabhani, negara bukan sekadar regulator yang duduk di belakang meja lalu mengeluarkan izin. Negara memiliki kewajipan mengelola kepemilikan umum agar manfaatnya kembali kepada masyarakat. Aset publik yang termasuk kepemilikan umum tidak boleh diswastakan dan diserahkan kepada individu atau korporat untuk dikuasai.
Maka pengelolaan hutan tidak cukup dengan pendekatan, bagaimana izin diberikan?
Tetapi mestilah dimulakan dengan pertanyaan,
“Bagaimana hutan ini dijaga sebagai amanah dan bagaimana manfaatnya dikembalikan kepada rakyat?”
Negara hendaklah hadir sejak awal, mulai dari menentukan kawasan yang perlu dilindungi, mencegah eksploitasi yang merosakkan, melakukan pengawasan secara nyata, bertindak tegas ke atas pelaku pembakaran jika terbukti, melakukan pemulihan ekosistem, sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan manfaat dari sumber alam tanpa merosakkannya.
Dalam konsep hima, negara juga dapat menetapkan kawasan tertentu untuk kepentingan umum dan perlindungan sumber alam. Pengelolaan semacam ini menempatkan kepentingan masyarakat dan kelestarian sumber alam sebagai pertimbangan utama.
Jadi solusi Islam bukan sekadar memadamkan api setelah hutan terbakar.
Solusinya adalah mengubah cara pandang terhadap hutan sejak awal.
Hutan bukan sekadar lahan.
Bukan sekadar angka pelaburan.
Bukan sekadar bahan baku industri.
Hutan adalah sebahagian daripada kekayaan yang mesti dijaga untuk kemaslahatan rakyat.
Oleh itu, kalau hari ini Kalimantan kembali mengepulkan asap, jangan hanya bertanya,
“Bagaimana asal usul kebakaran terjadi?”
Tanyakan juga,
“Sistem seperti apa yang membuat pengelolaan hutan begitu mudah diarahkan pada kepentingan ekonomi, sementara rakyat perlu menanggung dampak kerosakannya?”
Sebab, memadamkan api itu penting. Manakala menangkap pelaku jika terbukti sengaja membakar juga wajib. Tetapi kalau akar persoalannya tidak disentuh, tahun depan kita akan kembali melihat gambar yang sama.
Hutan terbakar.
Langit menghitam.
Anak-anak menghirup asap.
Dan kita kembali berkata, “Semoga tahun ini kebakaran hutan dan tanah segera selesai.”
Padahal yang mesti diselesaikan bukan hanya apinya. Tetapi juga cara kita mengelola kekayaan alam.
Dalam Islam, kekayaan alam bukan untuk direbutkan oleh segelintir pemilik modal. Ia adalah amanah yang mesti dikelola oleh negara demi kemaslahatan seluruh rakyat.
Kalau hutan milik bersama, maka jangan biarkan manfaatnya hanya dinikmati segelintir orang, sementara asap dan kerosakannya menjadi jatah tahunan rakyat.
Rakyat berhak mendapatkan manfaat hutannya. Bukan menghirup asapnya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
#kebakaranhutan #alamsekitar #peliharahutan #hentikanpembakaranhutan