Oleh : Ustaz Hafidz Abdurrahman
Naluri manusia adalah khâshiyyât (khasiat) yang merupakan fitrah penciptaannya agar manusia dapat mempertahankan eksistensi, keturunan, dan mencari petunjuk mengenai keberadaan Sang Pencipta. Naluri ini memang tidak dapat langsung diindera oleh manusia, namun dapat dijangkau oleh akalnya melalui tanda-tanda atau fenomena yang terlihat darinya. Allah Swt. telah mengemukakan keberadaan naluri tersebut melalui beberapa fenomena yang dinyatakan dalam beberapa ayat Al-Quran, antaranya:
وَاَوْحٰى رَبُّكَ اِلَى النَّحْلِ اَنِ اتَّخِذِيْ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا وَّمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَۙ
“Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia.” [TMQ An-Nahl (16): 68]
Ertinya, Allah Swt. telah memberikan khâshiyyât pada lebah sehingga memungkinkannya untuk membuat sarang di gunung, pohon, atau apa saja yang dibuat oleh manusia. Ayat ini menjelaskan bahawa haiwan diberi keunikan untuk membuat rumah atau tempat tinggal agar dapat melindungi diri dari serangan makhluk lain. Ini merupakan fenomena mengenai adanya naluri mempertahankan diri (gharîzah al-baqâ’).
Allah Swt. juga telah menerangkan fenomena lain mengenai keberadaan naluri dalam beberapa ayat, antara lain
وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ
“Dan (ingatlah) ketika Ibrâhîm diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrâhîm menunaikannya, Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunan saya.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku ini tidak akan mengenai orang-orang yang zalim.” [TMQ Al-Baqarah (2): 124]