Penulis: Muhammad Husain Abdullah
“Sunnah” secara bahasa bererti ‘jalan yang ditempuh’ (al–thariiqat al-masluukah). Kata “sunnah” sendiri asalnya diambil dari perkataan orang Arab, “Sanantu asy syay-a bil misann, idzaa amrartuhu ‘alayh hatta yu-atstsira fiihi sannan ay thariiqan,” yang bermaksud, “Aku menggambar (menajamkan) sesuatu dengan gerinda, jika aku menorehkan di atasnya hingga membekaslah sebuah guratan (jalan), yakni jalan (alur).” “Sunnah” menurut istilah bermakna ‘segala sesuatu yang disandarkan pada Rasulullah ﷺ, baik berupa perkataan (qawl), perbuatan (fi’l), atau ketetapan (taqriir).’ (lihat: Muhammad bin ‘Ali al-Syaukani. Irsyaad al- Fukhuul ilaa Tahqiiq al-Haqqi min ‘Ilm al-Usul. Daar al-Ma’rifah, hal 33). Kata “sunnah” juga disebut pada “solat sunat”, yakni solat selain solat wajib, misalnya dua rakaat solat sunat tahiyatul masjid atau solat sunat Zuhur, dan sebagainya. Sedangkan sifat akhlak Rasulullah ﷺ, tercakup ke dalam qawl dan fi’l beliau ﷺ, sebagaimana definisi di atas.
Kedudukan Sunnah dalam Al-Quran
Sunnah Rasul ﷺ merupakan hujah (sumber rujukan) dalam perkara agama dan salah satu dalil hukum syarak. Al- Quran, sumber utama dari syariat Islam, telah menegaskan hujah Sunah (lihat: Usul al-Fiqh, Muhammad al-Khudhariy, hlm. 6, al-Maktabah al-Tijaariyah al-Kubraa).
Allah Swt. berfirman,
…وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا…
“…apa saja yang dibawa oleh rasul kepada kalian maka ambillah, dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah…” [TMQ Al-Hasyr (59): 7]
Demikian juga firman-Nya,
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى –٣ اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ – ٤
“Dan tidaklah yang diucapkannya itu berdasarkan hawa nafsu. Tidaklah hal itu melainkan merupakan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” [TMQ An-Najm (53): 3-4]
Sunnah al-Nabawiyyah merupakan wahyu dari Allah dengan makna sahaja. Sedangkan lafaznya (redaksinya), berasal dari Rasulullah ﷺ sendiri. Rasul ﷺ bersabda,
يُوْشِكُ رَجُلٌ مِنْكُمْ مَّكَتًا عَلَى أُرِيْكَتِهِ يُحَدِّثُ بِحَدِيْثٍ عَنِّي، فَيَقُوْلُ: بَيْنَنَا وَنَيْنَكُمْ كِتَابَ اللهِ، فَمَا وَجَدْ نَاهُ فِيْهِ مِنْ حَلَالٍ اسْتَحْلَلْنَاهُ، وَمَا وَجَدْ نَا فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ حَرَمْنَاهُ، أَلاَّ إِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُوْلُ اللهِ مِثْلُ مَا حَرَّمَ اللهُ
“Hampir-hampir seseorang di antara kalian berbaring di atas tempat tidurnya, kemudian mengucapkan sebuah hadis dariku. Dia mengatakan, ‘Antara kami dan kalian terdapat Kitabullah. Dan apa saja yang kami temukan di dalamnya (al-Kitab) berupa kehalalan maka kami menghalalkannya. Dan apa saja yang kami dapati di dalamnya berupa keharaman maka kami akan mengharamkannya. Ketahuilah bahawa apa yang diharamkan Rasul Allah adalah seperti apa yang diharamkan Allah.’”