Penulis: Muhammad Husain Abdullah
Lafaz qadha’ dan qadar tidak disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah. Namun, yang dicantumkan dalam Al-Quran dan Sunnah hanya lafaz “qadha’” saja, dan maksudnya [lafaz qadha’ saja. pentj.] bukanlah perbuatan manusia dan khasiat sesuatu, melainkan bermakna seperti yang telah kami huraikan di atas [yakni, sifat Allah dan perbuatan Allah. ed].
Demikian juga di dalam Al-Quran dan Sunnah hanya dicantumkan lafaz qadar saja, yakni yang maksudnya adalah sesuatu yang bukan merupakan perbuatan manusia ataupun khasiat sesuatu, melainkan mengandungi makna sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya [sifat Allah dan perbuatan Allah, ed].
Oleh kerana itu, masalah qadha’ dan qadar—di mana yang dimaksudkan adalah perbuatan hamba serta berbagai khasiat segala sesuatu—baru dikenali oleh kaum muslim pada tempoh mutaakhir.
Yang boleh disimpulkan adalah bahawa perbuatan manusia terbahagi menjadi dua jenis, iaitu:
Pertama, perbuatan-perbuatan yang manusia dapat memilihnya (mukhayyaran). Misalnya, manusia berjalan, makan, minum, dan bepergian. Ia melakukan dan tidak melakukannya [perbuatan-perbuatan tersebut] atas dasar pilihannya sendiri. Oleh kerana itu, dalam konteks ini, seorang mukallaf akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh perbuatannya dan akan dibalas dengan pahala atau dosa pada hari kiamat. Perbuatan-perbuatan seperti ini tidak termasuk bahagian dari qadha’ dan qadar.
Kedua, perbuatan-perbuatan yang manusia dipaksa untuk menerimanya (mujbaran). Dalam hal ini terbagi menjadi dua, iaitu pertama, sesuatu yang ditentukan oleh nizham al-wujud (sunnatullah) seperti bentuk diri dan warna kulit manusia, atau seperti jatuhnya sesuatu ke tempat yang rendah kerana ada gaya graviti. Kedua, yang tidak ditentukan oleh nizham al-wujud dan manusia tetap tidak dapat menghindarinya seperti jatuhnya pesawat, kecelakaan kereta api yang terjadi secara tiba-tiba, yang menyebabkan kematian atau musibah kepada penumpang.
Kedua perbuatan ini, baik yang terjadi dan menimpa pada manusia, terjadi bukan kerana kehendaknya [manusia dipaksa]. Inilah yang dinamakan sebagai qadha’. Sebab, Allah sajalah yang telah menetapkannya. Dalam hal ini, manusia tidak akan dihisab atas segala apa yang ia perbuat, terlepas dari, apakah perbuatan-perbuatan tersebut mengandung manfaat atau madharat, dan apakah disukai atau dibenci.
Manusia wajib beriman terhadap qadha’ semacam ini, baik dan buruknya berasal berasal dari Allah swt. Berdasarkan hal ini, maka qadha’ adalah perbuatan-perbuatan yang terjadi, atau menimpa pada manusia, dimana ia dipaksa tanpa mampu ia menolaknya.
Adapun al-qadar yang di-’athaf-kan (disambungkan) dengan kata al-qadha’ di dalam pembahasan al-qadha’ dan al-qadar, sebenarnya adalah khasiyat al-asy-yaa (potensi benda), seperti potensi membakar yang dimiliki api, potensi terbakar pada manusia dan kayu, potensi memotong pada kayu, dan potensi menggilas yang ada pada mobil dan kereta api.
Semua potensi semacam itu, atau pun hal-hal yang semisal dengan itu, disebut dengan al-qadar. Potensi-potensi ini berasal dari Allah. Dialah yang menciptakan [potensi-potensi itu] pada benda-benda. Allah berfirman,
الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوّٰىۖ – ٢ وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدٰىۖ – ٣
“Yang menciptakan, lalu membuatnya sempurna. Yang menentukan (qaddara), lalu memberi petunjuk.” [TMQ Al A’laa [87]: 2-3]
Manusia tidak akan mampu mencabut potensi-potensi ini, tetapi ia hanya dapat menggunakannya sesuai dengan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Bila ia menggunakannya sesuai dengan perintah dan larangan Allah, perbuatannya dinilai sebagai perbuatan yang baik. Akan tetapi, bila ia menggunakannya bertentangan dengan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah, perbuatannya dinilai sebagai perbuatan yang buruk.
Potensi memotong pada pisau yang telah diciptakan Allah Swt., jika digunakan seorang muslim untuk membunuh kafir harbi, ini merupakan perbuatan yang baik dan akan dibalas dengan pahala. Sebaliknya, apabila digunakan untuk membunuh seorang muslim tanpa alasan yang benar, perbuatan itu akan dinilai buruk dan akan dibalas dengan seksa.
Walhasil, qadha’ dan qadar yang harus kita imani adalah perbuatan-perbuatan yang terjadi atau yang menimpa manusia tanpa ia boleh menolaknya (mujbaran), serta segala potensi yang ada pada benda.
Atas dasar itu, al-qadar di dalam masalah qadha’ dan qadar berbeda dengan “al-qadar” dengan makna ‘ketetapan Allah terhadap segala sesuatu pada zaman azali [taqdir al-Allah al-sya’]’. Akan tetapi, ada pemikiran-pemikiran lain yang termasuk bagian dari akidah Islamiah yang juga wajib untuk diimani.
Pemikiran-pemikiran tersebut telah diterangkan di dalam Al-Quran dengan dilalah (makna) yang bersifat pasti (qath’i al-dilalah). Misalnya, masalah rezeki di tangan Allah (Allah Maha Pemberi Rezeki), yang disebutkan dalam firman Allah Swt.,
…اِنَّ اللهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“…dan Allah yang memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa ada terhitung.” [TMQ Ali Imran[3]: 37]
Juga ada keterangan, bahawa sebab kematian adalah semata-mata kerana datangnya ajal, yang disebutkan dalam firman Allah Swt.,
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلً…
“Dan tidak akan mati sesuatu yang bernyawa melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan…” [TMQ Ali ‘Imran [3]: 145]
dan dalam firman-Nya:
… اِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ
“…maka apabila telah datang ajal mereka maka mereka tidak dapat mengundurkan sesaat pun dan tidak dapat mendahulukannya.” [TMQ Yunus [10]: 49).
Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-Dasar Pemikiran Islam.