Penulis: Ahmad Sastra
“Seseorang itu bergantung kepada agama sahabatnya, maka perhatikanlah salah seorang dari kamu kepada siapa dia bersahabat.” (HR Abu Daud).
Dasar dari sebuah persahabatan adalah psikososial yang secara naluri telah ada dalam setiap diri manusia. Hubungan sosial antara manusia tercermin dalam interaksi sosial adalah sebuah fakta dan keniscayaan. Manusia tidak mungkin boleh unuk hidup sendirian.
Ibarat binatang yang mencari komuniti dan lingkungan yang membuat dirinya nyaman dan bertahan hidup merupakan refleksi dari gharizah (naluri). Binatang akan cenderung berkumpul dengan binatang sejenis, bukan dengan binatang lain jenis, kecuali dalam keadaan tertentu atau sengaja diletakkan. Sebab hal ini sifatnya naluri.
Seorang lelaki yang mencari pasangan wanita untuk dinikahi maka akan melakukan penelitian psikologi dengan mencari keserasian hati dan fikiran. Dan terjadilah proses ta’aruf yang intinya mencuba untuk menyamakan visi, fikiran, dan perasaan. Jika tidak mendapatkan keserasian maka biasanya mereka akan memutuskan untuk tidak jadi menikah.
Terdapat juga pasangan yang setelah bernikah justeru berakhir dengan perceraian kerana tidak serasi. Ia juga boleh dicetuskan oleh faktor luaran yang dianggap boleh mengganggu kestabilan komitmen di awal perkahwinan. Contohnya, ketika seorang suami atau isteri mengkhianati janjinya maka boleh juga hubungan tersebut berakhir dengan perceraian.
Oleh kerana itu, wajar jika seorang pelacur akan bersahabat dengan pelacur, pencuri akan bersahabat dengan pencuri, penjudi akan bersahabat dengan penjudi, pembohong akan bersahabat dengan pembohong, pengkhianat akan bersahabat dengan pengkhianat, pejuang akan bersahabat dengan pejuang, pecundang akan bersahabat dengan pecundang, pecinta olahraga akan bersahabat dengan pecinta olahraga, dan seterusnya.
Maka tidak hairan jika ada samseng bersahabat dengan samseng, penghafal Al-Quran bersahabat dengan penghafal Al-Quran, pecinta ilmu bersahabat dengan pecinta ilmu, penagih dadah akan bersahabat dengan penagih dadah, pemabuk temannya pemabuk juga, pencuri dengan pencuri juga, bahkan orang gila juga akan mencari temannya yang sama-sama gila, lihatlah di rumah sakit jiwa.
Lebih jauh lagi, hadis di atas mengkaji relasi manusia, bahkan dihubungkan dengan orientasi teologis. Maknanya bahawa seseorang akan cenderung memilih sahabat hidupnya kerana kesamaan agamanya. Pun manusia akan bersahabat kerana faktor kesamaan ideologi dan orientasi hidupnya.
Wajar, seorang muslim akan bersahabat dengan muslim, orang kafir akan bersahabat dengan sesama kafir, begitu pun orang munafik akan nyaman bersama dengan orang munafik. Begitu pun orang liberal akan bersahabat dengan orang liberal, orang nasionalis akan bersahabat dengan nasionalis, pembenci Islam juga akan nyaman bersama dengan pembenci Islam, dan seterusnya.
Lihatlah dalam sejarah, sejahat-jahatnya Firaun tetap akan ada pengikutnya yang menjadi sahabat dan pendukungnya. Lihatlah kesombongan Namrud, ia tetap ada orang yang rela menjadi pendukungnya. Lihatlah Abu Lahab dan Abu Jahal, banyak yang rela menjadi sahabatnya. Bahkan, Abdullah bin Ubay yang munafik, ada 300 orang yang mahu diajak untuk pulang ke Madinah dan mengabaikan perintah Rasul dalam perang Uhud. Begitulah, setiap orang bergantung kepada siapa sahabatnya. Sahabat adalah cerminan diri sendiri.
Sejahat-jahatnya pemimpin suatu negara, tetap akan ada manusia yang rela menjadi sahabat dan pendukung kejahatannya. Pemimpin zalim di mana pun akan ada manusia yang rela menjadi pengikutnya dari manusia-manusia zalim. Begitu pun para sahabat Rasulullah SAW yang rela jiwa raga mendampingi perjuangan Rasulullah SAW hingga ajal tiba. Para sahabat Rasulullah SAW adalah orang-orang mulia kerana bersahabat dengan Rasulullah yang mulia pula. Siapa sahabat kita, itulah cerminan diri kita.
Oleh kerana itu, Seorang muslim akan terus mencari sahabatnya yang muslim dan akan mencari rujukan tokoh-tokoh muslim sebagai timbangan pemikiran, selain tentu sumber-sumber hukum Islam. Orang liberal juga akan mencari orang liberal untuk dijadikan sahabat dan akan mencari tokoh-tokoh liberal untuk dijadikan sumber pemikirannya.
Orang-orang jahat akan memilih pemimpin yang jahat, orang bodoh akan memilih pemimpin yang bodoh pula, dan orang jahiliyah akan memilih pemimpin dari kaum jahiliyah juga. Itulah mengapa dahulu Rasulullah SAW ditolak oleh kaum jahiliyah dan para Rasul lain pun ditolak oleh orang-orang yang menentang Tuhan dan agama Islam yang dibawa para Rasul. Allah menegaskan bahawa para Nabi dan Rasul memiliki musuh-musuh.
“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeza-bezakan seorang pun di antara mereka dan kami semua adalah muslim (hanya tunduk patuh kepada-Nya)’.” [TMQ Al Baqarah (2): 136]
“Begitulah, bagi setiap Nabi, telah kami adakan musuh dari orang-orang yang berdosa. Tetapi cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.” [TMQ Al Furqan (25): 31]
“Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, iaitu syaitan(dari jenis) manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain dengan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia).” [TMQ Al An’am (6): 112]
Untuk itu sebagai seorang muslim, marilah kita renungkan ulang siapa yang kita jadikan sahabat dalam hidup kita. Sebab sahabat adalah mewakili jiwa dan fikiran kita, mewakili visi dan perasaan kita. Renungkan secara mendalam, jangan-jangan sahabat yang selama ini kita miliki adalah cermin dari keburukan diri kita. Jika demikian, marilah kita bertaubat dan menjadi muslim sejati, serta bersahabat dengan muslim sejati pula.
Islam telah mengajarkan siapa saja manusia yang layak kita jadikan sebagai sahabat. Beberapa hadis berikut memberikan gambaran tentang sahabat dalam pandangan Islam.
“Sahabat yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambah ilmu agama, melihat gerak geriknya teringat mati. Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga adalah orang yang baik terhadap tetangganya.” (HR Hakim)
“Di sekitar ‘Arsy-Nya ada menara-menara dari cahaya, di dalamnya ada orang-orang yang berpakaian dari cahaya, wajah-wajah mereka pun bercahaya. Mereka bukan para Nabi dan syuhada, hingga para Nabi dan syuhada pun iri kepada mereka. Ketika para sahabat bertanya, Rasulullah SAW menjawab, mereka adalah orang-orang yang saling mencintai kerana Allah, bersahabat kerana Allah, dan saling berkunjung kerana Allah.” (HR Tirmidzi)
Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik dari kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang soleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang soleh, maka peganglah erat-erat. (Quutul Qulub, 2/17).
Sahabat yang baik adalah yang selalu berusaha meluruskan saat kita tersesat, bukan yang selalu membenarkan kita. Sahabat yang baik adalah selalu mendoakan sahabatnya tanpa diketahui. Sahabat yang baik adalah yang selalu berkumpul dengan orang baik.
“Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.” (HR Bukhari, no. 6170, Muslim no. 2640).
Perbanyaklah teman mukmin, kerana mereka memiliki syafaat pada hari kiamat. (Ma’alimut Tanzil, 4/268).
“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, merendahkannya, menyerahkan kepada musuh, dan tidak menghinakannya.” (HR Muslim).
Sahabat dalam pandangan Islam ternyata tidak hanya sebatas di dunia, namun hingga sampai akhirat. Sahabat dengan demikian boleh membawa kita kepada syurga atau neraka. Kerana itu, berhati-hatilah memilih sahabat, sebab sahabat adalah cermin diri kita, maka teruslah perbaiki diri agar kelak boleh menjadi sahabat Rasulullah SAW di syurga.
Sumber: https://www.muslimahnews.com/2021/11/20/nafsiyah-sahabatmu-adalah-cermin-dirimu/