Pola interaksi digital yang dikendalikan korporat Kapitalisme dan rejim-rejim dunia Islam pembodek Barat – telah meruntuhkan dinding kehormatan masyarakat Muslim, merosakkan generasi dan menodai kehormatan kaum Muslimah. Keganasan seksual terhadap kaum perempuan tidaklah berdiri sendiri hanya kerana budaya patriarki seperti narasi kelompok Feminis, melainkan kerana faktor multi dimensi. Interaksi sistemik antara budaya kebebasan individu, industri media kapitalis, hegemoni korporat digital dan aksi kelompok feminis telah mempercepat seksualisasi ke dalam masyarakat Muslim yang seterusnya membawa kepada keganasan seksual terhadap kaum perempuan.
Bahagian kedua tulisan ini akan fokus menyajikan bagaimana Islam memiliki kapasiti ideologi untuk menawarkan visi alternatif politik informasi digital yang selamat bagi kaum perempuan sekaligus independen (bebas) dari hegemoni kapitalisme.
Kaum perempuan memerlukan perisai informasi yang mampu untuk menghentikan seksualisasi awam dalam masyarakat Muslim. Justeru, hal itu diperlukan beberapa langkah agar perisai ini terbentuk untuk kaum Muslimah dan masyarakat Muslim, dan semestinya ia perlu diambil dari pandangan Syariah Islam, yakni:
#1. Tindakan segera dan penting dalam menjaga kehormatan “Kehidupan Khusus” bagi masyarakat Muslim
Dalam masyarakat Muslim yang sihat dan terhormat, kehidupan peribadi (khusus) mestilah dihormati dan dijaga dari intervensi umum. Terutama Islam yang telah memelihara kehidupan khusus di rumah, bahkan dari para pengetuk pintu yang hendak memasukinya, memelihara aurat kaum Muslimah di kamar-kamar mereka yang terjaga. Rasulullah SAW mengingatkannya dalam hadis berikut:
Dari Abu Musa Al-Asy’ary r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, «الاستئذانُ ثلاثٌ، فان أذن لك والاّ فارجع» “Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!” (HR Bukhari dan Muslim).
Ruang digital walau bagaimanapun termasuk kategori wilayah terbuka yang bersifat umum, termasuk dalam media sosial seperti Twitter, Facebook, `groups’ media sosial, dan sejenisnya. Wadah diskusi berkumpulan dalam kumpulan komuniti atau `group’ media sosial termasuk dalam kategori ranah awam. Ranah awam atau umum juga dikenali dalam istilah syarie-nya sebagai kehidupan umum (hayatul ‘aam) iaitu realiti kehidupan interaksi manusia dalam hubungan sosial secara umum, lebih-lebih lagi dalam hubungan lelaki dan kaum perempuan. Tabiat kehidupan manusia telah menjadikan manusia menjalani kehidupan umum, tempat dia hidup di antara sejumlah individu dalam masyarakat, seperti dalam suku, desa, atau kota.
Hukum Syariat sangat memberikan perhatian serius terhadap hubungan antara manusia berdasarkan pembahagian yang tegas dalam interaksi lelaki dan perempuan. Perspektif Islam memisahkan secara tegas hubungan keduanya dalam aturan yang sangat spesifik dan jelas. Oleh kerana itu, di dalam Islam interaksi lelaki dan perempuan di dunia maya sama ketatnya seperti dalam dunia nyata.
Demikian pula Islam telah mengatur kehidupan khusus (hayatul khas, private life), dan memisahkannya dari ruang umum, demi menjaga kehormatan dan kesucian keluarga Muslim. Allah ta’ala berfirman dalam surat An Nur ayat 31:
وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat…”
Oleh sebab itu, tidak boleh menyebarkan isi kandungan yang bersifat privasi ke dunia maya dengan dalih apapun – termasuk dalih feminisme yang mengatasnamakan perjuangan hak-hak kaum perempuan, apalagi kes tersebut diketahui tidak patut untuk disebarkan ke ranah awam. Tatkala terjadinya kezaliman domestik, keganasan terhadap kaum perempuan diselesaikan melalui jalur peradilan yang tertutup (private).
Politisasi isu-isu peribadi kaum perempuan ke ruang umum/awam adalah dilarang. Walaupun atas alasan untuk menekan penguasa. Fenomena ini juga sebenarnya menunjukkan betapa lemahnya supremasi perundangan sekular dalam menjamin keamanan bagi kaum perempuan, sehingga kelompok feminis sampai merasa perlu membongkar aib keluarga Muslim ke lapangan umum demi mencapai agenda mereka.
#2. Kepentingan visi politik informasi yang menjunjung kehormatan masyarakat dan kedaulatan negara
Adanya kesedaran individu dan masyarakat memang sangat penting, tetapi itu belum cukup. Kesedaran masyarakat juga mestilah disusuli dengan peranan negara, dengan menyaring informasi yang rosak yang membahayakan nilai dan ideologi negara. Jangan diserahkan begitu saja ke pihak media swasta apalagi korporat asing. Dalam Islam, tindakan negara berlepas tangan dan membiarkan korporat media dihadapkan vis a vis dengan individu umat tanpa perlindungan merupakan satu tindakan kezaliman yang besar.
Politik ekonomi Islam juga tidak akan membiarkan informasi dimonopoli oleh segelintir elit, sehingga meskipun keberadaan media swasta domestik dibolehkan, namun ia tidak boleh lebih besar dari kedaulatan negara, sebagaimana yang terjadi hari ini. Walhasil, dalam perspektif politik media Islam, negara berperanan sebagai:
- Junnah/ perisai yang akan melindungi ideologi Islam dari menjadi bahan jenaka, hinaan dan direndahkan,
- Saringan informasi dari yang informasi yang tidak penting bahkan rosak,
- Saluran informasi Islam bagi dunia dalam negeri mahupun luar negeri
Media massa bagi negara Islam mempunyai fungsi strategik, iaitu berkhidmat untuk ideologi Islam baik di dalam mahupun di luar negeri. Oleh kerana itu fungsi negara yang benar adalah menjaga kedaulatan informasi dan datanya, agar terhindar dari dominasi kekuatan asing seperti hari ini. Negara tidak boleh bergantung kepada sumber digital luar seperti Google dan seluruh platform teknologi asing lainnya, sekaligus tidak akan membenarkan platform media yang menayangkan film berbau fahisyah seperti Netflix di negeri Muslim.
Negara juga hendaklah mengadopsi strategi informasi yang spesifik dalam memaparkan Islam dengan pemaparan yang kuat dan membekas, sekaligus diharapkan akan mampu menggerakkan akal manusia agar mangarahkan pandangannya pada Islam serta mempelajari dan memikirkan paparan-paparan Islam. Di dalam negeri, media massa berfungsi untuk membangun masyarakat Islami yang kukuh. Di luar negeri, ia berfungsi untuk menyebarkan Islam, baik dalam suasana perang mahupun damai, untuk menunjukkan keagungan ideologi Islam sekaligus membongkar keburukan ideologi kufur buatan manusia. (Masyru’ Dustur Dawlah al-Khilâfah, pasal 103).
#3. Kepentingan perisai informasi digital
Aspek terpenting di antara semuanya adalah, mesti ada dikalangan umat Islam yang mampu membuat sistem teknologi informasi dan komunikasi dengan jaminan keamanan di ruang digital yang paling tinggi tahap keselamatannya, demi melindungi kepentingan Islam, kehormatan kaum perempuan dan keselamatan data masyarakat Muslim secara komunal. Cara yang paling benar dan lurus untuk melawan pengaruh dari jaringan-jaringan ini adalah apa yang akan dilakukan oleh negara Khilafah ketika ia berdiri, insyaAllah:
Pertama: merekayasa dan membuat jaringan, aplikasi, dan perisian secara mandiri sehingga komunikasi elektronik tidak dimonopoli oleh perusahaan asing. Melainkan terbuka untuk umat Islam dengan alat-alat buatan umat sendiri dimana pola interaksi digitalnya berstandard pada halal dan haram, bukan semata demi algoritma perniagaan seperti hari ini. Semua perangkat ini diprasaranakan berkembang dengan kemandirian dan kedaulatan secara penuh dalam kekuasaan Islam.
Kedua: menggunakan semua perisian teknologi itu demi dakwah menyeru manusia kepada Islam sebagai risalah rahmatan lil ‘alamin, dan untuk mencampakkan kapitalisme yang telah menyebabkan manusia hidup dalam kesengsaraan dan kegelapan.
Ketiga: Negara Islam mestilah berdaulat dan terbebas dari objek pemantauan atau pengintipan—baik sifatnya manual mahupun digital. Demikian juga negara tidak boleh memata-matai rakyatnya seperti yang dilakukan oleh penguasa Muslim terhadap gerakan Islam ataupun aktivis dakwah, yang mana perbuatan ini jelas hukumnya haram.
Apalagi jika pemantauan dilakukan oleh syarikat digital terhadap penggunanya, yang mana syarikat ini diketahui milik kaum kufar. Maka ini bukan hanya haram tetapi bahkan merupakan kezaliman sehingga boleh dikategorikan sebagai penjajahan digital negara asing terhadap umat Islam. Allah swt melarang memberikan jalan apapun bagi orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman dalam firman-Nya:
وَلَن يَجۡعَلَ ٱللَّهُ لِلۡكَٰفِرِينَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ سَبِيلًا
“Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (TMQ Al-Nisâ’ [4]: 141)
Walhasil perlakuan Daulah Khilafah terhadap rakyatnya tidak akan sama dengan perlakuan rejim-rejim saat ini yang menggunakan semua jaringan ini untuk memata-matai rakyat mereka sendiri. Dalam masa yang sama, mereka membiarkan seksualisasi masyarakat memicu keganasan terhadap kaum perempuan, mengakibatkan ternodanya kehormatan masyarakat Muslim secara massa. Sebaliknya, Khilafah akan menjelma menjadi perisai digital bagi umat dan kehormatan Muslimah, menjaga martabat masyarakat Muslim, menyatukan mereka dengan keluhuran akidah Islam, serta memicu dakwah Islam ke seluruh dunia dengan teknologi bebas yang berdaulat penuh.
Ditulis untuk Pejabat Media Pusat Hizb ut Tahrir oleh
Dr. Fika Komara
Ahli Pejabat Media Pusat Hizb ut Tahrir