Penulis: Najmah Saiidah
Allah Swt. telah menganugerahkan kepada setiap manusia naluri melestarikan keturunan (gharizatun nau’). Keberadaannya dalam diri manusia menumbuhkan ketertarikan kepada lawan jenis. Oleh kerananya, Allah pun memberikan aturan tentang pemenuhan terhadap gharizah nau’ ini, iaitu dengan pernikahan. Dari pernikahan ini akan lahir anak-anak soleh dan solehah sehingga tumbuh kasih sayang tidak hanya di antara suami dan isteri saja, tetapi orang tua pada anak-anaknya, anak pada orang tuanya, datuk dan nenek pada cucu-cucunya, serta sebaliknya dan seterusnya. Hal ini akan terjadi secara alami. Oleh kerananya, pernikahan merupakan tuntunan agama dalam menjaga fitrah makhluk ciptaan-Nya, iaitu melestarikan keturunan. Di samping itu, dengan pernikahan sesuai tuntunan syariat, Allah menjadikan kita kaya, hidup penuh ketenangan, ketenteraman, dan kasih sayang (sakinah, mawaddah, wa rahmah). Pernikahan menjadi salah satu jalan seorang muslim mencapai redha Allah untuk menuju syurga-Nya. Bukankah ini merupakan anugerah yang luar biasa yang Allah berikan untuk kita semua?
Anugerah Pertama: Dengan Menikah, Allah Menjadikan Kita Kaya
Menikah merupakan hal yang sangat manusia damba, terutama pemuda pemudi yang telah menginjak usia pernikahan. Hal itu alamiah dan naluriah. Akan tetapi, tidak sedikit orang takut menikah disebabkan kekhuatiran akan keadaan perekonomian setelah menikah. Padahal, Islam mengajarkan bahawa dengan menikah akan menjadi kaya, dicukupkan, dan makin mendekatkan diri kepada-Nya , sebagaimana firman-Nya, وَاَنْكِحُوا الْاَيَامٰى مِنْكُمْ وَالصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَاِمَاۤىِٕكُمْۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَاۤءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.“ [TMQ an-Nur (24): 32] Ibnu Katsir dalam tafsirnya, As-Suyuthi dalam al-Dur al-Mantsur, Abu Hayyan Muhammad al-Andalusi dalam al-Bahr al-Muhith fi Tafsir, Al-Qurtuby, At-Thabari, dan ulama lainnya, sepakat bahawa bagi seseorang yang telah mampu untuk menikah, maka menikahlah, sebab dengan menikah itu lebih menjaga kesucian dirinya dari perbuatan zina. Pesan utama dari ayat ini adalah anjuran untuk menikah. Secara tekstual, sangat jelas bahawa ayat ini merupakan anjuran untuk segera menikahkan orang-orang yang belum menikah, para hamba, hamba sahaya yang beriman, meskipun dalam keadaan fakir. Allah Swt. akan mencukupi mereka dengan kurnia-Nya. Pada ayat selanjutnya dijelaskan kembali jikalau tidak mampu untuk melangsungkan pernikahan, sebaiknya menjaga kesuciannya.
Hal ini senada dengan sabda Nabi saw., “Hai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu menanggung biaya pernikahan, maka hendaklah dia menikah. Kerana sesungguhnya menikah itu lebih menundukkan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang tidak mampu, hendaknyalah dia berpuasa, kerana sesungguhnya puasa itu dapat dijadikan peredam baginya.” Sedangkan redaksi “Ayyakunu fuqara’a yughnihimullaahu min fadhlih”, para ulama memaknainya secara beragam, tetapi intinya sama. Ibnu Katsir mengutip qaul sahabat, iaitu Ibnu Mas’ud berkata, “Carilah kekayaan di dalam pernikahan.” (iltamisu al-ghina fi nikah). Dari al-Laits, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Sa’id al-Maqburi, dari Abu Hurairah ra., berkata bahawa Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga hak Allah yang pasti ditunaikannya, iaitu orang yang menikah dengan niat menjaga kesucian, hamba yang menunaikan kewajipannya, dan orang yang berjihad di jalan Allah” (HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah) Selain itu, penafsiran senada juga disampaikan Jalaluddin al-Mahalli dan As-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain bahawa carilah kekayaan itu melalui pernikahan. Tidak jauh berbeza, Ibnu Abbas dalam tafsirnya juga menyampaikan, kata “ghina” yang dimaksud adalah rezeki. Lebih dari itu, Muhammad Jamaluddin al-Qasimi dalam Mahasin al-Ta’wil menafsirkan “ghina” dengan fadhal Allah (keutamaan Allah) berupa rezeki yang tidak disangka-sangka oleh manusia (min haitsu la yahtasib). Dari berbagai penafsiran tersebut menunjukkan bahawa seseorang yang telah mampu menikah atau yang belum mampu, tetapi memiliki niat baik untuk menjaga kesucian dirinya serta melaksanakan sunah Rasul saw., maka menikahlah. Jangan risau dan gundah gulana akan rezeki, sebab Allah swt. telah menjamin akan menambah rezeki hamba-Nya yang telah menikah. Menikah itu membuat mereka kaya. Dengan menikah kita tidak melalui kehidupan seharian sendirian, ada isteri atau suami yang saling melengkapi dan menguatkan.
Anugerah Kedua: Mendatangkan Ketenteraman, Ketenangan, dan Kasih Sayang
Allah Swt. telah menjadikan makhluk ciptaan-Nya berpasang-pasangan, Allah menetapkan jodoh bagi makhluk-Nya. Kewujudan pernikahan ini adalah saling memberikan ketenangan satu sama lain. Inilah anugerah yang Allah berikan kepada pasangan—lelaki dan perempuan yang menikah—sehingga menjadi suami isteri yang saling memberikan ketenteraman, ketenangan, dan kasih sayang. Sebagaimana firman Allah Swt., “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” [TMQ Ar-Ruum (30): 21]
Kehidupan persahabatan yang sempurna antara suami dan isteri dalam kehidupan berumah tangga akan melahirkan ketenteraman dan ketenangan bagi keduanya. Kelak akan lahir dari keluarga ini anak-anak yang soleh dan solehah. Seorang suami sebagai ketua keluarga akan memberi nafkah, melindungi, dan memimpin anggota keluarganya. Begitu juga dengan isteri, kerana dia adalah ibu dan pengelola rumah suaminya, maka dia pun akan mengasuh dan mendidik anak-anaknya, merawat, dan melayani suami dan anak-anaknya dengan baik sehingga tercipta ketenangan dan ketenteraman seluruh anggota keluarganya.
Anugerah Ketiga, Menjadi jalan Meraih Syurga Allah
Ketika pernikahan berawal dengan cinta kerana Allah, menjadikan Allah di atas segalanya, aturan Allah sebagai pijakan dalam menjalani kehidupan, dapat dipastikan dua anak manusia yang menikah akan berusaha menjalani kehidupan pernikahannya sesuai tuntunan Allah, Al-Khalik Al-Mudabbir. Dengan demikian, kehidupan pernikahannya tidak hanya berorientasi duniawi, tetapi untuk meraih akhirat, kehidupan yang kekal. Walhasil, akan terwujud keberkahan dalam kehidupan pernikahan. Inilah anugerah tiada terhingga yang Allah berikan untuk makhluk-Nya yang paling sempurna. Di sebalik anugerah Allah itulah kita akan mendapatkan syurga. Hadis Rasulullah saw. senantiasa mengingatkan kita bahawa sungguh banyak kebaikan yang Allah ganjarkan bagi mereka yang menikah sehingga Rasulullah menyebut bagi yang menikah telah sempurna separuh dari agamanya. Lebih dari itu, banyak hadis Rasulullah yang menjelaskan pada kita bahawa dalam pernikahan, jika kita menjalaninya sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya, kita akan mendapatkan syurga-Nya. Banyak sekali hadis-hadis yang menjelaskan tentang hal ini, di antaranya Rasulullah saw. bersabda, “Mahukah kalian aku beritahu tentang isteri-isteri kalian di dalam syurga?” Mereka menjawab, “Tentu saja wahai Rasulullah.” Nabi berkata, “Perempuan yang penyayang lagi subur. Apabila dia marah, atau diperlakukan buruk, atau suaminya marah kepadanya, dia berkata, ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan boleh terpejam hingga engkau redha.” (HR Ath-Thabrani) “Jika seorang perempuan selalu menjaga solat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina), dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada perempuan yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah ke dalam syurga melalui pintu mana saja yang engkau suka.’” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban) أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ “Perempuan mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya redha padanya, maka dia akan masuk syurga.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Mentaati suami akan membawa kepada datangnya redha suami. Ketika suami redha, akan membawa para isteri kepada syurga-Nya. Bukankah ini merupakan anugerah yang tidak terhingga yang harus kita syukuri dan kita berusaha keras untuk meraihnya? Maha Adilnya Allah Swt. yang tidak hanya menyediakan syurga untuk para isteri, tetapi menyediakannya untuk para suami atau ayah. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik terhadap keluarganya dan aku adalah yang terbaik daripada kamu terhadap keluargaku.” (Riwayat At-Tirmizi) Bukan sekadar itu, Rasulullah dalam hadis lainnya menyebut, “Mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang paling baik melayani isterinya.” (Riwayat At-Tirmizi) “Rasulullah saw. bersabda, “Dinar (harta) yang kamu belanjakan di jalan Allah dan dinar yang kamu berikan kepada seorang hamba wanita dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin serta dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar ganjaran pahalanya adalah yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.“ (HR Muslim) “Dinar yang paling utama yang dibelanjakan oleh seseorang adalah dinar yang dinafkahkan untuk keluarganya dan dinar yang dibelanjakan oleh seseorang untuk tunggangannya dalam jihad di jalan Allah azza wajalla dan dinar yang diinfakkan oleh seseorang untuk teman-temannya di jalan Allah Swt.” (HR Muslim) Inilah syurga yang Allah janjikan kepada isteri dan suami, ibu dan ayah, jika keduanya memenuhi segala perintah Allah dan tuntunan Rasulullah saw.. Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita berusaha keras untuk meraihnya. Tidak hanya keberkahan kehidupan pernikahan yang akan kita dapatkan, tetapi kita juga akan dapat meraih syurga-Nya.
Khatimah
Demikianlah, yang Allah janjikan dan anugerahkan untuk keluarga muslim bukan semata-mata dalam konteks materi, tetapi kekayaan diri yang merasakan cukup dengan kenikmatan dan ketenteraman dari Allah Swt.. Setiap pasangan yang menikah dengan mengikuti tuntunan syariat dan meneladani Rasulullah saw., sejatinya mereka akan merasakan anugerah yang luar biasa yang Allah berikan ini. Bukan hanya kelapangan rezeki setelah menikah, tetapi ketenangan dan ketenteraman kehidupan berumah tangga pun akan kita peroleh dengan kehidupan persahabatan yang sempurna. Ini semua akan membawa kepada keberkahan pernikahan dan makin mendekatkan kita untuk meraih syurga-Nya. Insyaallah. Wallahualam. [MNews/Rgl]