Sering kali penulis temukan orang-orang yang diseru pada Islam tidak terus menyedari dan mentaatinya. Begitu pun, ketika diajak untuk mengkaji, menelaah, mengamalkan, dan mendakwahkan Islam, mereka memberi beribu alasan. Mulai dari alasan tidak memiliki waktu lapang, tidak mendapat izin suami atau penjaga, dan alasan pekerjaan. Tidak sedikit pula yang beralasan kerana sibuk mengurus rumah tangga serta sibuk melayani suami dan anak-anak di rumah. Beragam alasan menjadikannya belum bersegera memenuhi kewajipannya sebagai seorang muslim, menuntut ilmu agama, dan mendakwahkannya. Padahal setiap detik, minit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun Allah Swt. curahkan berbagai rezeki dan nikmat padanya. Tidak pernah Allah membiarkan hamba-Nya terus dalam kesedihan dan kesempitan hidup. Satu per satu Allah kabulkan permintaannya. Namun, mengapa menolak untuk berkorban dan berjuang demi agama-Nya? Mengapa hanya mencukupkan diri dengan melakukan ibadah nafilah, solat lima waktu, dan bersedekah? Bahkan, jika diajak belajar Islam dan berdakwah rasanya susah sangat. Sedangkan Allah Swt. begitu terang mengabarkan pada umat-Nya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” [TMQ Ali ‘Imran (3): 104]
Kesedaran bagi seorang muslim untuk berkorban dan berjuang demi Islam memanglah “mahal“. Atau adakah mereka sudah terbius fahaman moderasi beragama? Akhirnya menganggap tidak penting untuk mendalami ilmu agama, hidup semahunya yang bertentangan aturan-Nya, dan memisahkan agama dari kehidupan (sekular), menyebabkannya terus berada dalam lingkaran kemaksiatan dan kekufuran. Sesungguhnya, moderasi beragama bak racun yang mematikan akidah kaum muslimin. Hidup dan kesehariannya dipenuhi dengan perkara duniawi seolah-olah dia tidak akan mati dan menghadap Illahi untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya selama hidup di dunia. Allah Swt. berfirman, “Ketahuilah bahawa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keredhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [TMQ Al Hadid (57): 20] Jika demikian, masihkah kita rasa sukar untuk berkorban dan berjuang untuk Islam? Sementara Allah telah mengabarkan bahawa kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Sedangkan akhirat, tempat yang akan kita tuju, merupakan kehidupan yang abadi selamanya. Di sana Allah sediakan tempat bernama syurga dan neraka.
Semoga Allah menjadikan kita sebahagian dari orang-orang yang mudah menerima seruan Allah Swt. serta tidak mudah menolak ajakan kebaikan untuk mengkaji Islam dan mendakwahkannya kerana itu merupakan bekal kita menghadap Allah. Semoga Allah mudahkan lisan ini untuk berhujjah ketika Allah mempertanyakan tentang waktu, usia, dan harta yang diamanahkan-Nya selama di dunia kepada kita.
Sumber: muslimahnews.com