Oleh: Wahyudi Ibnu Yusuf
Sejarah Kemenangan Umat Islam di Bulan Ramadhan
Ramadhan merupakan bulan kemenangan bagi umat Islam. Sebab, umat Islam berjaya melawan haus dan lapar serta menjaga diri dari segala macam hawa nafsu selama sebulan lamanya. Setiap hari, ketika berbuka puasa kaum muslimin meraih kemenangan, mereka bergembira atas pertolongan Allah. Puncak kemenangan dan pertolongan Allah adalah ketika Aidilfitri.
Namun rupanya kemenangan yang diraih oleh umat Islam di bulan Ramadhan bukan hanya menang dalam menahan diri dari rasa haus dan lapar serta segala bentuk maksiat. Menurut catatan sejarah, umat Islam telah meraih banyak kemenangan lainnya sepanjang bulan Ramadhan.
Lalu apakah kemenangan umat Islam sepanjang bulan Ramadhan dalam catatan sejarah?
Pertama, iaitu Perang Badar yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah. Perang Badar ini disebut sebagai “Yaumul Furqan” atau hari pemisah antara yang hak dan batil. Padahal saat itu jumlah pasukan kaum muslimin hanya 313 orang. Mereka bertempur melawan pasukan Quraisy dari Mekah yang berjumlah 1000 orang.
Kedua, peristiwa Fathu Makkah atau pembebasan kota Mekah pada bulan Ramadhan tanggal 10 tahun 8 Hijriah. Peristiwa tersebut menjadi tonggak kemenangan bagi umat Islam khususnya Kaum Muhajirin. Sebab Rasulullah SAW bersama 10,000 pasukan bergerak dari Madinah ke Mekah dan menguasai seluruh Mekah dengan gilang gemilang. Sejak saat itu Mekah telah naik taraf statusnya dari darul kufur menjadi sebahagian dari darul Islam.
Ketiga, pada bulan yang sama, Khalid bin Walid juga berjaya menghancurkan patung Al-Uzzah. Kemudian kaum Tsaqif juga menyatakan keIslaman mereka di hadapan Rasululah SAW dan menghancurkan patung Al-Lata yang dulu mereka sembah. Peristiwa tersebut terjadi tepatnya pada bulan Ramadhan tahun 9 Hijriah.
Keempat, umat Islam mengalami kemenangan dalam perang Tabuk. Perang yang menjadi perang terakhir yang diikuti oleh Rasulullah SAW tersebut dimenangi oleh umat Islam pada tanggal 8 Ramadhan tahun 9 Hijriah. Saat itu, kaum Muslimin melawan pasukan dari kaum Romawi. Bangsa Romawi lari tunggang langgang sebelum sempat berhadapan dengan pasukan kaum muslimin.
Kelima, pada tanggal 28 Ramadhan tahun 92 Hijriah, pasukan Islam di bawah kepemimpinan Thariq bin Ziyad berjaya menyeberangi selat Giblatar atau Jabal Thariq. Mereka kemudian masuk ke Andalusia (Sepanyol) dan kemudian berjaya menguasainya. Selama hampir 800 tahun Islam memimpin di Andalusia (Sepanyol) sejak 711 M hingga 1492 M.
Keenam, umat Islam pada tanggal 15 Ramadhan tahun 658 Hijriah berjaya mengalahkan tentara Mongol. Tentera tersebut berada di bawah kepemimpinan Hulagu Khan yang merupakan cucu dari Genghis Khan. Perang tersebut terjadi di Ain Jalut, Palestin Utara.
Ketujuh, umat Islam di Mesir pernah menang melawan tentera Israel. Ketika itu, tentera Mesir berhasil merebut benteng Israel, Barlev, yang sebelumnya dianggap tidak akan mungkin diceroboh selamanya. Selanjutnya tepat pada tanggal 10 Ramadhan 1393 Hijriah benteng Barlev pun dapat dirobohkan oleh umat Islam.
Catatan sejarah menunjukkan bahawa peradaban Islam akan terus berputar dan pernah mengalami berbagai macam kejayaan selama bulan Ramadhan. Torehan prestasi tersebut sesungguhnya menunjukkan bahawa rasa haus dan lapar tidak menjadi penghalang bagi umat Islam untuk meraih kemenangan yang sesungguhnya.
Rahsia Kemenangan Kaum Muslimin
Jika kita mencermati sejarah kemenangan kaum muslimin, sebab kemenangan mereka bukan dari besarnya jumlah pasukan dan lengkapnya persenjataan. Sebagai contoh perang Badar satu berbanding tiga dan perang Mu’tah satu berbanding enam puluh enam. Di dalam perang Badar hanya ada dua orang sahabat yang menunggang kuda, bakinya berjalan kaki. Demikianlah sebab kemenangan bukanlah besarnya jumlah dan lengkapnya senjata. Satu-satunya sebab kemenangan adalah pertolongan Allah. Kerana itu ketika mentafsirkan surah al-Baqarah ayat 249 pada redaksi:
كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Betapa banyak kelompok yang kecil mampu mengalahkan kelompok yang besar dengan izin Allah dan Allah menyertai orang-orang yang sabar”.
Al Hafizh Ibnu Katsir menyatakan:
فإن النصر من عند الله ليس عن كثرة عدد ولا عدد
“Maka sesungguhnya kemenangan (diraih) dari sisi Allah bukan dari banyak jumlah pasukan dan banyaknya persenjataan”.
Kunci diraihnya pertolongan Allah adalah bersabar, sebagaimana disebutkan pada hujung ayat “Allah bersama orang-orang yang berbuat sabar”. Sabar inilah yang dipinta dalam doa Thalut ketika telah berhadapan dengan pasukan Jalut.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Wahai Tuhan kami tuangkanlah kesabaran pada kami, kukuhkanlah kedudukan kami dan tolonglah kami atas orang-orang kafir”. (TMQ al-Baqarah [2]: 250)
Bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran, sebagaimana disebut oleh Nabi dalam hadis riwayat Imam Muslim. Di bulan Ramadhan umat Islam berada ada kemuncak ruhiyyah, mereka dilatih untuk bersabar dalam taat pada perintah Allah dan bersabar menjauhi larangan Allah, di antaranya hal-hal yang dapat membatalkan puasa mahupun pahala puasa.
Perlu digarisbawahi bahawa sabar tidak hanya ketika ditimpa musibah, namun juga dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan. Jika sabar dilakukan dengan benar dan pada tempat yang benar maka ia menjadi kunci diraihnya kemenangan dari Allah. Maka jika umat Islam saat ini ingin meraih kemenangan dalam perjuangan maka mereka mestilah terus menjaga dan memupuk kesabaran dalam memperjuangkan syariat Islam. Tidak bersikap ta’ajjul (tergesa-gesa) dan tergoda dengan jalan perjuangan yang sejatinya adalah perangkap yang dipasang oleh musuh-musuh Islam.
Kunci kedua dari kemenangan yang diraih kaum muslimin adalah keyakinan pada janji Allah (tsiqah bi wa’dillah). Yakin akan janji Allah inilah yang membuat kaum muslimin memiliki keyakinan tanpa batas bahkan mampu melihat apa yang belum terjadi, kerana mereka yakin pada penamat dari perjuangannya adalah kemenangan al-Haq (Islam). Mata mereka tidak silau dengan perhiasan dunia yang menipu. Mereka tak semata melihat dengan mata zahir (bashar), namun mereka melihat dengan mata batin (bashirah), mereka tidak menggadaikan mabda Islamnya dengan kepentingan sesaat. Inilah sikap kaum orang-orang beriman saat menyaksikan 10,000 pasukan ahzab (koalisi) yang mengepung Madinah. Inilah ucapan mereka yang diabadikan dalam al-Quran agar menjadi ‘ibrah bagi kita:
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
“Maka ketika orang-orang beriman menyaksikan pasukan Ahzab, mereka mengatakan: “Inilah yang Allah dan Rasulullah janjikan pada kami, benarlah janji Allah dan Rasul-Nya”. Dan tidaklah bertambah pada diri mereka kecuali keimanan dan ketundukkan”. (TMQ al-Ahzab [33]: 22).
Bandingkan dengan sikap orang-orang munafik dan yang ada penyakit di hatinya. Ketika mereka melihat realiti berbalik 180 darjah dengan janji Allah dan Rasulullah, mereka mencela Allah dan Rasulullah. Allah abadikan sikap busuk mereka dalam firman-Nya:
وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا
“Dan ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalamnya hatinya berkata: :”Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.” (TMQ al-Ahzab [33]: 12)
Janji Allah inilah yang dipinta Nabi Muhammad ketika berdoa sebelum meletusnya perang Badar al Kubra.
اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ
“Yaa Allah…Tunaikanlah apa yang Engkau janjikan padaku.
YaaAllah…datangkanlah apa yang Engkau janjikan padaku. Ya Allah..Jika kumpulan umat Islam ini dihancurkan, maka Engkat tak akan disembah lagi di muka bumi ini”. (HR. Muslim no. 3309)
Keyakinan akan janji Allah inilah yang menjadikan seorang pejuang bersabar dengan beratnya ujian perjuangan. Membuat mereka tetap optimis tatkala banyak orang pesimis. Tsiqah bi wa’dillah inilah yang dilatih dalam bulan Ramadhan. Mereka dilatih untuk yakin dengan besarnya balasan Allah bagi orang yang berpuasa, kerana balasan puasa tidak dalam bentuk angka-angka, namun Allah sendiri yang akan membalasnya, bahkan melipatkgandakannya.
Selain sikap sabar dan yakin akan janji Allah, rahsia kemenangan kaum muslim yang lain adalah kerana pada saat itu mereka dipimpin oleh Nabi Muhammad dan para pemimpin yang adil. Pemimpin yang jika dia mengangkat tangannya ke langit, maka Allah malu jika membiarkan tangan tersebut kembali dalam keadaan kosong. Pemimpin yang hanya takut kepada Allah dengan menjalankan syariat Allah. Pemimpin yang tegak berdiri di hadapan negara kafir penjajah, pemimpin yang cinta dengan rakyatnya dan rakyatnya juga cinta kepadanya, pemimpin yang mendoakan kebaikan bagi rakyatnya dan rakyatnya pun mendoakan kebaikan baginya, pemimpin yang siap siaga menjadi junnah (perisai) untuk membela kepentingan rakyatnya. Pemimpin yang dibai’at untuk menerapkan al-Quran dan dan as-Sunnah. Pemimpin terbaik yang dilahirnya dari sistem yang terbaik; Islam dan Khilafah.
Wallahu ta’ala a’lam bi ash showab.