Allah ta’ala berfirman dalam kitabNya:
﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾
“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, nescaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (TMQ Ali Imran [3]: 31)
Kita mengatakan bahawa kita mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan kita berdoa kepada-Nya untuk memberi kita kesenangan melihat-Nya, dan kita mendambakan hari dimana kita melihat-Nya di syurga, tetapi apakah kita sudah bertindak sesuai dengan apa yang kita nyatakan dan doakan??
Bagi mereka yang mencintai Allah (swt) dan merindukan pertemuan dengan-Nya dan menempatkan cinta-Nya (swt) dan Rasul-Nya (saw) di atas segalanya, di atas cinta mereka untuk diri mereka sendiri, pasangan mereka, anak-anak mereka, harta mereka, ayah mereka, ibu mereka, dan semua orang, Allah (swt) berfirman:
﴿وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبّاً لِلَّه﴾
“…Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (TMQ Al Baqarah [2]: 165)
Yang mengikuti cinta dan kerinduan ini adalah keyakinan, ketaatan, kebanggaan terhadap Dien, keinginan untuk mendapatkan keredhaan-Nya, dan hal-hal lain yang mendekatkan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadi kita bertanya: apakah kita benar-benar seperti itu? Apakah kita mentaati Allah seperti yang Dia perintahkan kepada kita? Apakah kita mengikuti perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya?
Dan jika kita seperti itu, bagaimana kita boleh tidak mentaati-Nya sementara kita mencintai-Nya?! Apakah seseorang mencintai orang yang dia tidak patuhi, dan tidak mentaati orang yang dia cintai?! Mengapa kita tidak mentaati-Nya di siang hari dan berdoa kepada-Nya di malam hari? Bukankah kita sepatutnya malu?
Apakah kita tidak malu kepada Allah ketika kita berdoa kepada-Nya namun tidak mentaati-Nya? Apakah tidak perlu bertaubat dulu baru kemudian berdoa kepada Allah?
Setiap kali kalian bertanya apa kewajipan kami terhadap apa yang kami alami dan yang sedang dialami oleh orang-orang tertindas, dari kesulitan hidup, ketidakadilan dan penghinaan, mereka berkata: `Kalian perlu berdoa’. Semua orang berdoa dan ada lebih dari satu bilion Muslim berdoa untuk saudara Muslim mereka, tetapi Allah tidak mengubah situasi mereka?!
Pertanyaan yang muncul di sini: Mengapa kita berdoa tapi doa kita tidak dikabulkan?! Atau setidaknya apa yang kita inginkan tidak tercapai dengan cara yang diperlukan?! Kita memiliki khabar gembira dan kita menunggu kemenangan Allah dengan izin Allah, menunggu pemenuhan janji-Nya dan khabar gembira dari Rasul-Nya (saw).
Kita berdoa kepada Allah (swt) pagi dan petang, diam-diam dan terbuka, untuk kemenangan, kemuliaan, pemerkasaan, dan perubahan situasi umat Islam. Mungkin sebahagian dari kita kehilangan suara dan hati kita dalam kekusyukan berdoa dan kita menangis disaat berdoa. Tapi, kita melihat situasinya masih tetap sama, dan mungkin malah memburuk, lalu apakah penyebabnya?
Alasannya adalah kerana kita tidak mengiringi doa kita dengan usaha. Hal ini bermakna; iaitu, kita tidak melakukan apa yang diperlukan untuk mengubah situasi dan mencapai kemenangan ke atas musuh Islam. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis: Seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah, apakah aku perlu mengikatnya (unta) dan bertawakal kepada Allah, atau melepaskannya dan bertawakal kepada Allah? Dia (saw) berkata: «اعْقِلْهَا لْ» “Ikat dan sandarkanlah (kepada Allah).”
Maksudnya, sangat perlu untuk kita mengambil langkah-langkah mencapai kemenangan atas musuh. Tidaklah cukup bagi kita untuk berdoa tanpa tindakan sewajarnya. Justeru, janganlah kalian membuat permohonan, ‘Ya Allah, tempatkan para penindas dengan penindas dan lepaskan kaum Muslim dari tangan mereka dengan aman’ – lalu doa ini menghentikan kalian dari berjuang mengakhiri kekuasaan para penindas di mana pun mereka berada. Jangan sesekali membuat alasan untuk tidak bergerak melakukan perubahan status quo, yang tidak akan berubah kecuali dengan kembalinya aturan Syariah di muka bumi.
Jadi, kita hendaklah selalu memperbaharui ikrar kita dengan Allah (swt), sebagai signal kesedaran kita hendaklah selalu berhubung dengan-Nya (swt), bersedia untuk mentaati-Nya dan takut pada-Nya, serta mengharapkan pahala dari Allah swt. Kita hendaklah sentiasa mentaati Allah dan Rasul-Nya, menerapkan aturan hukum-Nya dan tunduk pada perintah dan larangan-Nya, menyuruh pada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dengan iman yang tidak tergoyahkan oleh badai taufan. Maka hal ini, demi Allah, merupakan senjata orang mukmin dan keselamatannya, senjata yang tidak dimiliki oleh orang-orang Yahudi mahupun Kristian, mahupun berbagai kaum kuffar di muka bumi.
Kita hendaklah menerapkan pemikiran yang sihat di lapangan, kerana kesenjangan dalam perilaku bukanlah hal yang mudah. Kita perlu `menyentuh’ mereka (umat), membersihkan mereka dari noda dan memurnikan mereka melalui tempaan wadah Islam. Sekaligus perlu sangat berhati-hati untuk memantau dan menjaga diri agar terus melakukan amal-amal kebaikan dan tunduk pada hukum Allah (swt). Kita hendaklah mengacu pada aturan-Nya dalam bersikap, bukan hanya dalam berkata-kata. Kita hendaklah bertaubat dengan tulus, dan bersandar pada Allah (swt) sahaja, serta melaksanakan tindakan yang sepatutnya (tanggungjawab dalam syariat).
Dunia telah menjauhkan kita dari akhirat, seolah-olah kita hidup di dunia yang fana dan meninggalkan yang kekal, sesuai dengan firman Yang Maha Tinggi:
﴿أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ﴾
“Bermegah-megahan (dalam duniawi) telah melalaikan kamu”. (TMQ At-Takatsur [102]: 1).
Ya, banyak manusia teralih perhatinnya oleh keuntungan duniawi dan berlumba-lumba dalam memperoleh harta dan anak-anak – dari ketaatan kepada Allah dan beribadah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh, dan menjadi lalai dari mempelajari Islam dan mengikutinya, menyerunya dan mendukungnya. Hasrat mereka terhadap dunia dan syahwat pada kesenangan semu – telah menghalang mereka dari cita-cita untuk akhirat yang kekal dengan kebahagiaan abadi. Cinta kepada keduanya (dunia dan akhirat) tidak bertemu di hati seorang Muslim. Nabi (saw) bersabda:
«مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ، وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ، فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى»
“Barang siapa mencintai dunianya maka akan merugikan akhiratnya, dan barang siapa mencintai akhirat maka merugikan dunianya, maka utamakan yang kekal daripada yang binasa.”
Ini adalah skala untung rugi yang benar. Jika seorang hamba meninggal dunia, tidak akan ada jalan kembali ke dunia ini, dan pada hari kiamat tidak ada yang bermanfaat baginya kecuali amalnya. Jika amalnya baik, maka itu baik, dan jika amalnya buruk, maka dia tidak boleh menyalahkan siapapun kecuali dirinya sendiri. Ayahnya, anaknya, hartanya, kehormatannya, pemimpinnya tidak akan mampu menyelamatkannya, dan dia tidak akan mendapatkan manfaat dari orang-orang yang dia ikuti dari para penguasa dan tuannya, tetapi mereka semua akan membebaskannya pada Hari Kebangkitan.
Ya, kelemahan telah menyerang hati manusia, dan kelemahan itu adalah penyakit wahn (cinta dunia takut mati); penyakit serius yang membuat kebanyakan manusia gagal untuk menyembah Allah dengan sungguh-sungguh. Ada manusia yang melalaikan kewajipan Allah. Ada yang meninggalkan amar makruf nahi munkar dengan dalih “Serahkan ciptaan kepada Sang Pencipta”!! Ada juga yang lalai menunaikan solat Jumaat dan solat berjemaah, atau menahan zakat, atau memutuskan tali persaudaraan, dan di antara mereka ada yang melakukan apa yang diharamkan Allah. Anda akan menemukan mereka banyak berurusan dengan bunga ribawi dan rasuah. Dan anda akan menemukan sosok penipu, memonopoli, mencuri, dan memakan hak ibu dan saudara perempuannya dalam warisan, berlumba-lumba untuk kesenangan dunia fana.
Begitupun mereka yang lalai berjuang untuk menegakkan kuasa Allah di bumi, mendukung Dien-Nya atau saudara-saudara-Nya kerana cemas akan hidupnya dan bimbang akan dunianya. Mereka lebih menyukai hal-hal duniawi seperti kunjungan keluarga, acara-acara, pekerjaan dan kecanduan media sosial, berbanding peranan asalnya sebagai ibu rumah tangga dan ibu yang memiliki tanggungjawab pendidikan Islam yang benar, sehingga kita melihat apa yang terjadi hari ini, iaitu: disintegrasi keluarga dan moral, penentangan, tidak bersyukur, dan kelemahan dalam hubungan keluarga dan kekerabatan. Sehingga kita tercampak dalam kehinaan dan kerendahan yang tidak sepatutnya terjadi pada kita sebagai umat Muhammad (saw).
Apakah tidak cukup bahawa kita berada dalam penghinaan dan kerendahan?! Bukankah kerinduan akan syurga menggerakkan kita untuk menjual dunia dan membeli akhirat dan membuat hidup kita murah demi Allah?! Tidakkah kita merasakan makna kehormatan dan martabat, sehingga kita bersegera untuk hal itu? Berbangga di hadapan Rabb kita, sehingga Dia memuliakan kita dengan kemuliaan, kemenangan, dan kekuatan di bumi?
﴿مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعاً إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ﴾
“Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya…” (TMQ. Al Fatir [89]: 10)
Justeru, marilah kita kembali ke Dien kita dan memperbaharui ikrar kita pada Allah dan berpegang teguh pada tali Islam. Dan marilah kita berubah, berusaha untuk memiliki keperibadian Islam dalam fikiran, benak, hati, watak dan perilaku kita. Marilah kita bekerja dengan tekun dan tulus hanya kepada Allah untuk melanjutkan jalan hidup yang Islami, sampailah Allah berkehendak menghilangkan kehinaan dan kerendahan dari kita, dan memuliakan kita dengan Khilafah ala Minhaj Nubuwwah. Sesungguhnya Allah (swt) lah yang berkuasa atas segala sesuatu. Allah (swt) berfirman;
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, nescaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (TMQ Muhammad [47]: 7).
Dengan semua ini, kita akan mencintai Allah dan Rasul-Nya dan berjalan untuk bertemu dengannya pada hari ketika harta dan anak-anak tidak akan bermanfaat, kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang sihat.
Ditulis untuk Pejabat Media Pusat Hizb ut Tahrir oleh
Muslima Ash-Shami (Umm Suhaib)