Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I.
Tawakkal berasal dari lafaz tawakkala-yatawakkalu-tawakkul[an]. Maknanya, menjadikan pihak lain sebagai wakîl, yakni wakil seseorang dalam urusan tertentu.
Imam al-Alusi (w. 1342 H) dalam Rûh al-Ma’âni (V/164) mendefinisikan tawakkal sebagai sikap menampakkan kelemahan dan ketergantungan pada pihak lain, serta merasa cukup hanya kepada-Nya dalam melakukan aktiviti yang dia perlukan. Sifat ini membuahkan ketenangan pada jiwa orang yang bertawakkal.
Tatkala ketawakkalan digambarkan sebagai wujud keyakinan kepada pihak yang berkuasa atas segala urusan, maka akidah Islam menescayakan ketawakkalan hanya boleh ditujukan kepada Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Tuntutan tersebut datang dalam bentuk perintah mutlak, tanpa syarat dan tanpa kecuali. Tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya. Hal itu disimpulkan berdasarkan dalil-dalil qathie (bukan multitafsir). Di antaranya: TMQ Ali-Imran [3]: 159; 173, TMQ Al-Furqan [25]: 58, TMQ At-Taubah [9]: 51; 129, TMQ Ath-Thalaq [65]: 3, TMQ Hud [11]: 123, TMQ Al-Anfal [8]: 49.
Allah Swt. berfirman,
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١٣
“(Dia-lah) Allah. Tidak ada sesembahan selain Dia. Hanya kepada Allah, hendaknya kaum mukmin bertawakkal.” [TMQ At-Taghabun (64): 13]
Kandungan ayat yang agung ini selari dengan makna ayat pertama dan kedua dalam TMQ Al-Ikhlas. Ayat pertama berbicara mengenai sifat Allah yang Maha Tunggal. Ayat kedua berbicara tentang ketawakkalan kepada-Nya. Ketawakkalan merupakan konsekuensi logik dari keyakinan bahawa Allâh As-Shamad (hanya Allah tempat bergantung).
Allah Swt. berfirman,
قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٥١
“Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah Allah tetapkan untuk kami. Dialah Pelindung kami. Hanya kepada Allah kaum mukmin wajib bertawakkal.’” [TMQ At-Taubah (9): 51]
Frasa ’alaLlâhi dalam dua ayat di atas yang dikedepankan dari kata kerjanya (taqdîm ’alâ al-fi’l) mengandungi faedah qashr (pengkhususan). Maknanya, ketawakkalan hanya layak ditujukan kepada Allah. Ini hukumnya fardhu. Kefardhuan ini diperjelas oleh berbagai petunjuk yang tegas (qarînah jâzimah) berupa pujian Allah kepada kaum Mukmin yang bertawakkal kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya,
فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ
“Jika kamu telah bertekad, bertawakkallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai kaum yang bertawakkal kepada-Nya.” [TMQ Ali-‘Imran (3): 159]
Dalam ayat yang lainnya, Allah Swt. memberikan ganjaran istimewa,
وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ ٣
“Siapa saja yang bertawakkal kepada Allah, nescaya Dia akan mencukupi (keperluan)-nya.” [TMQ Ath-Thalaq (65): 3]
Rasulullah saw. juga bersabda,
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَاًنًا
“Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, nescaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi burung rezeki, ia pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad, Ibn Majah dan Al-Hakim)
Lantas, apakah ikhtiar bertentangan dengan tawakkal? Bertawakkal kepada Allah dan memenuhi kaedah kausalitas (sebab dan akibat) adalah disebabkan wujudnya ketawakkalan sempurna seseorang. Bahkan, keduanya tidak bertentangan. Bagaikan dua sisi mata wang yang tidak terpisahkan. Mencakup segala ikhtiar yang wajib dilakukan sesuai tuntunan syariah, bila pun dan dimana pun, sebagaimana tuntunan dari baginda Rasulullah saw..
Tawakkal, Kekuatan di Jalan Dakwah
Tawakkal bahkan wajib dijadikan sebagai kekuatan dalam perjuangan. Apalagi, tatkala dakwah telah sampai pada tahapan mengetuk pintu-pintu para pecinta dunia hingga mereka bergerak dengan kebimbangannya menghambat dakwah dan para pengembannya. Allah SWT berfirman,
ٱلَّذِينَ يَسۡتَحِبُّونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا عَلَى ٱلۡأٓخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبۡغُونَهَا عِوَجًاۚ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ضَلَٰلِۢ بَعِيدٖ ٣
“(Itulah) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah serta menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.” [TMQ Ibrahim (14): 3]
Kalimat fî dhalâl[in] yang diikuti dengan sifat ba’îd[in] menggambarkan betapa mereka berada dalam kebimbangan, menggambarkan kerapuhan diri mereka, tidak memiliki pendirian. Adakah para pejuang layak gentar menghadapi mereka yang lemah dan terpedaya? Sekali-kali tidak, bahkan wajib menjadi semakin kukuh berbekal keyakinan dan ketawakkalan kepada Allah ’Azza wa Jalla.
ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ
“(Iaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sungguh manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Oleh itu takutlah kalian kepada mereka.” Perkataan itu malah menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.’” [TMQ Ali-Imran (3): 173]
Jawapan para pejuang pada masa Rasulullah saw. adalah hasbunaLlâhu wa ni’mal Wakîl. Hal ini menunjukkan kekuatan iman yang terucap di lisan dan tersirat dalam sikap teguh di atas jalan kebenaran. Keimanan bahawa Dialah Allah Yang Maha Kuasa, menguasai segala urusan manusia, hingga tidak ada yang layak dijadikan pijakan kecuali Allah. Bukankah Allah Maha Tinggi atas seluruh hamba-Nya?” [TMQ Al-An’am (6): 61]
Al-Hafizh Ibn Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) dalam Badâi’i al-Fawâ’id (II/464-465) menggambarkan, “Tawakkal kepada Allah termasuk sebab yang paling kuat untuk melindungi diri seorang hamba dari gangguan, kezaliman dan permusuhan orang lain yang tak mampu dia hadapi sendiri. Allah akan memberikan kecukupan kepada orang yang bertawakkal kepada-Nya. Siapa saja yang telah diberi kecukupan dan dijaga oleh Allah maka tidak ada harapan bagi musuh-musuhnya untuk mencelakakan dirinya. Bahkan ia takkan ditimpa kesusahan kecuali sesuatu yang lazim terjadi (dirasakan semua makhluk), seperti panas, dingin, lapar dan dahaga. Adapun gangguan yang dikehendaki oleh musuhnya selamanya tidak akan menimpa dirinya.”
Catatan emas perjuangan Rasulullah saw. dan sahabatnya menjadi teladan terbaik dalam bertawakkal kepada Allah. Allah Swt. pun memenangkan mereka meskipun orang-orang kafir benci dan berupaya menjatuhkan din-Nya. Allah Swt. tetap menyempurnakan din-Nya.
يُرِيدُونَ لِيُطۡفُِٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨
“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan ucapan-ucapan mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.” [TMQ Ash-Shaff (61): 8]
Frasa nûraLlâh adalah bahasa kiasan (isti’ârah) dari din Allah. Lafaz nûr (cahaya) yang dinisbatkan (idhâfah) kepada Allah (ismuLlâh al-A’zham) menguatkan kemustahilan bagi siapapun untuk memadamkan cahaya-Nya. Kegagalan mereka pun Allah gambarkan di balik kalimat yurîdûna li yuthfi’û (mereka hendak memadamkan), kata yurîdûna menunjukkan bahawa tujuan jahat mereka menghancurkan din Allah tidak akan terealisasi. Sekadar kemahuan belaka (irâdah), tetapi realisasinya tidak akan tercapai. Apatah lagi Allah Swt. menegaskan bahawa fâ’il (subjek) penyempurna din tersebut adalah Allah sendiri, diungkapkan dalam bentuk ism “mutimmu nûrihi”, menegaskan kepastian tegaknya din Allah di muka bumi. Yakinlah!
Kita, sebagaimana ungkapan Al-Hafizh al-Suyuthi (w. 911 H) dalam Al-Âdâb al-Syar’iyyah (I/234),
نَبْنِي كَمَا كَانَتْ أَوَائِلُنَا * تبَْنِي، وَنَفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلُوْا
“Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami membangun/Kami lakukan sebagaimana mereka telah lakukan.” Wallâhualam.