Penulis: Luthfi Afandi (Pengarah Pusat Kajian Islam Kaffah)
Hijrah Nabi Muhammad saw. merupakan momentum sejarah yang sangat penting dan menentukan bagi tegaknya peradaban Islam yang agung di muka bumi. Hijrah Rasulullah saw. dan para sahabat membuka episod baru bagi perkembangan Islam di Kota Yatsrib (sekitar 447 km dari Mekah) yang kemudian berubah menjadi Madinatur Rasul atau Madinah al-Munawwarah setelah tegaknya Daulah Islam di sana.
Latar Belakang
Sesungguhnya risalah Islam yang dibawa dan didakwahkan oleh Rasulullah saw. wajib diterapkan secara kaffah (total, menyeluruh). Agar syariat Islam dari berbagai aspek dapat diterapkan secara kaffah, mutlak memerlukan wilayah penerapannya. Salah satu syarat penting tempat penerapan Islam adalah wilayah yang kekuasaan serta keamanannya mutlak ada di tangan kaum muslim.
Setelah sekitar 13 tahun Rasulullah saw. berdakwah di Mekah, ternyata kota tersebut tidak memenuhi kriteria daerah yang diharapkan. Di antara sebabnya adalah kerana penolakan serta penentangan dakwah yang sangat keras dari berbagai tokoh dan masyarakatnya.
Oleh kerana itu, Rasulullah saw. melakukan hal yang disebut dengan “thalab an-nushrah”. Beliau menawarkan Islam ke berbagai pimpinan kabilah yang memiliki kekuatan politik dan ketenteraan. Beliau meminta mereka melindungi dakwah Islam dan menjadikan wilayah mereka sebagai pusat peradaban Islam.
Rasulullah saw. mendatangi dan mendakwahi berbagai kabilah yang memenuhi kriteria, seperti Bani Tsaqif, Bani Kindah, Bani Kilab, Bani Amir bin Sha’sha’ah, dan Bani Hanifah. Namun, mereka menolak ajakan Rasulullah saw., mulai dari cara yang halus hingga kasar.
Berbagai upaya dan momentum dimanfaatkan oleh Rasulullah saw., tidak terkecuali momentum musim haji. Saat haji, Mekah banyak didatangi oleh tokoh berpengaruh dari berbagai wilayah. Sinar harapan muncul setelah Rasulullah saw. mendakwahi enam orang Suku Khazraj dari Yathrib (Madinah) yang sedang menunaikan ibadah haji. Mereka kembali ke Yathrib dan menceritakan keislaman mereka kepada kaumnya.
Musim haji tahun berikutnya, yakni tahun ke-12 kenabian, datanglah 12 orang lelaki penduduk Yathrib dan menyatakan sumpah setia (baiat) kepada Rasulullah saw. di ‘Aqabah (Mina) untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak berdusta dan tidak mengkhianati Rasulullah saw.. Peristiwa ini dikenal dengan Baiat Aqabah I.
Ketika mereka kembali ke Yathrib, Rasulullah saw. menghantar sahabat, Mush’ab bin Umair untuk menyertai mereka sekaligus membawa misi khusus, yakni membimbing orang-orang yang sudah masuk Islam dan mendakwahi tokoh-tokoh Yathrib yang berpengaruh. Asbab ajakan Mush’ab bin Umair inilah, tokoh yang sangat berpengaruh (Saad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair) memeluk Islam.
Kemudian, pada musim haji berikutnya (tahun ke-13 kenabian), sebanyak 75 penduduk Madinah yang sudah masuk Islam berkunjung ke Mekah. Nabi saw. bertemu mereka di Aqabah, Mina. Di situlah mereka mengucapkan baiat. Isinya sama dengan baiat yang pertama, dengan penambahan isyarat jihad. Mereka berjanji akan membela Nabi saw. sebagaimana membela anak-isteri mereka. Baiat ini dikenal dengan Baiat Aqabah II.
Peristiwa inilah yang mendorong Rasulullah saw. makin kuat dan yakin menjadikan Yathrib sebagai kota tujuan hijrah, yakni kerana dukungan dan penerimaan terhadap dakwah Islam para penduduknya serta kesediaan daerah mereka dijadikan sebagai pusat peradaban Islam.
Rasulullah saw. meninggalkan rumah beliau untuk melakukan hijrah bersama sahabat Abu Bakar Shiddiq pada malam 27 Safar tahun ke-14 kenabian atau bertepatan pada 13 September 622, setelah sebelumnya gelombang hijrah dilakukan para sahabat.
Setelah beliau saw. tiba di Quba’ pada 8 Rabiulawal tahun ke-14 kenabian dan membina masjid di sana, empat hari setelahnya, Rasulullah saw. tiba di Madinah dengan disambut gegak gempita oleh penduduk Madinah.
Titik Awal Penegakan Daulah Islam
Sejak tiba di Madinah, Rasulullah saw. memerintahkan para sahabat membina masjid sebagai tempat solat, berkumpul, bermusyawarah, dan mengatur berbagai urusan kaum muslim sekaligus memutuskan perkara yang ada di antara mereka. Beliau menjadikan Abu Bakar dan Umar sebagai dua orang pembantunya. Beliau bersabda, “Dua (orang) pembantuku di bumi adalah Abu Bakar dan Umar.” Kaum muslim senantiasa berkumpul di sekitar beliau dan merujuk semua persoalan kepada beliau.
Rasulullah Saw. juga mengadakan perjanjian dengan Yahudi dari Bani Dhamrah, Bani Mudlij, Kafir Quraisy, Penduduk Ailah, Jarba dan Adzrah. Di antara tujuannya, agar tidak ada yang menghalangi orang yang menunaikan ibadah haji dan agar tidak ada provokasi pada saat bulan haram (Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram, Rajab).
Posisi Rasulullah saw. sebagai seorang ketua negara sangat tampak ketika beliau mengangkat para wali (setaraf Ketua Wilayah). Rasulullah saw. mengangkat ‘Uttab bin Usayd menjadi wali di Mekah, Badzan bin Sasan menjadi wali Yaman dan Shana’a, Uthman bin Abil al-’Ash menjadi wali di Thaif. Berikutnya ‘Ala’ bin al-Hadhrami menjadi wali di Bahrain, ‘Amr bin al-Ash menjadi wali di Oman, Abu Sufyan bin Harb menjadi wali di Najran, Amr bin Said bin al-Ash menjadi wali di Wadi al-Quro, Yazid bin Abiy Sufyan menjadi wali di Tayma, Tsumamah bin ‘Atsal menjadi wali di Yamamah, Farwah bin Musayk menjadi wali di Murad, Zabid dan Madhij serta Abi Rabi’ah al-Makhzumi menjadi wali di Yaman.
Selain mengangkat wali, untuk membantu mengurus berbagai urusan kaum muslim, Rasulullah saw. juga mengangkat amil (setaraf ketua daerah). Rasulullah saw. mengangkat Syahr al-Hamdani menjadi amil di Yaman, Abu Musa al-‘Asy’ari menjadi amil di Zabid dan ‘Adn, Al-Harits bin ‘Abd al-Muthallib menjadi amil sebahagian Mekah, Abi Syaibah menjadi amil di Thaif, ‘Amr bin Hazm al-Anshari, menjadi amil di Najran, Qays bin Malik al-Arhabi menjadi amil di Bani Hamdan, Ibnu Mandah menjadi amil Hajar, Sawad bin al-Ghaziyah menjadi amil di Khaibar, Ziyad bin Labib menjadi amil di Hadhramaut, dan Muadz bin Jabal menjadi amil di Janad.
Dalam bidang hukum, Rasulullah saw. mengangkat qadhi (hakim) untuk memutuskan perkara hukum di tengah masyarakat. Beliau mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai qadhi di Yaman, Abdullah bin Naufal sebagai qadhi di Madinah, Muadz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy’ari sebagai qadhi di Yaman (Utara dan Selatan). Rasulullah saw. juga secara langsung menjatuhkan hukuman kepada orang yang melanggar hukum Islam.
Bukan hanya bidang pemerintahan dan perundangan, Rasulullah saw. juga sangat memperhatikan berbagai fungsi administrasi. Beliau mengangkat para sekretariat untuk mengatur kepentingan masyarakat. Di antaranya Ali bin Abi Thalib bertugas sebagai penulis perjanjian, Muaiqib bin Abi Fathimah mengurusi cincin beliau (menjadi cop mohor negara) dan sebagai penulis ghanimah, Hudzaifah menjadi pencatat hasil pendapatan dari Tanah Hijaz, Zubair bin Awam menjadi petugas pencatat zakat, Mughirah bin Syu’bah menjadi pencatat hutang dan transaksi muamalah, dan Surahbil bin Hisan menjadi penulis kepada raja-raja. Beliau saw. juga mengangkat beberapa komandan ekspedisi dan mengirimkan mereka ke luar Madinah.
Jadi, sejak tiba di Madinah, beliau telah mendirikan Daulah Islam. Negara tersebut dijadikan pusat pembangunan masyarakat yang berdiri di atas asas yang kuat dan pusat persiapan kekuatan yang cukup untuk melindungi negara dan menyebarkan dakwah.
Setelah seluruh permasalahan stabil dan terkawal, beliau mulai menghilangkan rintangan-rintangan fizik yang menghalang di tengah jalan penyebaran Islam. Dengan demikian, beliau berkedudukan sebagai ketua negara, qadhi, dan panglima ketenteraan. Beliau memelihara berbagai urusan kaum muslim dan menyelesaikan perselisihan-perselisihan di antara mereka.
Perubahan Menyeluruh
Hijrah yang dilakukan setelah 13 tahun dakwah di Kota Mekah itu telah mengubah kaum Muhajirin yang tertindas (mustadh’afin) menjadi warga masyarakat di Kota Madinah selain kaum Ansar. Bahkan, mereka menjadi pelopor perubahan dunia pada masa berikutnya.
Hijrah itu juga telah mengubah keadaan kaum musyrik penyembah berhala dari kalangan Aus dan Khazraj di Kota Madinah menjadi orang-orang mukmin yang telah menolong dan melindungi perjuangan Nabi Muhammad saw.. Lebih dari itu, mereka menjadi kaum yang mulia sebagaimana disebut-sebut dalam Al-Quran mahupun as-Sunnah.
Hijrah itu juga yang telah mengubah kaum muslim—yang pada awalnya merupakan kelompok dakwah di bawah pimpinan Nabi Muhammad saw.—menjelma menjadi suatu umat yang memiliki kemuliaan, kedudukan, dan kekuasaan. Rasulullah saw. pun akhirnya menjadi seorang penguasa (al-hâkim) yang menjalankan pemerintahan dan kekuasaan menurut apa yang diturunkan Allah Swt. kepada beliau.
Hijrah telah mengubah masyarakat Madinah yang terpecah-pecah dalam kabilah-kabilah menjadi satu umat dan satu negara di bawah kepemimpinan risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw.. Hijrah itulah yang menandai perubahan suatu masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat Islam yang memiliki peradaban yang luhur kerana diliputi oleh nilai-nilai dan hukum-hukum Ilahi.
Inilah awal bersatunya berbagai bangsa yang memiliki hukum, tata negara, adat-istiadat, serta bahasa yang berbeza-beza menjadi umat yang satu. Hukum tata negaranya satu. Bahasanya satu di bawah naungan Islam. Mereka menjadi satu umat (ummat[an] wâhidah).
Dengan hijrah, kekufuran lenyap diganti keimanan. Jahiliyah musnah tertutup cahaya Islam. Ketertindasan berubah menjadi kemuliaan dan keagungan. Murka Allah Swt. sirna. Sebaliknya, redha-Nya datang.
Refleksi Hijrah Saat Ini
Banyak orang memandang hijrah dari aspek spiritual dan individual belaka. Padahal, seharusnya kita membahas seluruh kepentingan ideologis dari peristiwa hijrah itu dari sudut pandang Islam dan misi dakwah Rasulullah saw..
Kita perlu sedar bahawa hijrah bukanlah semata-mata menandai awal adanya kalender hijrah. Yang lebih penting, hijrah adalah peletakan batu pertama bangunan Negara Islam. Selama sekitar 1300 tahun negara Islam menyatukan negeri-negeri tetangganya, membebaskan para penduduknya yang tertindas dan membawa mereka pada rahmat Allah Swt. melalui Islam. Hijrah adalah peristiwa yang menjadi titik transformasi dari idea-idea Islam sebagai ideologi yang kemudian diterapkan secara praktik oleh sebuah negara.
Dalam konteks kekinian, hijrah wajib kita maknai sebagai upaya mengubah sistem jahiliyah yang saat ini banyak diterapkan di berbagai negara kaum muslim—kapitalisme sekular dan sistem politik demokrasi—menjadi sistem Islam.
Kondisi saat ini mengingatkan kita akan kondisi Kota Mekah ketika Rasulullah saw. diutus yang dipenuhi berbagai kesesatan, kezaliman, dan kerosakan. Dalam bidang akidah, pada saat itu, masyarakat menyembah berhala. Dalam bidang ekonomi, masyarakat melakukan transaksi dengan akad ribawi, juga terbiasa mengurangi takaran dan timbangan. Dalam bidang sosial, perzinaan merajalela, khamar di mana-mana, bayi perempuan dikubur hidup-hidup, serta kerap terjadi konflik antara suku.
Saat ini kondisinya tidak jauh berbeza. Sistem ekonomi kapitalisme yang ditopang oleh sistem perbankan ribawi menghasilkan kesenjangan ekonomi yang sangat tinggi serta besarnya angka kemiskinan.
Sistem politik berkiblat pada sistem demokrasi yang berasal dari Yunani, menghasilkan elit politik yang tidak bermoral, meraih jawatan hanya untuk memperkaya diri tanpa memperhatikan kondisi masyarakat.
Berbagai perilaku jahiliyah bahkan lebih masif lagi terjadi, seperti perzinaan yang secara terbuka dipertontonkan, kempen L6BT disemarakkan tanpa segan silu, kilang minuman keras yang secara legal memproduksi jutaan minuman haram, pengguguran anak yang sejatinya merupakan pembunuhan terhadap jutaan nyawa, hingga konflik antara elit yang merebut kerusi dan kekuasaan lima tahun sekali.
Kondisi ini sudah pasti wajib kita ubah. Jika kita menjadikan Rasulullah saw. sebagai teladan, perubahan yang perlu kita lakukan hendaklah perubahan yang menyeluruh dan fundamental. Persis sebagaimana Rasulullah saw. ketika mengubah masyarakat jahiliyah yang rosak menjadi masyarakat Islam yang beradab. Perubahan yang wajib kita lakukan bukan sekadar perubahan individual, tetapi perubahan sistem kehidupan. Hal ini kerana, permasalahan dunia Islam saat ini pun bukan sekadar masalah individual, tetapi masalah sistemik.
Rasulullah saw. mencontohkan kita melakukan aktiviti dakwah, mengajak masyarakat agar mahu menerapkan aturan Allah Swt. dan siap memperjuangkannya.
Dakwah yang Rasulullah saw. lakukan tidak hanya berorientasi pada perubahan individual, tetapi berorientasi perubahan sistemik, yakni mengubah sistem politik, sistem perundangan, sistem ekonomi, sistem sosial budaya, dan lain-lain.
Ketika Rasulullah saw. mengubah masyarakat dari jahiliyah menjadi Islam, langkah yang beliau lakukan adalah dengan mendirikan Daulah Islam. Daulah Islam inilah yang secara efektif dapat menerapkan syariah Islam secara kaffah sekaligus mampu menyingkirkan berbagai sistem dan kehidupan jahiliyah.
Oleh kerananya, jika kita berharap dunia saat ini menjadi lebih baik, sejahtera, dan beradab, perlu ada upaya sungguh-sungguh agar syariat dan hukum Allah Swt. boleh diterapkan secara kaffah. Penerapan syariat Islam kaffah hanya boleh dilakukan jika Khilafah tegak. Tanpa Khilafah, perubahan menyeluruh dan fundamental menuju masyarakat Islam yang beradab hanya akan menjadi angan-angan. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.