TUNTUTAN MENDESAK TERHADAP KONSEP POLITIK YANG TEPAT BAGI KEBANGKITAN UMAT ISLAM – Bahagian 1
(وَإِذا قيلَ لَهُم لا تُفسِدوا فِي الأَرضِ قالوا إِنَّما نَحنُ مُصلِحونَ)
“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerosakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” [TMQ Al-Baqarah (2):11]
Allah (swt) menurunkan ayat ini di Madinah untuk membahas tindakan orang-orang munafik yang membuat berbagai masalah bagi umat Islam yang tinggal di Negara Islam. Al-Quran diturunkan untuk umat manusia sampai Hari Pembalasan, dan kita melihat makna umum dari ayat-ayat tersebut tanpa membatasi pada azbabun nuzul-nya. Meskipun orang-orang munafik di Madinah adalah alasan di sebalik diturunkannya ayat ini, penerapan pesanannya adalah makna yang umum.
Menurut kaedah usul yang masyhur العِبرةُ بعموم اللفظ لا بخصوص السبب yang bermaksud “Ibrah/pelajaran itu diambil dari keumuman lafaz bukan dari kekhususan sebab”, ayat ini bermakna umum dan berlaku untuk semua orang yang menimbulkan masalah bagi umat Islam. Allah (swt) memberitahu kita beberapa pesan yang sangat penting tentang dunia dalam ayat yang sangat singkat ini:
1) Di dunia ini, selalu ada orang-orang yang membuat masalah bagi orang lain.
2) Sebahagian orang akan cuba menghentikan mereka.
3) Tetapi para perosak ini akan menyangkal kerosakan mereka, bahkan menutupi tindakan (melakukan kerosakan) mereka dengan kata-kata manis untuk cuba menipu orang lain.
4) Allah (swt) tidak menyukai kerosakan terhadap manusia; kerana itu, Dia membongkar para perosak ini dan kerosakan mereka.
Berkaitan dengan ayat ini dan makna-makna tersebut, di sini kita membahas konsep-konsep politik penting yang perlu dimiliki umat untuk mencapai kebangkitan.
Mengapa umat perlu memiliki konsep politik yang benar?
Ada tiga alasan penting untuk membahas topik ini:
Pertama, topik hubungan internasional itu penting dalam Islam kerana Allah (swt) menurunkan sebuah Surah di Mekah untuk menunjukkan urgency atau perlunya tindakan mendesak bagi umat Islam.
(الم غُلِبَتِ ٱلرُّومُ فِى أَدْنَى ٱلْأَرْضِ وَهُم مِّن بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ فِى بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ ٱلْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِن بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ ٱلْمُؤْمِنُونَ)
“Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman,” [TMQ Ar-Rum (30):1-4]
Seperti yang kita ketahui bahawa Al-Quran diturunkan selama 23 tahun dan umum disepakati oleh para ulama bahawa bahagian pertama dari wahyu, khususnya di Mekah, ditujukan untuk membentuk keyakinan/akidah umat Islam baru. Namun, apa yang menarik untuk dicatat bahawa surah ini dan ayat-ayat ini, yang berbicara tentang hubungan internasional, diturunkan hanya 5 tahun setelah turunnya wahyu pertama. Di dalam ayat-ayat ini, Allah (swt) dengan jelas menunjukkan bahawa keyakinan kita bersifat menyeluruh, yakni spiritual, politik, dan global.
Alasan kedua untuk membahas pentingnya konsep-konsep politik adalah bahawa topik ini sangat relevan dengan situasi kita saat ini sebagai umat Islam. Saat ini, kita telah menjadi korban secara langsung dari cara negara-negara bangsa di dunia saat ini menjalankan hubungan internasional mereka. Negara-negara, baik kuat mahupun lemah, silih berganti menciptakan masalah bagi kaum Muslimin, menindas, membahayakan, dan melecehkan kita, seperti digambarkan:
(وَإِذا قيلَ لَهُم لا تُفسِدوا فِي الأَرضِ قالوا إِنَّما نَحنُ مُصلِحونَ)
“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerosakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” [TMQ Al-Baqarah (2):11].
Entiti Yahudi menindas kaum Muslim di Palestin; India menindas dan membahayakan umat Islam di Kashmir dan di seluruh India; China menindas dan membahayakan umat Islam di Uyghur; Myanmar menindas dan membahayakan Muslim Rohingya; Saudi menindas dan membahayakan umat Islam Yaman; dan demikianlah senarai terus berlanjutan.
Alasan penting ketiga adalah bahawa umat Islam telah diberikan tugas dan tanggungjawab yang penting untuk mengemban Islam ke seluruh dunia, dan itu bermakna kita hendaklah menyampaikan Islam kepada semua orang di planet ini.
(وَما أَرسَلناكَ إِلّا رَحمَةً لِلعالَمينَ)
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [TMQ Al-Anbiya (21):107]
Ibnu Abbas mengatakan ‘aalamiin‘ bermaksud rahmat baik bagi Muslim mahupun orang kafir. Ibnu Mas’ud mengatakan, Islam akan menjangkau seluruh dunia. Untuk memenuhi kewajipan ini, kita perlu memahami bagaimana dunia diatur dan bagaimana dunia berjalan, sehingga kita mampu menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.
Ringkasnya, kajian dan pemahaman hubungan internasional itu penting kerana Allah (swt) menyatakan kepentingannya di dalam Al-Quran; kita adalah mangsa (terkesan) dari cara bagaimana hubungan internasional dijalankan pada hari ini dan kita juga memiliki kewajipan untuk mengemban Islam ke seluruh dunia.
Dalam konteks ini, lima konsep politik penting yang perlu difahami oleh umat Islam demi mencapai kebangkitan adalah sebagai berikut,
- Politik.
- Motivasi politik luar negeri,
- Konstelasi internasional
- Strategi politik,
- Taktik politik.
- POLITIK
Politik didefinisikan sebagai “pengaturan urusan umat – secara internal dan eksternal“. Politik secara praktik dilakukan oleh negara, dan umat akan meminta pertanggungjawaban negara dalam tugasnya itu. Pengaturan urusan secara internal umat dilakukan dengan menerapkan ideologi Islam. Ini tercermin dalam kebijakan (dasar) domestik negara Islam dan mencakupi aspek-aspek seperti keadilan, percukaian, keamanan, aspek sosial, kesihatan, pendidikan, dll. Pengaturan urusan umat secara eksternal dilakukan dengan menjalin hubungan dengan bangsa-bangsa lain dan mengemban dakwah Islam sebagai ideologi kepada dunia, dan ini tercermin dalam dasar luar negeri negara Islam.
Rasulullah (saw) bersabda,
«كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ»
“Dahulu Bani Israel diurus dan dipelihara oleh para nabi, setiap kali seorang nabi meninggal digantikan oleh nabi yang lain, dan sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku, dan akan ada para Khalifah, dan mereka banyak.”
Para sahabat bertanya,
«فَمَا تأمرنا؟»
“Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?”
Nabi (saw) bersabda,
«فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ»
“Penuhilah baiat yang pertama dan yang pertama, berikanlah kepada mereka hak mereka, dan sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa yang mereka diminta untuk mengatur dan memeliharanya.” [HR. Bukhari dan Muslim].
Imam An-Nawawi menyatakan di dalam penjelasannya (syarah) tentang hadis Nabi ini,
«يَتَوَلَّوْنَ أُمُورهمْ كَمَا تَفْعَل الْأُمَرَاء وَالْوُلَاة بِالرَّعِيَّةِ»
“Mereka mengatur urusan mereka, sebagaimana para Amir dan Wali Islam mengurusinya.”
Demikian juga para Nabi (sebagaimana) mengatur urusannya dengan Wahyu ilahi, demikian pula para amir dan wali Islam. Lebih lanjut lagi beliau menyatakan,
وَالسِّيَاسَة الْقِيَام عَلَى الشَّيْء بِمَا يُصْلِحهُ “
Politik: “Pelaksanaan atas suatu masalah, dengan yang mereformasinya untuk menjadi lebih baik.”
Oleh kerana itu, mengatur urusan manusia dengan syariah adalah perintah dari Allah (swt) yang akan kita dipertanggungjawabkan ketika kita dikumpulkan di hadapan-Nya (swt).
Ringkasnya, penting untuk memahami dan menerapkan konsep politik dari politik itu sendiri, serta memahami bahawa individu-individu mengatur diri mereka sendiri menjadi bangsa. Bangsa-bangsa ini dengan sendirinya akan membentuk suatu negara/pemerintahan yang perlu/akan mengurus urusan dalam dan luar negeri bangsa-bangsa tersebut. Saat ini, bangsa-bangsa manusia telah mengatur diri mereka dengan model negara bangsa dan negara-negara bangsa ini akan berinteraksi satu sama lain melalui dasar luar negeri.
- MOTIVASI POLITIK LUAR NEGERI
Semua bangsa mempraktikkan politik, tetapi sebahagian dari mereka lebih baik dari yang lain. Mengapa bangsa-bangsa mengembangkan dasar luar negeri? Apa yang memotivasi suatu bangsa untuk melampaui batas-batas negaranya dan berinteraksi dengan bangsa lain? Bangsa manusia akan melangkau batas mereka serta berinteraksi dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain untuk mencapai kepentingan mereka sendiri.
Ada dua jenis kepentingan yang memotivasi semua bangsa untuk saling berinteraksi dan bersaing dengan satu sama lain:
- Pertama, kepentingan non material: bangsa-bangsa berusaha untuk berinteraksi dan bersaing kerana mereka mencintai bangsa mereka sendiri atau mereka mencintai ideologi mereka sendiri, cara hidup, budaya, dan peradaban mereka sedemikian rupa, sehingga mereka merasakan orang-orang atau ideologi mereka mestilah menjadi nombor satu di dunia. Kecintaan dan keinginan untuk menjadi nombor satu di dunia ini mendorong mereka untuk mendominasi bangsa-bangsa dan ideologi lain. Inilah salah satu alasan utama mengapa beberapa negara di dunia berusaha untuk menyakiti umat Islam, kerana mereka menganggap Islam dan kaum Muslimin sebagai ancaman terhadap ideologi atau cara hidup mereka. Hal ini memotivasi mereka untuk menyerang idea-idea Islam dan mengobarkan perang pemikiran serta budaya melawan Islam, sehingga mengancam kaum Muslimin.
Allah (swt) mengingatkan fakta ini dalam Al-Quran:
(يَـٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ ٱلْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَٰهِهِمْ وَمَا تُخْفِى صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلْـَٔايَـٰتِ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (kerana) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” [TMQ Ali ‘Imran (3):118].
Demikianlah alasan pertama yang memotivasi sebahagian bangsa dunia untuk menetapkan dasar luar negeri mereka. Mereka mengejar kepentingan non-material.
- Alasan kedua mengapa bangsa-bangsa menetapkan kebijakan luar negeri adalah kerana kepentingan material yang mereka cari di luar perbatasan mereka. Ini boleh jadi berupa kawalan terhadap sumber alam seperti minyak, mengakses tenaga kerja (seperti pemerdagangan hamba/perbudakan), membuka pasar untuk barang dan perkhidmatan mereka, menjamin laluan perdagangan, atau bahkan melemahkan negara lain yang berusaha membahayakan mereka. Tidak ada keraguan bahawa Allah (swt) telah memberkahi negeri-negeri Muslim dengan sumber alam yang sangat berlimpah ruah dan Dia telah memberi kita lokasi-lokasi strategik di dunia. Beberapa negara Non-Muslim berusaha mencuri sumber alam ini dan menguasai lokasi kita untuk keperluan egoisme mereka sendiri.
Dua motivasi ini menjadikan kita kaum Muslimin dan negeri-negeri kita sebagai sasaran langsung di depan mata oleh beberapa negara bangsa dunia. Malah kita menjadi objek sasaran dasar luar negeri mereka.
Wawasan motivasi ini penting kerana akan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang tindakan-tindakan politik yang terjadi di dunia dengan cara yang paling tepat dengan kebenaran dan sesuai dengan realiti sebanyak mungkin. Kita juga akan dapat melihat melangkaui pembohongan yang dilakukan oleh para ahli politik, sekaligus mengetahui niat sebenar di sebalik segala dasar luar negeri mereka. Senjata-senjata perang melawan pengganas, senjata pemusnah skala besar, perdamaian, kestabilan, kemakmuran, pemulihan demokrasi, pemberian hak kebebasan kepada orang ramai, melindungi lingkungan/persekitaran, campur tangan atas alasan kemanusiaan: ini semua adalah beberapa slogan yang telah digunakan untuk membenarkan tindakan agresif mereka terhadap kaum Muslimin, bahkan terhadap non-Muslim juga. Namun, slogan-slogan ini hakikatnya hanyalah omongan kosong yang menutupi niat jahat mereka.
Ringkasnya, setiap bangsa akan menetapkan dasar luar negeri untuk berinteraksi dan bersaing satu sama lain demi mencapai kepentingan material dan non-material. Islam, kaum Muslimin, dan negeri-negeri kita telah menjadi objek sasaran kepentingan mereka. Segala interaksi melalui dasar luar negeri negara bangsa inilah yang menciptakan situasi internasional yang perlu dipelajari dan difahami dengan benar oleh umat Islam, jika kita ingin melindungi diri kita sendiri dan mengemban ideologi (Islam) ini kepada dunia.
(Bersambung ke bahagian 2)