[NAFSIYAH RAMADHAN] JANGAN SEKADAR MENJADI MUSLIM RAMADHAN
Muslim yang beriman pasti akan menanam cita-cita agar dia menjadi lebih baik, lebih takwa di bulan Ramadhan, malah tetap istiqamah walau setelah selesai Ramadhan. Tahukah anda amal yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah keteguhan atau keistiqamahan. Nabi saw. pernah dimintai nasihat oleh seorang sahabat. Beliau lalu bersabda,
قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ
Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah.” Kemudian istiqamahlah! (HR Muslim).
Selain itu, Allah SWT juga menjanjikan darjat yang agung bagi siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang istiqamah:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sungguh orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” lalu mereka istiqamah, kepada mereka malaikat akan turun dengan mengatakan, “Janganlah kalian takut dan jangan pula merasa sedih. Bergembiralah dengan syurga yang telah Allah janjikan kepada kalian.” [TMQ al-Fushshilat (41): 30].
Seorang muslim perlu perhatikan perkara berikut agar menjadi hamba yang senantiasa istiqamah dalam ketaatan:
Pertama: Ingat akan kematian
Setiap manusia akan mati dan dia akan kembali kepada Allah SWT. Pada saat itu tak ada yang dapat menyelamatkan dirinya selain ketakwaan. Banyak ayat yang menyebutkan penyesalan manusia di akhirat kerana melepaskan diri dari agama Allah SWT. Firman Allah swt berfirman,
وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ
“(Alangkah ngerinya) jika engkau melihat orang-orang berdosa itu menundukkan kepala mereka di hadapan Tuhan mereka (seraya berkata), “Duhai Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar. Kerana itu kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal soleh. Sungguh kami adalah orang-orang yakin.” [TMQ as-Sajdah (32): 12].
Kedua: Taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya secara mutlak
Sikap istiqamah boleh hilang ketika manusia lebih memilih mentaati pihak selain Allah SWT dan Rasul-Nya. Padahal kelak pada Hari Kiamat, orang-orang seperti itu akan menyesal. Mereka bahkan akan melaknat para pegawai, pemimpin, dan raja yang dulu mereka taati di dunia (Lihat: TMQ al-Ahzab (33): 66-68]).
Ketiga: Taat perintah Allah SWT tanpa memisahkan satu hukum dengan hukum yang lain
Hari ini hukum-hukum Islam dipilah dan dipilih seperti makanan buffet. Yang mana suka, ambil. Mana tak suka ditinggalkan. Pilihan hukum syarak berdasarkan manfaat tertentu, bukan atas kesedaran takwa.
Keempat: Bersabar dalam ketaatan
Istiqamah dalam ketaatan memerlukan kesabaran. Sebab, orang yang istiqamah akan dihadapkan pada ragam ujian sampai ia menghadap Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia mengira bahawa mereka dibiarkan saja berkata, `Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji lagi?” [TMQ al-Ankabut (29): 2].
Kelima: Tetap beramal sekalipun hanya sedikit
Allah paling mencintai orang yang istiqamah (dilakukan) cintai adalah yang terus dilakukan pun sedikit. Nabi saw. bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَال إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling Allah cintai adalah yang berterusan meski hanya sedikit.” (HR Muslim).
Demikianlah, keistiqamahan adalah buah yang harus diraih pasca-Ramadhan. Ada sebelas bulan lagi yang perlu kita jalani hingga bertemu dengan Ramadhan seterusnya pada tahun depan. Bi iznillah.
#NafsiyahRamadhan
#Nafsiyah
#tarbiahmuslimahraihkemenangan
#muslimahBertakwa