[Syarah Hadis] Adab Bertanya, Melaksanakan Perintah, dan Menjauhi Larangan (Al-Arba’un an-Nawawiyah, Hadis ke-9)
Penulis: Ustaz Yahya Abdurrahman
ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ، فَإِنَّمَا هَلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنِ الشَّيْءِ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِالشَّيْءِ فَائْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Biarkan aku apa yang aku biarkan kepada kalian. Sesungguhnya kebinasaan umat sebelum kalian adalah kerana pertanyaan dan penyelisihan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jadi, jika aku melarang sesuatu atas kalian, tingggalkan; dan jika aku memerintahkan sesuatu, lakukanlah sesuai batas kemampuan kalian.” (HR Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, Al-Humaidi, Ibnu Hibban, Abu Ya’la, dll.).
Hadis ini dikeluarkan oleh Al-Humaidi dari Sufyan. Imam Ahmad mengeluarkannya dari Yazid dari Muhammad bin Ishaq. Imam Bukhari mengeluarkannya dari Ismail bin Abi Uwais dari Malik. Imam Muslim mengeluarkannya dari Qutaibah bin Said dari Al-Mughirah al-Hizami dan dari Ibn Abi Umar dari Sufyan. Abu Ya’la mengeluarkannya dari Wahab dari Khalid, dari Abdurrahman bin Abi Ishaq al-Madini. Ibn Hibban mengeluarkannya dari Al-Fadhl bin Al-Hubab al-Jumahi, dari Ibrahim bin Basyar dari Sufyan. Kelimanya (Sufyan bin Uyainah, Muhammad bin Ishaq, Malik, Al-Mughirah al-Hizami, Abdurrahman bin Ishaq al-Madini) dari Abu az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shahr ad-Dawsi ra..
Imam Muslim, An-Nasai, At-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, Ibn Hibban, Ibn Khuzaimah, dan lainnya juga mengeluarkan hadis tersebut dengan redaksi sedikit berbeza melalui beberapa jalur dari penuturan Abu Hurairah ra..
Imam An-Nawawi memasukkan hadis ini dalam Al-Arba’ûn an-Nawawiyah hadis kesembilan. Hadis ini termasuk bahagian dari salah satu pokok ajaran agama yang memberikan tuntunan sikap bagi seorang muslim terhadap larangan dan perintah.
Lafaz “dzarûnî … wa ikhtilâfihim ‘alâ anbiyâihim” meski redaksinya berita, maknanya adalah larangan menyelisihi nabi dan banyak bertanya. Menyelisihi Nabi sudah diketahui oleh semua bahawa hukumnya adalah haram..
Adapun bertanya, maka qarinah yang ada menunjukkan larangan itu bermakna makruh dan itu pun hanya untuk jenis pertanyaan tertentu, bukan umum untuk semua pertanyaan. Sebabnya, Allah Swt. justeru memerintahkan untuk bertanya kepada ulama jika kita tidak tahu (lihat QS An-Nahl [16]: 43; Al-Anbiya’ [24]: 7).
Dalam beberapa hadis, Rasul saw. juga memerintahkan untuk bertanya. Begitu pun para sahabat yang banyak bertanya kepada Rasul saw., beliau tidak melarangnya dan beliau pun menjawab pertanyaan mereka.
Ringkasnya, pertanyaan itu ada dua jenis:
Pertama, pertanyaan yang dilarang, di antaranya pertanyaan yang menimbulkan keraguan (tasykîkiyah) dalam akidah atau tentang kelayakan syariat. Juga pertanyaan tentang perkara yang berada di luar jangkauan akal manusia, seperti pertanyaan tentang roh (nyawa), tentang zat Allah, tentang zat/hal ghaib, tentang jin, malaikat, dan sebagainya.
Juga dilarang pertanyaan dalam rangka mendebat (li al-jidâl), pertanyaan yang berputar-belit dan menyulitkan untuk membuat yang ditanya agar tampak bodoh (as’ilah ta’annutiyah) dan pertanyaan untuk mengejek atau memperolok (istihzâ’). Begitu pula dilarang pertanyaan tentang details suatu masalah secara berlebihan yang sebenarnya tidak perlu (tanathu’i), seperti pertanyaan apakah haji diwajibkan setiap tahun, yang menjadi asbabul wurud hadis ini.
Juga pertanyaan yang dibuat-buat (takalluf) atau pertanyaan yang mengada-ada; termasuk pertanyaan: kalau, jika, seandainya begini bagaimana; yakni tentang sesuatu yang bersifat sangkaan, bukan yang faktual atau dugaan kuat akan dijalani atau dihadapi. Dalam hal ini, para sahabat, tabiin, dan tabi’ut tabiin, tidak menyukai pertanyaan tentang sesuatu yang belum ada atau belum terjadi. Oleh kerana itu, mereka bersikap tawaquf, tidak mahu menjawab atau membahasnya.
Kedua, pertanyaan yang diperintahkan dan disyariatkan, iaitu pertanyaan dalam rangka taklim, di antaranya agar lebih faham atau lebih jelas memahami nas dan hukum. Juga pertanyaan dalam rangka pengajaran untuk pembelajar yang lain supaya pelajaran yang diberikan guru, deskripsinya jadi lebih jelas, lebih lengkap, atau lebih mudah difahami para pembelajar.
Bahkan, bagi orang yang akan melakukan sesuatu dan dia belum/tidak tahu hukumnya, maka bertanya tentang hukum sesuatu itu sebelum dia melakukannya adalah wajib. Ini kerana tanpa berbuat demikian, dia tidak akan boleh melaksanakan kewajipan terikat dengan syariat dalam melakukan atau tidak melakukan sesuatu itu.
Hadis ini memberi tuntunan sikap seorang muslim. Terhadap perintah, dilaksanakan sesuai batas kemampuan. Maknanya bukanlah minima, tetapi sebaliknya maksima. Sebabnya, makna istitha’ah adalah aqsha thâqah (kemampuan maksimal). Adapun larangan, maka ditinggalkan, dan itu tanpa dikaitkan dengan istithâ’ah. Sebab, meninggalkan adalah menahan diri, tidak melakukan, atau tidak mengambil yang dilarang itu, atau berhenti lalu menjauhinya jika telanjur dikerjakan.
Hadis ini mengisyaratkan bahawa daripada menyibukkan diri dengan pertanyaan yang dilarang, hendaknya seorang muslim lebih menyibukkan diri memahami tentang apa yang dibawa oleh Nabi, baik Al-Quran mahupun Sunnah, mendalami maknanya, dan menggali hukumnya bagi yang mampu, atau memahami hukum-hukum yang digali darinya oleh para mujtahid. Semuanya dalam rangka memedomani dan mengamalkannya.
Jika itu termasuk perkara pembenaran, hendaklah menyibukkan diri untuk membenarkannya, baik ghalabah zhan ataupun mengimaninya sesuai tuntutan nas itu. Jika merupakan perkara amaliah, hendaklah mengerahkan segenap daya upaya untuk melaksanakannya sesuai batas kemampuan jika itu berupa perintah; dan meninggalkan serta menjauhinya jika berupa larangan. Jika masih ada waktu lebih, bolehlah memikirkan hukum apa yang mungkin akan terjadi menurut sangkaan dengan maksud untuk dipedomani andai benar terjadi.
Jadi tafaqquh fi ad-dîn itu terpuji jika untuk amal dan tercela jika untuk riak (pamer/menunjuk-nunjuk ed.) dan perdebatan, apalagi untuk menimbulkan kekeliruan, kebingungan, dan keraguan pada banyak orang. Wallahualam.