[Fikrul Islam] Menjadi Pembela Islam – Mengenal Permasalahan Umat Islam Kini (Bahagian 2/5)
Penulis: M. R. Kurnia
Dunia Islam sekarang ini didukung oleh nasionalisme. Dengan nasionalisme, seseorang mengunggulkan fahaman kebangsaan sekaligus mengsubordinasikan atau merendahkan fahaman-fahaman lain, termasuk akidah Islam. Hal ini merupakan konsekuensi logik dari fahaman nasionalisme. Sebab, menurut Hans Kohn, nasionalisme merupakan suatu keadaan pada individu ketika dia merasa bahawa pengabdian yang paling tinggi adalah untuk bangsa dan tanah air (Lihat: Sardar Z, Rekayasa Masa Depan Islam, 1986).
Dengan dasar ini, ukhuwah islamiah yang senantiasa digembar-gemburkan hanya sampai di mulut. Misalnya, ketika kaum muslim Palestin terus digempur, rumah-rumah mereka dirampas, beribu-ribu orang diusir, jemaah masjid dibantai ketika menunaikan solat subuh, dan perjanjian perdamaian hanyalah sebatas batu loncatan penuh pengkhianatan; pemerintah negeri-negeri kaum muslim lainnya diam. Alasannya sederhana dan cliche, “Tidak boleh mencampuri urusan dalam negeri negara lain!”
Dengan nasionalisme, persaudaraan antara kaum muslim di dunia sangat dibelenggu oleh batas-batas perundangan dan wilayah teritorial. Akibatnya, dasar akidah dimusnahkan, lalu digantikan ikatan kebangsaan yang imaginasi. Lebih dari itu, dengan dalih nasionalisme masing-masing, Iraq-Iran bertikai selama 8 tahun, Iraq mengilhakkan Kuwait yang berakhir dengan Perang Teluk antara – AS sebagai provokator, Jordan dan Palestin kecoh tentang Yerusalem, dan perselisihan dengan Mesir terkait isu persempadanan.
Contoh lain, ketika ada satu orang meninggal dalam kes Doulos, sebuah lembaga Kristian, pendakwaan pun segera dilakukan. Namun, ketika ribuan muslim Maluku dibantai, pemerintah Indonesia sangat lambat dalam bertindak. Bahkan, meremehkan. “Korban di Maluku hanya lima orang,” kata Gus Dur. Tuntutan terhadap pemerintah untuk menuntaskan masalah di sana dituduh sebagai usaha berdendam. Lagi-lagi, alasan yang dilontarkan, “Demi kepentingan nasional. Demi keutuhan bangsa.”
Dengan nasionalisme, nyawa kaum muslim tidak lagi dianggap berharga. Ini benar-benar terjadi, padahal jangankan pembantaian, membunuh satu jiwa saja ibarat membunuh semua umat manusia. Sebaliknya, memelihara satu jiwa bagaikan memelihara manusia seluruhnya.
“Oleh kerana itu, Kami tetapkan bagi Bani Israil bahawa barang siapa yang membunuh seorang manusia bukan kerana ia membunuh orang lain, atau bukan kerana membuat kerosakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.“ (TMQ Al-Maidah: 32).
Nasionalisme juga membawa kesan yang sangat serius dalam bidang perundangan. Bagi seorang nasionalis, undang-undang yang layak dan lebih baik adalah undang-undang nasional, bukan undang-undang agama, apalagi hukum-hakam dari suatu agama (Islam). Dengan dalih demi kepentingan persatuan nasional, semua agama perlu diposisikan sama. Pada saat demikian, Islam diposisikan di ruang yang sempit sebatas spiritual, etika, dan moral.
Usaha mengaktualisasikan Islam dalam aturan politik selalu dicurigai, bahkan terus menerus distigmatisasi. Tuduhan yang mengasak ke kedudukan yang sukar pun terus diwar-warkan. Istilah Islam fundamentalis dan ekstremis terus didengungkan. Bahkan Presiden Gus Dur membuat tuduhan tidak berdasar dan berbau busuk, iaitu “Islam Galak”. Demikianlah, IsIam dikebiri dan diperkosa hak-hak ideologinya.
Pada saat yang sama, ideologi kapitalisme pula yang diterapkan. Demokrasi dijadikan maestro politik, siapa yang menolak demokrasi dituduh menolak fitrah manusia. Padahal, dengan demokrasi bermaksud pembuat undang-undang, penentu benar/salah, baik/buruk, terpuji/tercela, dan pahala/dosa adalah manusia itu sendiri. DaIam demokrasi, hukum Allah SWT disingkirkan. Dengan demokrasi, orang mengakui adanya Allah, tetapi pada saat yang bersamaan tidak mengakui hukum-hukum dan aturan-aturan-Nya.
Bersambung ke bahagian 3/5
Sumber: M. R. Kurnia, Menjadi Pembela Islam