[Fikrul Islam]
Menegakkan Khilafah, Wajib! (Bahagian 2/3)
Penulis: M. R. Kurnia
Banyak hukum yang hanya secara global dijelaskan di dalam Al-Quran, sedangkan rinciannya ditemukan di dalam hadis Rasulullah. Sebagai contoh, di dalam Al-Quran hanya diperintahkan solat, tetapi tidak dijelaskan bagaimana urutannya mulai takbiratulihram sampai salam, bagaimana tata cara masing-masing gerakan, apa bacaan pada masing-masing gerakan, bila saja lima waktu solat itu, apa saja yang membatalkan solat, rukunnya juga apa, dan tata cara solat jamak dan qasar. Semua itu dijelaskan di dalam As-Sunnah. Demikian pula, di dalam Al-Quran diperintahkan menunaikan ibadah haji. Namun, penjelasan tentang hal ehwal haji tidak terdapat dalam Al-Quran. Tata cara ihram, miqat, tahalul, diyat, wukuf, jumrah, dan banyak hal yang berkaitan dengan haji dipaparkan di dalam As-Sunnah. Banyak hal lain seperti ini, termasuk persoalan Daulah Khilafah.
Siapa pun yang menjelaskan dalil-dalil syarie dengan cermat dan ikhlas akan menyimpulkan bahawa menegakkan Daulah Khilafah hukumnya wajib atas seluruh kaum muslim. Di antara argumentasi syarie yang menunjukkan hal tersebut adalah:
Dalil dari Al-Quran. Di dalam Al-Quran tidak terdapat istilah Daulah Khilafah. Namun, di dalam Al-Quran banyak ayat menyatakan tentang wajibnya memiliki pemerintahan (negara) dan wajibnya menghukumi dengan hukum-hukum yang diturunkan Allah. Allah Swt. memerintahkan Rasulullah untuk mengurus urusan kaum muslim dengan apa yang diturunkan Allah kepadanya. Perintah ini turun dalam bentuk yang tegas. Wahyu Allah tentang hal ini di antaranya,
فَاحۡكُمۡ بَيۡنَهُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعۡ اَهۡوَآءَهُمۡ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ الۡحَـقِّؕ
“Maka hukumilah di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka, meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (TMQ Al-Maidah: 48).
وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ اَنْ يَّفْتِنُوْكَ عَنْۢ بَعْضِ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكَۗ
“Dan hendaklah Engkau hukumi di antara mereka dengan apa yang telah Allah turunkan dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah bahawa mereka memalingkan engkau dari apa yang Allah turunkan kepadamu.” (QS Al-Maidah: 49).
Perintah Allah Taala kepada Rasulullah juga merupakan perintah kepada umatnya, selama tidak ada dalil yang menunjukkan kekhususan kepadanya. Dalam hal ini tidak ada dalil yang mengkhususkan perintah tersebut kepada Rasulullah. Oleh kerana itu, ayat-ayat tersebut memerintahkan kaum muslim untuk menerapkan hukum-hukum Allah dalam segala bidang. Akidah dan syariat, persoalan peribadi, keluarga, dan masyarakat; baik sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya semuanya diperintahkan Allah untuk diatur dengan aturan Islam. Ini tidak mungkin terlaksana tanpa adanya kekuasaan, padahal kekuasaan terhadap anggota masyarakat akan ada dengan adanya negara. Dengan demikian, mudah difahami mengapa Allah Taala menyinggung persoalan kekuasaan di dalam Al-Quran al-Karim.
Berkaitan dengan kekuasaan tersebut, Allah mewajibkan kaum muslim untuk mentaatu orang-orang yang memegang kekuasaan, iaitu penguasa.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَطِيۡـعُوا اللّٰهَ وَاَطِيۡـعُوا الرَّسُوۡلَ وَاُولِى الۡاَمۡرِ مِنۡكُمۡۚ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul serta para penguasa di antara kalian.” (TMQ An-Nisa: 59).
Perintah mentaati penguasa sebenarnya juga menunjukkan perintah memiliki pemerintahan. Sebabnya Allah Swt. tidak memerintahkan taat kepada sesuatu yang tidak ada. Jadi adanya penguasa dalam suatu daulah merupakan kemestian. Perintah Allah untuk mentaati mereka adalah juga perintah Allah untuk mengangkat mereka. Jelaslah, walaupun tidak terdapat kata ‘daulah’ di dalam Al-Quran, tetapi Al-Quran memerintahkan kaum muslim memiliki ululamri yang tecermin dengan adanya penguasa dalam suatu daulah.
(Bersambung ke bahagian 3/3)
Sumber: M. R. Kurnia, Menjadi Pembela Islam