[Fokus dan Analisis] Peranan Reformasi Individu dalam Kebangkitan Umat (Bahagian 2/2)
Penulis: Abdul Fattah
Perlu difahami bahawa reformasi individu tidak lengkap tanpa adanya keyakinan yang sahih dan tepat tentang sistem yang berkuasa saat ini dengan nilai sekular liberalnya yang dominan. Ini kerana bukan sekadar yakin dengan teori semata, melainkan ada implikasi politik yang serius bagi umat.
Sifat Ketakwaan Individu
1- Ketakwaan individu-individu secara umum mempromosikan pelaksanaan terhadap perintah-perintah Allah Taala, dan ini juga berlaku bagi individu yang mampu mencapai kedudukan di mana kemampuannya (semaksima mungkin) untuk berusaha menerapkan syariat Allah Taala.
2- Membantu untuk membangun nafsiyah (karakteristik) dan menghilangkan wahn (kelemahan) yang menjadi hambatan besar ketika terlibat dalam segala aktiviti; juga menciptakan perubahan revolusioner yang menuntut pengorbanan besar.
3- Tindakan atau perbuatan didorong oleh perasaan/emosi yang kuat. Pemikiran semata tidak mampu mendorong seseorang untuk bertindak. Pemikiran ditambah perasaan/emosi yang kuatlah yang dapat mendorong orang untuk bertindak. Perasaan/emosi yang kuat ditambah pemikiran yang benar dan murni akan bersinergi untuk menciptakan kesan mendalam dalam segala aktiviti.
4- Jika majoriti atau semua orang mengikuti Islam berdasarkan rasa takut terhadap sanksi (hukuman jenayah), maka hal itu merupakan masalah. Ini kerana kejayaan sebenar adalah ketika mengikuti Islam dalam semangat yang didorong oleh rasa takut kepada Allah dan dalam rangka mencari redha-Nya. Hal ini dapat dicapai melalui sistem pendidikan di bawah Khilafah. Bahkan, sebelum berdirinya Khilafah, pencapaian tingkat ketakwaan yang lebih tinggi di kalangan umat Islam, umumnya melalui sekolah-sekolah Islam yang betul dan kegiatan dakwah di masjid-masjid, akan menciptakan kesan positif menuju kebangkitan umat.
- Ada perbezaan antara perbuatan materialistik dan ruhiah (spiritual) dalam hal memperkuat hubungan dengan Allah Taala. Islam mencakup perbuatan keduanya, yakni yang murni materialistik dan murni ruhiah. Perbuatan materialistik juga mempunyai unsur ruhiah yang merupakan perwujudan akan hubungan dengan Allah Taala saat melakukan perbuatan yang bersifat benda. Konsep ini disebut pencampuran benda dengan roh (spirit). Namun, dalam hal membangun dan memperkuat hubungan dengan Allah Taala, peranan perbuatan yang murni ruhiah, seperti solat, puasa, berhaji, dan ibadah nafilah lainnya, tidak dapat diremehkan.
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang telah Aku wajibkan baginya. Hamba-Ku sentiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar; Aku menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat; Aku menjadi tangannya yang dia gunakan untuk memegang; dan Aku menjadi kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Jika dia meminta kepada-Ku, nescaya Aku memberinya; dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, nescaya Aku akan melindunginya.’” (HR Bukhari 6502).
Sifat perbuatan antara hamba dan Sang Pencipta akan menguatan hubungan antara hamba dan Sang Pencipta yang tidak ditemukan pada perbuatan materialistik yang lain. Ketika seorang muslim menjalankan perniagaan, makan, ataupun bekerja di pejabat, dia dapat mengambil tindakan sesuai dengan perintah Allah Taala.
Akan tetapi, semua ini tidak sama dengan ibadah seperti solat dan puasa sebab perbuatan ruhiah ini pada dasarnya membantu menguatkan hubungan dengan Sang Pencipta. Jadi, meskipun mencampur benda (perbuatan) dengan roh adalah wajib, perbuatan ruhiah itu unik dalam hal memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.
Individualisme dalam Islam VS Kapitalisme
Tidak seperti kapitalisme dan komunisme, Islam memiliki unsur individu yang menonjol. Bagi kapitalisme, aktiviti individu tidak lain adalah berdasarkan kebebasan, keinginan, serta hasrat seseorang. Demikian juga, komunisme memiliki sudut pandang yang sama mengenai individu.
Sedangkan Islam memiliki definisi yang baik mengenai aturan-aturan individu yang perlu ditaati. Individu yang berpegang teguh pada ajaran Islam akan dipandang sebagai perwujudan Islam secara keseluruhan. Namun, akibat lahirnya ideologi sekular, muncul “kelas baru” di kalangan umat Islam yang mengecilkan Islam menjadi aspek-aspek individualisme semata dan cuba menciptakan nasionalis sekular yang baru versi Islam. Akan tetapi, kemunculan kelas baru ini tidak menjejaskan akan pentingnya perbuatan yang bersifat individu dalam Islam yang menjadi salah satu unsur inti Islam, tidak seperti ideologi materialisme moden yang lain.
Implikasi Politik Reformasi Individu
Komitmen terhadap hukum syarak oleh seorang muslim juga berkaitan dengan aturan kemasyarakatan yang jelas dalam Islam. Muslim yang berkomitmen dalam melakukan perbuatan individu juga mendapatkan perintah dalam pelaksanaan undang-undang jenayah, pernikahan, harta perwarisan, jihad, dan ekonomi.
Ironinya, sifat ideologis Islam ini dirasakan dan difahami oleh Barat dan pemerintah sekarang sebagai ancaman, bahkan menimbulkan persepsi komitmen individualistik terhadap Islam. Komitmen individualistik ini dipandang sebagai simbol dan jalan yang berpotensi menuju Islam politik, tentu saja kerana politik memang merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari Islam.
Selama tempoh [kekuasaan] di Mesir, janggut dipandang sebagai simbol ekstremisme dan politik Islam; atau di banyak negara adalah mereka yang solat di masjid sebagai rutin. Ini berlaku di negara-negara Barat, pertumbuhan Islam baik dalam peningkatan jumlah umat dan ketaatan individu terhadap Islam, dipandang sebagai ancaman politik. Ini adalah implikasi politik tidak langsung dari reformasi individu.
Sementara itu, implikasi politik langsung dari reformasi individu adalah terkait keyakinan yang dimiliki setiap muslim. Jika orang-orang memiliki akhlak dan nafilah yang baik, tetapi masih yakin/percaya pada nasionalisme dan sekularisme, ini merupakan masalah dan justeru menjadi penghambat kebangkitan. Keyakinan ini pada akhirnya berimplikasi politik dalam hal pandangan masyarakat umum terhadap perubahan dalam masyarakat. Orang-orang yang tidak memiliki masalah dengan nilai-nilai liberal dan nasionalistik sekular tentu tidak akan berusaha mengubahnya.
Selain itu, ini juga sangat bertentangan dengan konsep amal soleh kerana memiliki keyakinan yang benar dan murni berasal dari perbuatan hati. Namun, perlu dicatat, sebagaimana dibahas di bahagian sebelumnya, bahawa yang berpegang teguh pada kewajipan individu dan nafilah, merekalah yang paling mudah menerima untuk mengubah keyakinan mereka yang salah tentang keadaan saat ini.
Refleksi dalam surah An-Nur ayat 55, “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahawa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia redhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Ada dua sudut pandang ekstrem, iaitu kelompok yang hanya menyerukan kesempurnaan perbuatan individu, tetapi mengabaikan sarana praktik; dan kelompok yang berfokus terutama pada sarana praktik untuk perubahan, tetapi mengabaikan reformasi individu. Ayat ini tampaknya memilah persoalan ini jika difahami dalam konteks yang tepat dan hakikat realiti masyarakat manusia.
Ayat ini juga secara khusus tidak berbicara tentang mengambil cara praktik untuk berubah, juga tidak berbicara tentang mengabaikan cara praktik untuk berubah. Ini kerana secara umum, Islam tidak melarang seseorang untuk mengambil segala cara yang dibenarkan untuk mencapai tujuan yang juga dibenarkan, melainkan menekankan bahawa segala sesuatu di alam semesta mengikuti prinsip “sebab dan akibat” yang ditetapkan oleh Allah Taala.
Allah Taala berfirman dalam surah Al-Anfal ayat 60, “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu; dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah, nescaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).”
Juga bukan menjadikan mukjizat yang Allah Taala berikan kepada para Nabi dan awliya’ sebagai dalih untuk mengabaikan sarana-sarana yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Justeru mukjizat-mukjizat tersebut disertai dengan cara-cara praktik yang dilakukan oleh para nabi dan rasul dalam misinya masing-masing.
Ayat tersebut berbicara tentang ketaatan pada amal soleh berdasarkan keimanan yang ditahbiskan oleh Islam. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, komitmen individu terhadap Islam memang berimplikasi politik ketika dilakukan murni berdasarkan Islam, bukan berdasarkan pandangan dunia lain yang mendominasi kita.
Hukum Islam yang bersifat individu harus direpresentasikan sebagai sesuatu yang berasal dari din (ideologi) yang komprehensif berdasarkan keimanan, bukan direpresentasikan sekadar sebagai agama yang sesuai dengan model sekular liberal. Akibatnya, perbuatan individu yang dilakukan dalam perspektif yang benar, akan berkesan besar dalam memulai perubahan politik, juga dianggap sebagai sarana perubahan politik dari perspektif ini.
Aspek lainnya adalah “janji Allah” yang disebutkan dalam ayat tersebut. Islam tidak boleh persis dibandingkan dengan ideologi materialistik, yakni kapitalisme dan komunisme, dalam erti hanya berfokus pada sarana praktik untuk perubahan, meskipun secara umum Islam memerintahkan untuk tidak mengabaikan sarana praktik.
Islam mendasarkan pada landasan ruhiah, iaitu keyakinan akan keberadaan Sang Pencipta alam semesta Yang Maha Kuasa. Ini menyifatkan bahawa umat Islam terhubung dengan Sang Pencipta alam semesta dan didukung oleh kekuasaan dan berkah-Nya dalam langkah praktik manusia untuk menegakkan Islam dan menjadikannya berkuasa.
Allah Taala mendukung kaum mukmin selama Perang Badar melalui para malaikat-Nya, di samping mereka mengambil berbagai langkah praktik untuk mengalahkan musuh dalam pertempuran. Allah Taala menurunkan bantuan ghaib dengan syarat keimanan dan implementasi amal soleh.
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, meskipun ada bahagian dari perbuatan-perbuatan yang tidak dapat dilakukan tanpa autoriti atau kekuasaan, tetapi ada banyak aturan yang dapat ditaati oleh individu. Jika tidak, tidak akan ada ertinya bagi ayat ini jika ayat ini menimbulkan ketergantungan siklik, misalnya perbuatan baik diperlukan untuk Khilafah, dan tidak mungkin ada perbuatan baik tanpa Khilafah.
Kesimpulan
Reformasi individu di kalangan umat Islam secara umum berdampak positif bagi umat dalam mempercepat kebangkitannya. Reformasi individu dalam standard tertingginya juga wajib ada di antara individu-individu kelompok yang bekerja untuk membangkitkan kembali umat. Wajar jika banyak tokoh sejarah yang berjaya mengalahkan musuh-musuh Islam adalah orang-orang yang berbudi pekerti tinggi dan bertakwa, serta terlibat dalam metodologi tasawuf yang benar.
Meskipun individu-individu yang bergabung di dalam organisasi atau kelompok biasanya sekular dan tidak menentang sistem yang berkuasa saat ini sehingga berposisi sebagai hambatan dalam kebangkitan umat, tetapi hal ini tidak menafikan kebaikan umum yang mereka sumbangkan dengan membangun suasana ketakwaan sehubungan dengan perbuatan islami yang bersifat individu. Ini kerana pembinaan umum yang alami mengenai konsep takwa akan membuatnya mudah untuk meyakinkan orang-orang ini tentang kontradiksi antara Islam dan dominasi sistem kufur berkuasa di dunia saat ini.
Kelompok-kelompok yang tidak berfokus melawan nilai-nilai yang dipromosikan oleh liberalisme sekular juga telah menciptakan kekosongan di antara individu-individu mereka yang diisi dengan pemikiran dan perasaan yang berasal dari sistem yang ada, ataupun dapat juga diisi dengan pemikiran dan perasaan Islam yang murni dan ikhlas. Reformasi individu tidak akan lengkap tanpa memiliki keyakinan yang sahih dalam kaitannya dengan dominasi sistem yang berkuasa saat ini dan kontradiksinya dengan sistem Islam.
#fikruislam #pemikiranislam #reformasi