[Metode Dakwah Al-Quran] Metode Dakwah Al-Quran Khusus mengenai Akidah atau Perang Pemikiran (Bahagian 4/4)
Penulis: Hafidz Shaleh, M.A.
*Sambungan dari Bahagian 3/4
“Dan ini sebuah Kitab (Al-Quran) yang Kami turunkan, yang ada berkatnya (banyak manfaatnya). Oleh itu, hendaklah kamu menurutnya; dan bertaqwalah (kepada Allah), mudah-mudahan kamu beroleh rahmat.
Supaya kamu tidak mengatakan: “Bahawa Kitab (agama) itu hanya diturunkan kepada dua golongan (Yahudi dan Nasrani) dahulu sebelum kami, dan sesungguhnya kami lalai (tidak faham) akan apa yang dibaca dan dipelajari oleh mereka”.
Atau supaya kamu (tidak) mengatakan: “Sesungguhnya kalau diturunkan Kitab kepada kami tentulah kami mendapat petunjuk hidayah lebih daripada mereka”. (Kamu tidak akan dapat berdalih lagi) kerana sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan (yang cukup) dari Tuhan kamu, dan petunjuk hidayah serta rahmatNya (yang melimpah-limpah). Oleh itu, siapakah yang lebih zalim lagi daripada orang yang mendustakan ayat-ayat keterangan Allah dan berpaling daripadanya? Kami akan membalas orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat keterangan Kami (dengan) azab seksa yang seburuk-buruknya, disebabkan mereka sentiasa berpaling (mengingkarinya).” (TMQ Al-An’am [6]: 155—157).
“Sesungguhnya benda-benda yang kamu seru selain Allah adalah makhluk-makhluk seperti kamu. Oleh itu, (cubalah) menyerunya supaya benda-benda itu dapat memperkenankan permohonan kamu, kalau betul kamu orang-orang yang benar.
Adakah benda-benda (yang kamu sembah) itu mempunyai kaki yang mereka dapat berjalan dengannya, atau adakah mereka mempunyai tangan yang mereka dapat memegang (menyeksa) dengannya, atau adakah mereka mempunyai mata yang mereka dapat melihat dengannya, atau adakah mereka mempunyai telinga yang mereka dapat mendengar dengannya? Katakanlah (wahai Muhammad): “Panggilah benda-benda yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian kamu semua jalankan tipu daya terhadapku, serta jangan pula kamu bertangguh lagi.
“Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan kitab (Al-Quran), dan Dia lah jua yang menolong dan memelihara orang-orang yang berbuat kebaikan“. (TMQ Al-A’râf [7]: 194—196).
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas nyata, berkatalah orang-orang yang tidak menaruh ingatan menemui Kami (untuk menerima balasan): “Bawalah Quran yang lain daripada ini atau tukarkanlah dia “. Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak berhak menukarkannya dengan kemahuanku sendiri, aku hanya tetap menurut apa yang diwahyukan kepadaku sahaja. Sesungguhnya aku takut, – jika aku menderhaka kepada Tuhanku, – akan azab hari yang besar (soal jawabnya)”. (TMQ. Yunus [10]: 15).
“Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika Allah kehendaki (supaya aku tidak membacakan Al-Quran ini kepada kamu), tentulah aku tidak dapat membacakannya kepada kamu, dan tentulah Ia tidak memberitahu kamu akan Al-Quran ini (dengan perantaraanku); kerana sesungguhnya aku telah tinggal dalam kalangan kamu satu masa yang lanjut (dan kamu pula mengenal aku sebagai seorang yang amanah) sebelum turunnya Al-Quran ini; maka mengapa kamu tidak mahu memikirkannya?” (TMQ Yûnus [10]:
16).
Allah juga berfirman dalam surah Al-An’âm,
“Katakanlah: “Patutkah kita menyeru serta menyembah yang lain dari Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat kepada kita dan tidak dapat mendatangkan mudarat kepada kita; dan (patutkah) kita dikembalikan undur ke belakang (menjadi kafir musyrik) setelah kita diberi hidayah petunjuk oleh Allah (dengan agama Islam), seperti orang yang telah disesatkan oleh Syaitan-syaitan di bumi (di tempat yang lengang) dalam keadaan bingung, sedang ia pula mempunyai sahabat-sahabat yang mengajaknya ke jalan yang lurus (dengan berkata kepadanya): “Marilah bersama-sama kami. “Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah sebenar-benar petunjuk, dan kita diperintahkan supaya berserah diri kepada Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam“. (TMQ Al-An’âm [6]: 71).
“Dan tiadalah mereka (kaum Yahudi) menghormati Allah sesuai dengan penghormatan yang sebenarnya ketika mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia”. Bertanyalah (kepada kaum Yahudi yang ingkar itu): “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Nabi Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, yang kamu jadikan dia lembaran-lembaran kertas, sambil kamu perlihatkan (kepada orang ramai sebahagian kecil daripadanya) dan kamu sembunyikan kebanyakannya; sedang kamu pula diajarkan (dengan pengajaran-pengajaran yang terkandung di dalamnya), yang tidak diketahui oleh kamu (sebelum itu) dan tidak juga oleh datuk nenek kamu?” Katakanlah (kepada mereka): “Allah jualah (yang menurunkannya)”, kemudian, biarkanlah mereka leka bermain-main dalam kesesatannya.” (TMQ Al-An’âm [6]: 91).
Demikianlah, polemik pemikiran dan pertarungan keras yang telah menghancurkan keabsahan pemikiran kaum Quraisy sehingga mendorong mereka untuk menggunakan cara-cara fizikal dan serangan keji terhadap para pengemban dakwah ketika gagal melakukan konfrontasi pemikiran dan pertarungan intelektual.
Rasulullah SAW dan para sahabatnya tidak pernah keluar dari cara-cara yang telah digariskan oleh Allah SWT kepada mereka, serta terikat dengan sifat-sifat yang diperintahkan kepada mereka. Cara mereka adalah,
“Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik; sesungguhnya Tuhanmu Dia lah jua yang lebih mengetahui akan orang yang sesat dari jalanNya, dan Dia lah jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang mendapat hidayah petunjuk”. (TMQ An-Nahl [16]: 125).
Sumber: Hafidz Shaleh, M.A., Metode Dakwah Al-Quran