[Kaffah] Pemimpin Wajib Ditaati dan Wajib Dinasihati
Sudah sering kita mendengar bahawa pemimpin, khususnya pemimpin negara, wajib ditaati oleh seluruh rakyat. Dengan kata lain, rakyat wajib mentaati pemimpin atau penguasa mereka. Sebaliknya, rakyat haram untuk membangkang, apalagi memberontak kepada pemimpin atau penguasa mereka. Dalilnya, yang sering dikutip, antara lain firman Allah Swt.,
“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, dan taatlah kalian kepada Rasul serta ululamri (pemimpin) kalian.” (TMQ An-Nisa’ [4]: 59).
Dalil lain, sabda Baginda Rasulullah saw.,
“Dengar dan taatlah kalian meski yang memimpin kalian adalah seorang budak hitam Habasyi yang kepalanya seperti anggur kering.” (HR Al-Bukhari).
Siapakah Ululamri?
Saat menjelaskan ayat yang memerintahkan ketaatan kepada ululamri (QS An-Nisa’ [4]: 59) di atas, Imam Abu Zahrah menyatakan, sebahagian ulama berpendapat bahawa ululamri adalah para ulama ahli fikh yang mampu menggali hukum. Adapun menurut majoriti ulama, ululamri adalah para penguasa (al-hukkâm) dan ahlul halli wa ‘aqdi, tetapi dengan dua catatan: (1) selama mereka Mukmin, ertinya bukan penguasa kafir; (2) selama mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya, yang ditandai dengan menegakkan keadilan dan tidak melanggar hukum-hukum-Nya (Lihat: Abu Zahrah, Zahrah at-Tafâsîr, hlm 1727—1728).
Dengan demikian, ululamri yang wajib ditaati dalam pemahaman syariat (mafhûm syarie) bukanlah sembarangan penguasa, melainkan penguasa yang memiliki dua kriteria utama, yakni: (1) mukmin; (2) menegakkan hukum-hukum Allah Swt. atau sentiasa terikat dengan syariat-Nya.
Hak dan Kewajipan Pemimpin
Sudah pasti bahawa pemimpin atau penguasa mempunyai hak untuk ditaati oleh rakyatnya. Ini sesuai dengan nas-nas di atas. Namun demikian, pemimpin juga memiliki kewajipan, yakni wajib memimpin rakyatnya dengan adil. Dalam ayat sebelumnya, yakni sebelum ayat yang memerintahkan umat agar mentaati Allah dan Rasul-Nya serta ululamri mereka, Allah Swt. berfirman,
“Sungguh Allah memerintah kalian agar menyerahkan amanah kepada yang berhak menerima amanah tersebut, juga (memerintah kalian) jika kalian memutuskan hukum di tengah manusia agar kalian berlaku adil.” (TMQ An-Nisa’ [4]: 58).
Perlu sentiasa diingat, seorang pemimpin boleh dikategorikan sebagai pemimpin yang adil jika dia memimpin berdasarkan Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah Rasul-Nya. Jika tidak, pada dasarnya dia adalah pemimpin yang zalim dan fasik. Allah Swt. berfirman,
“Siapa saja yang tidak memutuskan hukum berdasarkan wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah kaum yang zalim.” (TMQ Al-Maidah [5]: 45).
“Siapa saja yang tidak memutuskan hukum berdasarkan wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah kaum yang fasik.” (TMQ Al-Maidah [5]: 47).
Dengan demikian, ketaatan kepada pemimpin atau penguasa sesungguhnya tidaklah mutlak. Tetap ada batasan. Apa batasannya? Taat kepada pemimpin selama pemimpin atau penguasa tersebut menjalankan syariat-Nya. Imam Al-Baghawi, saat menafsirkan ayat 59 surah an-Nisa’ tentang kewajipan mentaati ululamri, beliau menukil sebuah atsar bahawa Imam Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata:
“Wajib atas pemimpin/penguasa untuk memutuskan semua perkara dengan hukum yang telah Allah turunkan (yakni Al-Quran dan as-Sunnah) serta menjalankan amanahnya. Jika pemimpin/penguasa telah melakukan hal demikian, wajib atas rakyat untuk mendengar dan taat.” (Al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, 2/240).
Ini selari dengan sabda Rasulullah saw.:
“Andai yang diangkat sebagai pemimpin kalian adalah seorang budak hitam Habasy, tetapi dia memimpin kalian dengan Kitabullah, maka dengar dan taatilah dia.” (HR An-Nasa’i).
Dengan demikian, pemimpin atau penguasa memang berhak untuk ditaati oleh rakyatnya. Namun, dia juga berkewajipan memimpin rakyatnya dengan Kitabullah.
Alhasil, yang diperlukan saat ini bukanlah sekadar fatwa ulama yang ditujukan kepada rakyat untuk mentaati pemimpinnya. Apa yang lebih penting dan diperlukan saat ini adalah fatwa ulama yang ditujukan kepada pemimpin atau penguasa agar memimpin rakyatnya dengan Kitabullah (Al-Quran).
Nasihat untuk Penguasa dan Ulama
Dalam salah satu masterpiece-nya, At-Tibr al-Masbûk fî Nashîhah al-Mulûk, pada bahagian awal bab “Hujjatul Islam”, Imam Al-Ghazali menukil beberapa riwayat sebagai bahan renungan bagi para penguasa, juga para ulamanya. Di antaranya sebagai berikut,
Suatu hari, saudara kandung Al-Balkhi menemui Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah kemudian berkata, “Nasihatilah aku!”
Orang itu berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendudukkan dirimu pada kedudukan Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khattab, Uthman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib (yakni sebagai penguasa-pen.). Oleh kerana itu, Allah Swt. meminta darimu sifat benar/jujur seperti yang ditunjukkan Ash-Shiddiq (Abu Bakar). Allah meminta dirimu menjadi pembela yang hak dan penumpas yang batil seperti Al-Faruq (Umar). Allah meminta dirimu memiliki rasa malu dan kemurahan seperti Uthman bin Affan. Allah juga meminta dirimu memiliki ilmu dan keadilan seperti yang ditunjukkan Ali bin Abi Thalib.”
“Teruskan,” kata Khalifah.
Orang itu berkata lagi, “Perumpamaanmu seperti mata air, sedangkan seluruh ulama di dunia ini seperti wadahnya. Jika mata air itu jernih, kotornya wadah air tidaklah berbahaya. Namun, jika mata airnya kotor, bersihnya wadah air tak ada gunanya.”
Pada waktu lain, suatu malam, Khalifah Harun ar-Rasyid menemui Fudhail bin Iyadh rahimahulLâh. Saat pintu rumah Fudhail bin Iyadh dibuka, Khalifah menyalami tuan rumah, yang spontan berkata, “Api nerakalah untuk tangan halus ini jika ia tidak selamat dari azab-Nya pada hari kiamat nanti.”
Fudhail bin Iyadh melanjutkan, “Amirulmukminin, bersiap-siaplah engkau untuk menjawab pertanyaan Allah kelak. Sebab, sungguh Allah akan menghadapkan dirimu kepada setiap muslim atas kebijakanmu terhadap masing-masing dari mereka.”
Mendengar itu, menangislah Harun ar-Rasyid semaunya seraya menundukkan kepalanya di dadanya. Saat itu, Abbas, yang mendampingi dirinya, berkomentar, “Celakalah, wahai Fudhail. Engkau telah membunuh Amirulmukminin!”
Fudhail bin Iyadh menjawab, “Wahai Hamman, justeru kamu dan kaummulah yang mencelakakannya.”
Khalifah Harun ar-Rasyid lalu berkata kepada Abbas, “Jika dia menyebut kamu Hamman, bererti dia menganggap aku Firaun.” (Lihat: Al-Ghazali, At-Tibr al-Masbûk fî Nashîhah al-Mulûk. Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, hlm. 23-54, 1988).
Demikianlah. Nasihat adalah bahagian yang tidak terpisahkan dari para penguasa muslim pada masa lalu. Bahkan telah menjadi “makanan” seharian mereka. Sebaliknya, nasihat kepada para penguasa juga tidak pernah terlepas dari para ulama. Bahkan menjadi keperluan mereka. Banyak para ulama pada masa lalu rela menghabiskan waktunya untuk mengawal, mengawasi, menasihati, mengkritik sekaligus meluruskan para penguasa—yang menyimpang—tanpa kenal lelah, khuatir atau rasa takut. Dengan itulah, dalam sistem Islam, keadilan tetap kukuh meski seandainya bumi runtuh. Kezaliman akan lenyap di bumi yang berdiri tegap.
Tidak hairan jika sepanjang zaman kekhalifahan Islam pada masa lalu, terlalu banyak kisah-kisah nyata para penguasa muslim yang menggugah perasaan kerana kezuhudan, kerendahatian, keadilan, kejujuran, keamanahan, dan kebajikan mereka dalam memimpin rakyat mereka. Terlalu banyak juga kisah-kisah nyata para ulama yang menyentuh kalbu kerana kewarakan, keberanian, dan ketajaman lidah mereka di hadapan para penguasa.
Sudah selayaknya para penguasa muslim saat ini menjadikan kisah-kisah di atas sebagai cerminan dan pelajaran. Selayaknya mereka sentiasa berlapang dada dalam menerima nasihat, bahkan sentiasa meminta nasihat kepada para ulama.
Sebaliknya, para ulama wajib menyampaikan nasihat kepada penguasa, diminta atau tidak diminta. Mereka tidak boleh bermanis muka, apatah lagi sehingga ‘menjilat’ penguasa. Mereka tidak patut menyembunyikan kebenaran yang wajib mereka sampaikan, apatah lagi di hadapan penguasa zalim yang enggan menerapkan syariat Islam. Sebab, ulama sejati tidak akan pernah melupakan sabda Baginda Rasulullah saw.,
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zalim.” (HR An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad).
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.
—*—
Hikmah:
Rasulullah saw. bersabda,
“Sungguh manusia yang paling Allah cintai pada hari kiamat kelak dan paling dekat kedudukannya dengan Dia adalah seorang pemimpin yang adil. Sungguh manusia yang paling Allah benci dan paling keras mendapatkan azab-Nya adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR at-Tirmidzi).
Sumber: https://muslimahnews.net/2024/01/27/26650/
#buletinkaffah #islamkaffah #ulilamri #taatpemimpin #muhasabahpemimpin #pemimpin