[Kaffah] Penerapan Syariat Islam Pasti Membawa Keberkahan
Perubahan Menuju Islam
Al-Quran mengingatkan bahawa nasib suatu kaum ditentukan oleh kemauan kaum itu sendiri untuk berubah. Allah Swt. berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ
“Sungguh Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (TMQ Ar-Ra’du [13]: 11).
Akan tetapi, banyak pihak yang menggunakan ayat ini sebagai dasar untuk melakukan perubahan tanpa melakukan apa-apa usaha yang wajar. Padahal yang dimaksud oleh ayat di atas adalah perubahan menuju kebaikan dan keberlimpahan hidup sebagai buah dari keimanan dan ketaatan. Imam As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan, “Sungguh Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum”, yakni berupa kenikmatan, curahan kebaikan, dan kehidupan yang enak. “Hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”, yakni dengan beralih dari keimanan menuju kekufuran; dari taat menuju maksiat; atau dari sikap mensyukuri nikmat-nikmat Allah ke sikap mengingkari nikmat-nikmat-Nya tersebut.
Oleh kerana itu, Allah mencabut semua kenikmatan itu dari mereka. Begitu juga sebaliknya. Jika para hamba Allah mengubah keadaan mereka dari maksiat menuju taat kepada Allah, nescaya Allah akan mengubah keadaan kesengsaraan yang menyelimuti mereka sebelumnya menuju kebaikan, kebahagiaan dan ghibthah (semangat iri dalam kebaikan), serta rahmat.” (As-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Manân fî Tafsîr Al-Qur’ân, 4/724—725).
Jelaslah tidak akan pernah ada perubahan, meskipun sosok pemimpinnya sudah berganti-ganti, selama umat belum meninggalkan aturan-aturan dan ideologi selain Islam. Kehidupan yang lebih baik dan penuh berkah, baru akan terjadi manakala umat ini berubah menuju iman dan takwa dengan menerapkan syariat Islam.
Kerosakan yang merajalela di tengah manusia seperti kemiskinan, kerosakan moral, jenayah adalah akibat dari kemaksiatan dan kemungkaran manusia yang menjauhi syariat Islam. Allah Swt. berfirman,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerosakan di darat dan di laut kerana perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan-Nya).” (TMQ Ar-Rum [30]: 41).
Imam Ibnu Katsir menjelaskan makna “kerana perbuatan tangan manusia” dengan mengutip pernyataan Abu Aliyah, yakni ”Siapa saja yang bermaksiat kepada Allah di bumi, maka dia telah merusak bumi. Ini kerana memperbaiki langit dan bumi adalah dengan ketaatan (kepada Allah).” (Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’ân al-’Azhîm, 6/287).
Selamanya kehidupan umat manusia akan rosak jika diisi dengan kemaksiatan dan kemungkaran. Kemaksiatan dan kemungkaran terbesar adalah mencampakkan hukum-hukum Allah dan memilih selain hukum-hukum-Nya. Inilah masalah yang sesungguhnya terjadi saat ini, khususnya di negeri ini. Tidak akan pernah ada kebaikan selama tidak menerapkan syariat-Nya secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.
Kewajipan Penerapan Syariat Islam
Pilhanraya yang berlangsung dalam negara-negara umat Islam sepatutnya menjadi medium untuk memilih pemimpin yang layak seterusnya menerapkan syariat Islam dalam kehidupan. Bukan sekadar menciptakan kemajuan materi dan kemakmuran. Penerapan syariat Islam adalah kewajipan, bukan sekadar pilihan. Sikap ini sekaligus menentukan keimanan seorang hamba. Allah Swt. Berfirman,
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
“Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang engkau berikan. Mereka menerima (keputusan tersebut) dengan sepenuhnya.” (TMQ An-Nisa’ [4]: 65).
Rasulullah saw. Menyebut di antara ciri mukmin adalah menundukkan hawa nafsunya pada risalah Islam yang beliau bawa, yakni dengan mentaati hukum-hukumnya. Sabda beliau,
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ
“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa saja yang aku bawa.” (HR Al-Hakim, Al-Khathib, Ibn Abi ‘Ashim dan Al-Hasan bin Sufyan).
Allah Swt. Juga memerintahkan kaum muslim untuk menjalankan hukum-hukum-Nya. Sebaliknya, Allah melarang mereka mengikuti keinginan manusia untuk menerapkan hukum-hukum yang lain. Allah Swt. Berfirman,
وَأَنِ ٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ وَٱحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَنۢ بَعْضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ
“Hendaklah kamu (Muhammad) memutuskan perkara di antara mereka menurut wahyu yang telah Allah turunkan. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian wahyu yang telah Allah turunkan kepadamu.” (TMQ Al-Maidah [5]: 49).
Kewajipan ini dipertegas dengan adanya teguran dari Allah Swt. Dengan menyebut mereka yang tidak menerapkan hukum-hukum-Nya sebagai orang fasik, zalim, bahkan boleh menjadi kafir (Lihat: QS Al-Maidah [5]: 44, 45 dan 47).
Allah Swt. Telah berjanji manakala kaum muslim telah bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan kepada-Nya dengan menerapkan syariat Islam, maka Dia akan mendatangkan berbagai keberkahan kepada mereka. Allah Swt. Berfirman,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Andai saja penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Namun, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Oleh kerana itu, Kami menyeksa mereka kerana perbuatan mereka itu.” (TMQ Al-A’raf [7]: 96).
Sungguh keliru jika kaum muslim berusaha melakukan perbaikan nasib untuk mendapatkan kemakmuran materi dengan mencampakkan hukum-hukum Allah. Padahal penerapan hukum-hukum Allah adalah fardhu dan akan menciptakan pelbagai kebaikan. Rasulullah saw. Bersabda,
حَدٌّ يُعْمَلُ بِهِ فِي الأرْضِ خَيْرٌ لأَهْلِ الأرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا
“Penerapan suatu hukuman had di muka bumi itu lebih baik bagi penduduknya daripada hujan turun selama 40 hari.” (HR Ibnu Majah).
Terbukti, dengan penerapan syariat Islam, hanya dalam waktu singkat rakyat di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, misalnya, mendapatkan kemakmuran ekonomi yang luar biasa. Saat itu, bahkan di Jazirah Arab tidak ada yang layak menerima zakat. Keamanan juga meningkat hingga kambing biri-biri pun selamat dari terkaman serigala.
Kemakmuran Palsu
Ada yang berpandangan bahawa banyak negara di dunia memiliki tatanan kehidupan yang baik, makmur, dan adil tanpa syariat Islam. Al-Quran menjawab bahawa segala perubahan yang membawa kemakmuran dan kemajuan yang datang dari aturan di luar Islam adalah palsu. Semua itu pasti berakhir dengan penderitaan. Allah Swt. berfirman,
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
“Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Lalu ketika mereka bergembira dengan kesenangan yang telah diberikan kepada mereka itu, Kami menyeksa mereka secara tiba-tiba. Ketika itu mereka terdiam putus asa.” (TMQ Al-An’am [6]: 44).
Ideologi dan aturan kehidupan selain Islam, seperti demokrasi dan kapitalisme, juga sosialisme-komunisme, boleh saja mengantarkan manusia pada kemakmuran, ketertiban, dan penegakan hukum. Namun, di mata Allah Swt. hal itu adalah kemungkaran, yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam keterpurukan. Allah Swt. berfirman,
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى
“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (Al-Quran), sungguh dia akan merasakan kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dirinya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (TMQ Thaha [20]: 124).
Wahai kaum muslim! Marilah kita bersegera menuju perubahan hakiki. Caranya adalah melepaskan diri dari hukum-hukum jahiliyah menuju penerapan hukum-hukum Allah di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Inilah kewajipan agung yang akan mengantarkan kita semua pada keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat. Wallahualam bissawab. []
—*—
Hikmah
Allah Swt. berfirman,
اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ ࣖ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (TMQ Al-Maidah [5]: 50).
Sumber: Buletin Kaffah No. 332 (6 Syaaban 1445 H/16 Februari 2024 M)
#100TahunTanpaKhilafah #ThePowerOfUmmah #TegakKhilafah #TerapIslamKaffah