Ramadhan: Memerlukan Dua Junnah
Oleh: Ustaz Irfan Abu Naveed
Satu sisi, kita mendapati shaum (puasa) merupakan junnah (perisai) bagi seorang muslim dari seksa neraka, berdasarkan dalil hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
«قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ : الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ، وَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ»
“Rabb kita ‘Azza wa Jalla berfirman: Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya.” (HR. Ahmad)
Hadis ini, menjadikan shaum Ramadhan diserupakan (tasybih) sebagai perisai (seperti perisai pelindung) yakni perisai dari seksa neraka. Namun, ada junnah lain yang saat ini tiada, yakni al-Khilafah, dimana Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad)
Sehingga ada orang yang mengaku muslim tidak shaum tanpa uzur syarie di Bulan Ramadhan tidak dapat dipaksa dan dikenakan hukuman agar mahu melaksanakan shaum. Begitu juga tragedi yang menimpa kaum Muslim di Palestin, jelas memerlukan junnah al-Khilafah, kerana kedudukannya menjadi junnah (perisai), pelindung bagi masyarakat dari ancaman keburukan musuh.