[Nafsiyah] Bentuk Persaudaraan Sejati
Penulis: Ustaz Arief B. Iskandar
Ibnu Umar berkata bahawa Rasulullah SAW pernah berkata, “Umat Islam adalah saudara kepada umat Islam yang lain. Dia tidak menganiayanya dan tidak menyerahkannya kepada musuh. Barangsiapa memenuhi hajat saudaranya, Allah akan memenuhi hajatnya. Barangsiapa yang membebaskan seorang muslim dari kesulitan, Allah SWT akan membebaskannya dari kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, nescaya Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” [HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Nasa’i].
Dalam sebuah hadis yang menjelaskan tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah SWT pada hari yang tiada naungan, melainkan naungan Allah, Rasulullah SAW menyebut salah seorang daripada mereka, “Dua lelaki yang saling mencintai kerana Allah, mereka berkumpul dan berpisah keranaNya.” [HR Al-Bukhari dan Muslim].
Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah SWT juga berfirman, “Orang-orang yang saling mengasihi keranaKu, berhak mendapat cintaKu.” [HR Malik dan Ahmad].
Banyak hadis yang menyebut tentang bentuk-bentuk praktikal bagi memanifestasi persaudaraan sejati antara individu Muslim. Di antaranya ialah bersikap lemah lembut terhadap sesama Muslim, bersahabat, menunjukkan kasih sayang, saling bertanya khabar dan berjabat tangan, saling memberi hadiah, saling mendoakan, saling mengunjungi, bersama-sama dalam suka, duka dan sebagainya. Sebaliknya, mereka dilarang mengumpat, memfitnah, mengintip (tajassus), membuka aib dan menipu saudara mereka, berdusta dan bakhil, menghina, mencela, mencabul kehormatan mereka dan membunuh saudara mereka dan sebagainya.
Wa mâ tawfîqî illâ billâh wa ’alaihi tawakkaltu wa ilaihi unîb.
Sumber: ariefbiskandar[dot]com