[Ibrah] Tetap Takwa
Oleh: Arief B. Iskandar
Ramadhan memang telah berakhir. Puasanya juga telah tamat. Namun, harapannya puasa Ramadhan akan tetap terus membekas dalam jiwa setiap Muslim. Meninggalkan takwa dalam dirinya. Takwa yang sebenar-benarnya. Sebab, itulah hikmah dari pelaksanaan kewajipan puasa (QS al-Baqarah [2]: 183).
Takwa adalah simbol kecerdasan seorang Muslim. Sebaliknya, banyak berbuat dosa adalah simbol kebodohannya. Demikian sebagaimana kata Abu Bakar ash-Shiddiq ra., “Ketahuilah bahawa cerdas yang paling cerdas adalah takwa. Bodoh yang paling bodoh adalah melakukan banyak dosa.” (Ibn Sa’ad, Thabaqat al-Kubra, 3/182).
Di antara tanda orang bertakwa adalah sebagai berikut:
Pertama, makin zuhud terhadap dunia. Saat dia mempraktikkan hidup zuhud, hatinya akan makin tenang. Demikian sebagaimana kata Imam al-Hasan al-Bashri rahimahulLah, “Zuhud itu menenangkan kalbu dan badan. Sungguh, Allah SWT pasti akan bertanya kita tentang perkara halal yang kita nikmati. Lalu bagaimana dengan perkara haram yang kita nikmati?” (Dikutip oleh Abu Bakr al-Baihaqi, Kitâb az-Zuhd al-Kabîr, 1/68).
Persoalannya: Apakah itu zuhud? Imam Hanbali rahimahulLah berkata, “Zuhud itu ada tiga jenis. Pertama: Meninggalkan keharaman. Ini adalah zuhud orang awam. Kedua: Meninggalkan perkara mubah/halal yang tidak bermanfaat. Ini adalah zuhud orang istimewa. Ketiga: Meninggalkan segala perkara yang menyibukkan diri dari usaha mengingati Allah SWT. Ini adalah zuhud orang arif (yang makrifat kepada Allah SWT, pen.).” (Ibnu al-Qayyim, Madârik as-Sâlikîn, II/14).
Kedua, senantiasa bersemangat untuk bersaing dengan orang lain dalam perkara akhirat. Bukan dalam perkara dunia. Ini sebagaimana juga kata Imam Hasan al-Bashri rahimahulLah, “Jika engkau menyaksikan orang-orang berlumba/bersaing dalam urusan dunia, maka berlumbalah/bersainglah dengan mereka dalam urusan akhirat. Sebab, dunia mereka itu bakal pergi, sementara akhirat itu kekal abadi.” (Imam Ahmad, Az-Zuhd, hlm. 1634).
Berlumba atau bersaing dengan orang lain dalam meraih dunia (harta, jawatan, kekuasaan dll) tentu boleh saja selagi ianya halal dan ditempuh dengan cara-cara yang juga halal. Namun demikian, seorang Mukmin yang cerdas (alias yang bertakwa) akan jauh lebih teruja dan bersemangat bersaing dengan orang lain dalam memperbanyak amal soleh untuk bekal di kehidupan akhirat. Sebab, dunia—sebanyak apapun boleh diraih—akan ditinggalkan atau meninggalkan manusia. Sebaliknya, amal soleh, itulah satu-satunya yang akan dibawa dan bermanfaat bagi manusia saat dia menghadap Allah SWT di akhirat nanti.
Ketiga, tetap istiqamah dalam beribadah kepada Allah SWT. Seorang yang bertakwa, misalnya, bukan hanya rajin dan ber-mujahadah pada saat Ramadhan. Apatah lagi hanya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk mengejar keutamaan Lailatul Qadar. Sebaliknya, dia akan terus istiqamah beribadah dan ber-mujahadah meski di luar Ramadhan, sepanjang tahun. Terkait ini, seorang ulama berkata, “Bagi seorang arif (orang yang mengenal Allah SWT), setiap malam kedudukannya sama dengan Lailatul Qadar.” (Abu Thalib al-Makki, Qût al-Qulûb, 1/119).
Maknanya, sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Abu al-’Abbas rahimahulLah, “Seluruh waktu kami adalah Lailatul Qadar. Ertinya, ibadah kami setiap waktu sentiasa berlipat kali ganda (Abul Abbas, Iqâzh al-Himam Syarh Matan al-Hikam, 1/62).
Lailatul Qadar memang malam istimewa. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Namun demikian, seluruh malam, bagi seorang Muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, adalah juga istimewa. Bagaimana tidak? Setiap malam, sebagaimana sabda Rasulullah saw., Allah SWT, Pemilik alam semesta ini, “turun” ke bumi untuk mengampuni orang-orang yang memohon keampunan kepada-Nya dan mengabulkan doa-doa siapa saja yang berdoa kepada-Nya (HR al-Bukhari dan Muslim).
Oleh sebab itulah, solat malam sesungguhnya merupakan salah satu tradisi generasi salafush-soleh yang biasa mereka lakukan setiap malam. Mereka sentiasa melipatgandakan ibadah mereka setiap malam.
Keempat, semakin besar rasa takutnya kepada Allah SWT. Inilah orang yang faham agama (faqih) yang sebenarnya. Sebab, sebagaimana kata Mujahid bin Jabar rahimahulLah, “Orang faqih (ahli agama) yang sebenarnya adalah yang sentiasa memiliki rasa takut kepada Allah SWT meski ilmunya sedikit. Orang bodoh yang sebenarnya adalah yang banyak bermaksiat kepada Allah SWT meski ilmunya banyak (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, 9/255).
Menjadi orang faqih (menguasai banyak ilmu agama Islam) tentu amat penting. Sebab, itulah tanda kebaikan yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya.
Namun, tolok ukur kefaqihan seseorang bukanlah semata-mata penguasaannya atas ilmu-ilmu agama, tetapi yang paling penting adalah rasa takutnya yang besar kepada Allah SWT. Bukti rasa takutnya yang besar kepada Allah SWT adalah dengan selalu berusaha taat kepada-Nya dan tidak banyak bermaksiat kepada-Nya.
Kelima, tidak menunda-nunda untuk melakukan amal soleh. Sebab, orang yang bertakwa itu sedar, bahawa menunda-nunda untuk melakukan amal soleh itu datang dari syaitan. Dalam hal ini Sufyan ats-Syauri rahimahulLah pernah berkata, “Jika engkau berkeinginan untuk bersedekah, atau melakukan suatu kebajikan, atau beramal soleh, maka segerakanlah untuk ditunaikan pada waktunya sebelum engkau dipisahkan dengan keinginan tersebut oleh syaitan.” (Al-Ashbahani, Hilyah al-Awliya’, 7/62).
Keenam, makin peduli terhadap urusan Islam dan kaum Muslim. Sebab, dia sangat memahami Hadis Nabi saw. yang menyatakan, “Siapa saja yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslim, dia tidak termasuk golongan mereka.” (HR ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Awsath, 7/270; Al-Mundziri, At-Targhib wa at-Tarhib, 3/35).
Oleh sebab itu, penting untuk kita meneladani generasi salafush-soleh yang begitu tinggi kepeduliannya terhadap Islam dan kaum Muslim. Salah satunya ialah Imam al-Muhasibi rahimahulLah. Kepeduliannya yang tinggi terhadap Islam dan kaum Muslim tercermin antara lain dalam kata-katanya, “Demi Allah. Andai waktu boleh dibeli dengan wang, aku akan membelanjakan semua hartaku—tanpa merasa rugi—untuk membeli waktu agar aku dapat melayani Islam dan kaum Muslim dengan bebasnya.” (Ali bin Nayf asy-Syuhud, Al-Waqt wa Ahammiayatuhu fi Hayah al-Muslimin, 1/160).
Semoga semua poin di atas ada pada diri kita sehingga kita layak menyandang gelaran muttaqin.
Wa ma tawfiqi illa bilLah.
#muttaqin #isitqamah #pascaramadhan #ketakwaanhakiki