[Usus at-Ta’lim fi Daulah al-Khilafah] Metode Pengajaran (Bahagian 2/2)
Penulis: Abu Yasin
Instrumen terpenting dalam penyampaian atau penerimaan pemikiran dalam proses belajar-mengajar adalah bahasa yang merupakan kumpulan kata-kata dan kalimat- kalimat yang mengandung makna serta idea-idea yang terkandung dalam makna tersebut. Jika pengajar dan anak didik memahami kata-kata, kalimat-kalimat, dan makna-makna yang mengarahkan pada suatu pemikiran, berarti bahasa telah menjadi alat yang efektif dalam proses belajar mengajar.
Oleh kerana itu, bagi pengajar atau penyusun kurikulum hendaknya memperhatikan penggunaan bahasa bagi anak didik. Pemakaian kata-kata dan susunan kalimat hendaknya yang dapat difahami oleh anak didik untuk mempermudah transfer pemikiran. Selain itu, dalam penyampaian pemikiran hendaknya mencakup keempat komponen dalam proses berfikir.
Dengan metode tersebut, teks-teks pemikiran yang tertulis mahupun yang terucap akan ditransfer ke dalam benak anak didik (sebagaimana yang dimiliki pengajar) melalui penjelasan dengan penggunaan bahasa. Dengan demikian, terjadi interaksi dengan menggunakan standard-standard tertentu, seperti halal dan haram, benar dan salah.
Metode tersebut dapat digunakan untuk menyampaikan seluruh jenis pemikiran, baik yang berhubungan langsung dengan pandangan hidup tertentu, seperti ideologi, mahupun yang tidak berhubungan langsung dengan pandangan hidup tertentu, seperti ilmu matematik.
Pemikiran jenis pertama iaitu pemikiran yang berhubungan langsung dengan pandangan hidup tertentu, atau pemikiran yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya, dan dengan manusia lain perlu terikat dengan akidah Islam. Pendekatannya hendaklah menyentuh perasaan anak didik selain menyampaikan pemikiran, dan hendaknya dijelaskan hubungan pemikiran tersebut dengan kehidupan di dunia dan akhirat. Dengan demikian, pemikiran tersebut dapat diterima secara benar dan menjadi pemahaman yang dapat mengendalikan perilakunya. Perasaan cinta dan keberaniannya tergerak demi pemikiran yang benar, yang terpancar dari pandangan hidup tertentu, yang dicirikan dengan akidah Islam. Begitu pula akan mendorong usaha mewujudkan pemikiran tersebut dengan sepenuh hati dan penuh semangat. Perasaan akan bergerak untuk membenci dan melawan pemikiran yang salah, yang berlawanan dan bertentangan dengan pandangan hidupnya di dunia, serta akan terdorong untuk melawan dan menolaknya.
Mempelajari teks pemikiran yang berkaitan dengan pandangan hidup tidak dimaksudkan untuk berhenti pada makna-makna bahasa saja. Teks pemikiran difahami untuk dapat diletakkan pada fakta yang terkait agar dapat mengambil sikap sesuai dengan yang dituntut syarak baik berupa tuntutan untuk mengerjakan mahupun meninggalkan. Pemikiran seperti ini dipelajari agar dapat mengendalikan perilaku anak didik sesuai dengan hukum Islam.
Pendidikan bukan ditujukan untuk semata-mata kemewahan intelektual, tetapi untuk membentuk kepribadian yang Islami, pola fikir dan jiwa Islami, yang selalu berusaha untuk meraih redha Allah, yang tecermin pada setiap perbuatan dan perkataannya.
Pemikiran jenis kedua, iaitu pemikiran yang tidak ada hubungannya secara langsung dengan pandangan hidup tertentu, seperti ilmu fizik, kimia, matematik, dan lain-lain, dipelajari untuk mempersiapkan anak didik untuk mengelola alam semesta yang disediakan Allah untuk manusia. Allah Swt. berfirman,
“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) daripada-Nya.” (TMQ Al-Jatsiyah [45]: 13).
“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya.” (TMQ An-Nahl [16]: 12).
Seorang muslim, sebagai seseorang yang memiliki keperibadian Islam, mempelajari ilmu sains gunaan untuk dapat dimanfaatkan dan diperkasakan, demi melayani kemaslahatan dan memecahkan permasalahan penting bagi umat. Jadi, tuntutan untuk mempelajari ilmu tidak semata-mata hanya demi ilmu, tetapi untuk dimanfaatkan dengan pemikiran dan pengetahuan yang dipelajari manusia dalam kehidupan, sesuai dengan hukum Islam.
Allah Swt. berfirman,
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”(TMQ Al-Qashash [28]: 77).
Sumber: Abu Yasin, Usus at-Ta’lim fi Daulah al-Khilafah (Strategi Pendidikan Negara Khilafah).