[Nafsiyah] Keluarga, Tempat Terbaik untuk Belajar Erti Pengorbanan
Penulis: Najmah Saiidah
Hari besar umat Islam, Aidiladha atau Hari Raya Korban baru saja berlalu dan selalu ada hal istimewa yang kita ingat tentang momen hari besar ini. Bukan hanya penyembelihan binatang korban, solat Raya, dan berbagai hidangan khasnya, tetapi peristiwa besar di baliknya. Ya, kisah pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim as.. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil oleh keluarga muslim dari keluarga Nabi Ibrahim ini.
Ketaatan Nabi Ibrahim as., Bonda Hajar, dan Nabi Ismail as. kepada Allah mengatasi segalanya. Demikian halnya, kesabaran dan pengorbanan keluarga ini serta bagaimana mendidik anaknya tidak diragukan lagi menjadi teladan bagi seluruh keluarga muslim. Dari peristiwa ini kita dapat katakan bahawa keluarga memang merupakan tempat terbaik bagi seluruh anggota keluarga untuk belajar erti pengorbanan.
Mengapa? Kerana sesungguhnya dalam keluarga tidak ada kasih yang tidak sampai, tidak ada rasa sakit yang membekas, tidak ada kasih yang mengharap balasan dan tidak mementingkan diri sendiri, tidak ada luka yang berubah menjadi dendam. Semuanya dilakukan dengan ikhlas dan sabar yang tak berbatas. Namun, di sebalik semua pengorbanan yang telah dilakukan, ada kebahagiaan yang diraih semua anggota keluarga. Masyaallah!
Mari kita belajar erti pengorbanan dari sosok ibu dan ayah yang pastinya tidak akan pernah hilang dari ingatan kita dan menjadikan kita semakin sayang, menghormati, dan berusaha berbakti kepada ibu bapa kita. Lebih dari itu semua, merupakan bekal yang sangat berharga bagi kita untuk mendidik dan membimbing anak-anak kita.
Pengorbanan Seorang Ibu
Ibu adalah sosok yang sangat penting bagi kehidupan kita. Kerana berkat ibulah kita semua ada di dunia ini, dan menjadi sosok yang kuat seperti saat ini. Ibu adalah manusia pertama yang kita lihat ketika baru pertama kali datang ke dunia. Apalagi dia yang rela mengalami masa-masa sukar saat mengandungkan kita selama sembilan bulan dan mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkan kita.
Begitu besar pengorbanan seorang ibu untuk anaknya. Jiwa raga dipertaruhkan, mulai dari masih berupa janin hingga semakin sempurna dalam kandungan. Betapa payahnya seorang ibu selama sembilan bulan lamanya terbebani sosok manusia di rahimnya, yang semakin hari semakin terasa berat. Namun, keikhlasan yang dimiliki Ibu dan perasaan bahagia yang luar biasa mampu mengubah beban yang begitu berat menjadi seringan kapas. Hal ini memang telah Allah sampaikan dalam salah satu ayat Al-Quran,
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua ibu bapanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”(TMQ Luqman: 14)
Seorang ibu yang mengandung, bagaimanapun beratnya, dia tidak pernah mengeluh dan tidak pernah merasa nyenyak di setiap posisi tidurnya. Yang terpenting baginya, anak yang dikandungnya merasa senyaman mungkin. Segala puji bagi Allah, entah bagaimana kekuatan seorang Ibu ketika dianugerahi anak yang dikandungnya.
Setiap hari setiap saat, dalam hati mahupun mulutnya tak pernah lepas dari doa untuk sang buah hati. Agar kelak, si buah hatinya menjadi anak yang soleh dan sihat. Doa tidak pernah terputus dari mulut dan hatinya.
Ketika sang anak hendak berpindah ke dunia baru, yakni dari alam rahim ke dunia nyata, seorang ibu pada umumnya akan merasakan sakit yang luar biasa saat melahirkan. Hanya hidup dan mati yang jadi pilihan terakhirnya. Ketika anak berjaya lahir ke dunia nyata, kebahagiaan tidak terhingga bagi seorang ibu mendengar suara pertama, tangisan anaknya. Rasa sakit yang luar biasa, tenaga yang dicurahkan, berganti menjadi senyum dan tangis bahagia yang melebur menjadi satu saat melihat raut wajah mungil anaknya yang telah lahir dengan sihat dan selamat.
Tidak tamat sampai di situ, seorang ibu masih memiliki tanggung jawab untuk membesarkan buah hatinya. Seorang ibu masih perlu sibuk mengurusi masa-masa bayi anaknya, menyusuinya, bahkan mendodoi ketika anak sedang menangis. Selain itu, ibu selalu menjadi penghibur setia anaknya setiap saat.
Begitu besar kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Keadaan ini terus berlangsung hingga anaknya besar, bahkan pun ketika anak-anaknya menjelang dewasa. Bahkan ketika anak telah pun menikah, perhatian seorang ibu kepada anak-anaknya tak pernah berubah.
Oleh kerana itu, memang tidak menghairankan jika ibu merupakan sosok yang paling mengetahui diri sang anak, luar dan dalam. Mulai dari makanan kesukaan, sifat, hingga kebiasaan gurauan yang mungkin sering anak-anaknya lakukan saat berada di rumah. Ibu sangat tahu.
Di hadapan mereka, kita boleh menjadi diri sendiri dan merasa diterima apa adanya. Ibu selalu memahami apa yang kita inginkan, dan apa yang kita perlukan. Bermula dari hal-hal yang sederhana, ibu tak pernah berhenti untuk menunjukkan perhatiannya pada kita. Maka dari itu, tak ada ibu yang ingin menyusahkan anaknya. Itulah sebabnya, jarang sekali kita dengar ibu meminta sesuatu kepada kita, anak-anaknya.
Demikian besarnya pengorbanan seorang ibu sehingga wajarlah jika Allah memerintahkan kita untuk memuliakannya. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadis, dari Abu Hurairah, dia berkata, “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw. dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?’ Rasul pun menjawab, ‘Ibumu.’ ‘Lalu siapa lagi?’, ‘Ibumu.’ ‘Siapa lagi?’ ‘Ibumu’. ‘Siapa lagi?’ ‘Ayahmu.’” (HR Bukhari Muslim)
Demikianlah gambaran pengorbanan seorang ibu dalam keluarga. Tidak ada yang mampu menandingininya, wajar jika Islam menempatkan kedudukan yang sangat mulia bagi seorang ibu. Selain ibu, ada sosok penting lainnya dalam kehidupan kita, iaitu ayah atau bapa.
Pengorbanan Ayah
Ayah adalah sosok pelindung utama dalam keluarga. Dia tidak segan berkorban demi keluarganya agar isteri dan anak-anaknya sentiasa baik dan selamat. Bahkan, jika di saat dia perlu terluka, dia sanggup melakukannya. Ini adalah salah satu pengorbanan terbesar dari seorang ayah yang membuatkan kita perlu sentiasa menghormati dan menghargainya.
Walau kadang sosok ayah jarang berbicara, tetapi dia memiliki perhatian yang besar dan isi hati yang lemah lembut pada sang anak. Seorang ayah tetap memiliki hati dan boleh merasa sedih. Namun, demi anaknya, dia sanggup menahan kesedihan dan memberikan banyak alasan kenapa dia perlu berusaha kuat dan tetap membuat anak-anaknya merasa tenang dan gembira.
Ya, ayah adalah pemimpin keluarga. Jerih payahnya setiap hari memberikan penghidupan dan nafkah yang baik dan halal untuk keluarga. Seorang ayah bekerja tanpa mengenal lelah dan mengeluh untuk mencukupi keperluan keluarga. Ayah mencari nafkah pagi dan malam, apa pun yang dia lakukan, walau perlu mengeluarkan banyak tenaga, fikiran, dan keringat.
Semuanya dilakukan seorang ayah demi ketaatannya kepada Allah SWT dan menjalankan perintah-Nya. Bahkan tidak sedikit para ayah yang perlu mempertaruhkan nyawa demi menghidupi isteri dan anak-anaknya.
Islam memang telah memberikan tanggungjawab kepada seorang lelaki untuk menafkahi orang-orang yang menjadi tanggungannya, termasuk isteri dan anak-anaknya. Allah SWT berfirman,
…وَعَلَى ٱلۡمَوۡلُودِ لَهُۥ رِزۡقُهُنَّ وَكِسۡوَتُهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ إِلَّا وُسۡعَهَاۚ …
“Kewajipan ayah untuk memberi makan dan pakaian kepada para ibu secara yang sepatutnya. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (TMQ Al-Baqarah: 233)
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
“Cukuplah dianggap berdosa seseorang yang menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR Abu Dawud, Ahmad, an-Nasai, al-Baihaqi, al-Hakim, dan ath-Thabrani)
Tentang hadis ini, Ash-Shan’ani dalam Subûl as Salam mengatakan, “Hadis tersebut merupakan dalil atas kewajipan nafkah bagi manusia untuk orang-orang yang ada dalam tanggungannya. Orang-orang yang menjadi tanggungannya adalah mereka yang wajib dinafkahi iaitu isterinya, anak-anaknya, dan hamba sahayanya.”
Hadis di atas menyatakan kewajipan nafkah berupa makanan. Namun demikian, yang wajib bukan hanya makanan, tetapi semua keperluan utama dan keperluan lainnya untuk hidup secara makruf (layak) sesuai kelayakan di masyarakat, berdasarkan surah Al-Baqarah ayat 233.
Dan Maha Adilnya Allah SWT, Allah memberikan tempat mulia bagi seorang ayah atau suami yang telah berkorban untuk mencari nafkah untuk anak-isterinya, sebagaimana sabda Rasulullah saw.,
“Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik terhadap keluarganya dan aku adalah yang terbaik daripada kamu terhadap keluargaku.” (HR Tirmidzi)
“Dinar (harta) yang kamu belanjakan di jalan Allah, dan dinar yang kamu berikan kepada seorang budak wanita, dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin, serta dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar ganjaran pahalanya adalah yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.” (HR Muslim)
“Dinar yang paling utama yang dibelanjakan oleh seseorang adalah dinar yang dinafkahkan untuk keluarganya dan dinar yang dibelanjakan oleh seseorang untuk tunggangannya dalam jihad di jalan Allah azza wajalla dan dinar yang diinfakkan oleh seseorang untuk teman-temannya di jalan Allah SWT.” (HR Muslim)
Demikianlah gambaran seorang ayah dengan pengorbanan yang demikian tulus, tanpa mementingkan dirinya sendiri demi keluarganya. Agar seluruh anggota keluarganya dapat hidup dengan layak dan dapat memenuhi semua tuntunan syariat yang telah Allah perintahkan.
Khatimah
Telah sangat jelas bahawa keluarga adalah tempat yang paling dekat bagi kita untuk belajar erti pengorbanan. Dari pengorbanan luar biasa yang dilakukan kedua ibu bapa, kita banyak belajar. Bukan hanya kerana ayah dan ibu adalah pemikul peranan utama dalam keluarga dan bertanggungjawab penuh atas hidup anak-anaknya. Akan tetapi, lebih dari itu, ketika mereka menjalaninya dengan penuh keikhlasan kerana ketaatan kepada Allah, maka kita anak-anaknya akan merasakan keberkahan yang luar biasa.
Kita belajar banyak erti pengorbanan dari kedua ibu bapa kita sejak kita kecil dan seiring dengan semakin meningkatnya usia kita, semakin kita menyedari betapa besarnya pengorbanan mereka. Dan saat ini, ketika kita telah menikah dan memiliki anak, kita juga berusaha untuk mencontohi pengorbanan mereka dan menjalaninya dengan penuh ketaatan dan keikhlasan. Semoga Allah selalu memberikan pahala berlimpah untuk ibu bapa kita dan memberikan kemampuan kepada kita untuk selalu ikhlas berkorban kerana Allah dalam mendidik dan membina anak-anak kita. Amin. Wallahualam bissawab.