Ujian Dakwah Pasca Kampus; Tumbang Setelah Pernikahan (Bahagian-2)
Oleh: Ustaz Iwan Januar
Salah satu ujian sekaligus cabaran para pemuda di jalan dakwah adalah ketika memasuki kehidupan baru; pernikahan. Pernikahan boleh menjadi penguat ibadah, amal soleh, dan dakwah, namun juga boleh juga menjadi penyebab seorang muslim/muslimah tumbang di jalan dakwah.
Harapannya setelah menikah maka ibadah, amal soleh dan dakwah semakin semangat. Ternyata tidak semua aktivis dakwah yang semua menyala di kampus, malah padam tatkala memasuki the world of marriage. Futur. Malah luntur. Ada juga yang tidak peduli lagi dengan urusan dakwah.
Jangankan memikirkan bagaimana merekrut kader, badan sudah malas bergerak untuk urusan dakwah. Lebih parah lagi, ada juga yang tidak peduli lagi urusan halal dan haram. Bahkan ibadah pun perlahan-lahan tak lagi bersemangat.
Ada beberapa sebab pernikahan sebaliknya jadi faktor yang membuat aktivis dakwah tumbang. Di antaranya:
- Sejak dari awal menikah tidak serius membangun komitmen dakwah bersama pasangan
Ada aktivis dakwah yang tidak berfikir bila menikah itu perlu senantiasa sejalan bahkan mampu menyumbang untuk dakwah. Tatkala menikah tidak lagi berfikir dengan siapa dia akan berumah tangga dan tidak juga membangun komitmen dakwah dengan calon pasangan. Fokusnya ya hanya untuk menikah.
Ini boleh terjadi dengan alasan kerana ingin segera menikah, apalagi mengenangkan usia yang makin bertambah, atau semata-mata kerana sudah merasa cocok dengan calon pasangan, takut pernikahan batal di tengah jalan bila komitmen dakwah ditambah sebelum pernikahan. Padahal dengan pernikahan sepatunya bertambah-tambah berkahnya kalau menjadi ladang dakwah. Bukankah itu yang dicari dalam setiap rumah tangga?
Komitmen dakwah juga boleh dilakukan dengan pasangan yang belum faham kewajipan berdakwah. Ingatkan kisah Ummu Sulaim ra.? Wanita yang cerdas dan berani menjadikan keislaman dan perjuangan sebagai komitmen pernikahan saat Abu Talhah datang melamar. Abu Talhah pun akhirnya menerima komitmen ber-Islam yang ditawarkan Ummu Sulaim ra.
Jangan overthinking dengan tanggapan seandainya komitmen dakwah yang ditawarkan akan menjadi penghalang menuju pernikahan. Bismillah. Allah Maha Penolong dan Pemberi Jalan.
- Tidak terbuka pada pasangan tentang komitmen dakwah.
Entah kerana bimbang gagal mendapatkan pasangan, komitmen dakwah ini tidak disampaikan pada calon pasangan. Ada yang beralasan hal ini mudah disampaikan setelah menikah. Ada pula yang takut pernikahan akan gagal, terutama untuk akhwat.
Penting untuk terbuka pada pasangan, terutama bila mendapat calon pasangan yang bukan aktivis dakwah, untuk menyampaikan komitmen dakwah pasca berumah tangga. Minta pemahaman, dukungan bahkan ajakan untuk bersama menata dakwah dalam keluarga.
Ketika tidak terbuka soal komitmen maka pasangan boleh jadi muncul kesalah-fahaman dan kecurigaan. Jadi, penting untuk sampaikan di awal ta’aruf atau fasa khitbah untuk menegaskan pada pasangan bahawa anda mempunyai cita-cita menjadikan keluarga ini selalu dalam perjuangan.
- Tidak menata pengurusan masa dan kepentingan aktiviti dakwah.
Setelah menikah, kesibukan pasti akan bertambah. Untuk muslimah, selain mengurus rumah, juga nanti perlu mengurus anak, perlu meluangkan masa berkumpul dengan keluarga besar. Bagi para ikhwan juga tidak berhati-hati dalam mengatur keutamaan (priority) antara kegiatan keluarga, kerjaan, dan dakwah. Ada orang yang sengaja meletakkan dakwah di bahagian bukan keutamaan. Jika ini berlaku, maka hanya tinggal menunggu masa si pelakunya akan menghilang dari peredaran dakwah.
Apa puncanya? Boleh jadi walau bertahun-tahun menyertai kegiatan dakwah tapi belum tumbuh kesedaran bahawa dakwah itu wajib dan perlu. Mungkin pelakunya ikut aktif kerana merasa senang berorganisasi tapi tidak mahu memikul beban berkelanjutan dan merasa tidak perlu memikirkan secara mendalam tentang persoalan agama dan keumatan. Ber-Islam itu biasa sajalah. Nah, saat melantun dari orbit dakwah itu biasanya berlaku apabila tamat pengajian atau setelah menikah.
Penawarnya ialah memahami semula tujuan hidup di dunia, tujuan berkeluarga, dan memahami redha Allah SWT adalah kebahagiaan terbesar untuk seorang muslim/muslimah. Redha itu tidak boleh dicapai dengan meninggalkan perintah Allah. Apalagi kewajipan ini berkaitan dengan terlaksananya perintah-perintah Allah yang lainnya dan mempunyai efek besar kepada umat.
- Tidak saling mengingatkan tentang penting dan mulianya berdakwah.
Kesibukan dalam kehidupan baru memang memeras tenaga dan fikiran. Inilah fasa ujian dalam pernikahan; sedar lalu bangkit atau hanyut. Saling mengingatkan adalah salah satu kunci untuk sedar dan bangkit. Isteri dan suami perlu bersatu dan saling menjaga ritma keluarga, nafkah, ibadah dan dakwah.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran“. (TMQ Al-’Ashr [103]: 1-3)
Solusi untuk semua persoalan itu adalah para pengemban dakwah perlu selalu mengingati pesan Allah, siapa menolong agama Allah akan ditolong oleh Allah. Kata Nabi, jagalah agama Allah, maka Allah akan menjagamu. Dalam hadis qudsi Allah senantiasa bersama hambaNya yang selalu dekat denganNya:
“Siapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai melebihi apa yang sudah Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia bertindak, dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan memberikannya, dan jika dia berlindung kepada-Ku, sungguh Aku akan melindunginya. (HR. Bukhari).
Mahukah anda ditolong Allah SWT?