Single Parent
Oleh : Ustaz Iwan Januar
Umm, tidak ada orang yang sengaja memilih untuk menjadi seorang ibu single parent. Andaikan boleh hidup bahagia bersama dengan suami, maka setiap wanita ingin tetap utuh dalam perkahwinan. Akan tetapi qadha/takdir Allah tidak pernah ada yang tahu, ternyata perkahwinan harus berakhir lalu seorang muslimah perlu menjalani hidup sebagai single parent. Ibu yang sendiri membesarkan anak-anak mereka.
Bercermin pada Al-Quran, ternyata ada ibu yang berjaya sebagai single parent. Maryam binti Imran adalah seorang single parent yang membesarkan puteranya, Isa bin Maryam menjadi seorang nabi utusan Allah. Maryam sudah perlu menghadapi ujian sejak kehamilan. Kaum Bani Israil mencurigai Maryam melakukan perbuatan maksiat kerana hamil tanpa ada suaminya, sampai kemudian Allah memberikan pertolongan pada wanita mulia ini. FirmanNya:
” Wahai saudara perempuan Harun, bapamu bukanlah seorang yang buruk akhlaknya, dan ibumu pula bukanlah seorang perempuan jahat!. Maka Maryam segera menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata (dengan hairannya): “Bagaimana kami boleh berkata-kata dengan seorang yang masih kanak-kanak dalam buaian?”. Ia menjawab:” Sesungguhnya aku ini hamba Allah; Ia telah memberikan kepadaku Kitab (Injil), dan Ia telah menjadikan daku seorang Nabi.” (TMQ Maryam [19]: 28-30)
Ummahat yang hari ini sedang menjalani fasa menjadi single parent juga boleh bercermin dari ibunda yang berjaya membawa anak-anak mereka menjadi ulama. Dalam buku “Ibunda Para Ulama” karya Sufyan bin Fuad Baswedan dikupas kisah sejumlah ibu-ibu single parent namun mempunyai prestasi mencetak putera-putera mereka sebagai ulama.
Di antaranya ada ibunda Imam Syafie yang bernama Fathimah binti Ubaidillah Azdiyah. Beliau berasal dari suku Al-Azd di Yaman. Garis keturunannya bersambung dengan Rasulullah SAW dari jalur Ubaidillah bin Hasan bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Perempuan mulia ini membesarkan Imam Syafie sendirian yang menjadi yatim sejak usia dua tahun.
Ada juga ibunda Imam Ahmad bin Hanbal, yang bernama Shafiyah binti Maimunah binti Abdul Malik As Syaibani dari Bani Amir. Datuk ibunda Imam Ahmad adalah pemuka Bani Amir. Shafiyah mendidik Imam Ahmad seorang diri ketika dia berusia tiga tahun setelah ayahnya meninggal dunia.
Ini sejumlah tips agar ummahat tetap bahagia dan Islami tatkala menjalani hidup sebagai single parent bersama anak-anak tersayang;
- Berfikir Positif Terhadap Qadha/Takdir Allah SWT
Seorang muslim dan muslimah wajib mengimani setiap musibah yang menimpa diri dan keluarga adalah ketetapan Allah SWT. FirmanNya:
“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (TMQ At-Taubah [9]: 51).
Bersedih atas perceraian atau kerana kematian suami tercinta adalah fitrah, akan tetapi janganlah berlarut-larutan apalagi disertai dengan sikap menyalahkan takdir-Nya. Tetaplah berprasangka baik pada Allah, maka Allah akan memberikan ketenangan.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (TMQ Al-Baqarah [2]: 216).
Seringkali seorang muslimah baru tahu kebaikan yang akan dia raih daripada Allah setelah sekian waktu menjalani hidup sebagai single parent.
- Menata Agenda Kehidupan Yang Baru
Setelah tidak ada suami yang juga ayah untuk anak-anak, para ummahat perlu menata agenda kehidupan yang baru. Terutama untuk para ibu yang kemudian menjadi tulang belakang keluarga, maka perlu menata ulang agenda kegiatan dengan saksama. Sebab, kini dia perlu seorang diri menjadi pendidik dan kawan untuk anak-anak.
Aturlah kegiatan di tempat bekerja agar tidak kehilangan fokus membersamai anak di rumah. Benar, di alam kapitalisme seperti sekarang, banyak single parent yang sendirian menafkahi keluarga. Apalagi bila keluarga besar tidak mampu menopang kehidupan anggota keluarganya. Akan tetapi jangan sampai seorang ibu berlebihan dalam bekerja yang akan memberi dampak kehidupan anak tercicir.
- Cermat dan Qanaah Dalam Kewangan
Dengan ketiadaan suami, maka sumber nafkah untuk keluarga juga berkurangan. Sebahagian ummahat ada yang berkerjaya, sebahagian lagi ada yang ibu rumah tangga sepenuh masa yang seringkali terpaksa bekerja mencari nafkah. Dalam situasi ini, maka ummahat mesti mengelola kewangan dengan cermat. Potong pengeluaran yang tidak perlu dan fokus untuk keperluan-keperluan asas yang lebih utama.
Tidak kurang pentingnya, ummahat dan anak-anak perlu menguatkan sikap qanaah. Merasa cukup dengan kurniaan Allah yang ada, serta banyak bersyukur. Dua sikap ini terpuji di mata Allah, malah Allah akan menambahkan lagi karuniaan-Nya. Firman Allah:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhan kamu memberitahu: “Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambahi nikmatKu kepada kamu, dan demi sesungguhnya, jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azabKu amatlah keras”. (TMQ Ibrahim [14]: 7).
- Bercakap dengan Anak-Anak
Sudah tentu tidak berkongsi kesedihan pada mereka, tapi bercakaplah untuk saling menguatkan dan menata kehidupan yang baru. Jangan biarkan satu musibah merampas kesempatan ummahat untuk tetap berkasih sayang dan berbahagia bersama anak-anak.
Bercakaplah dengan mereka untuk mula membangun mental yang sihat pasca tiadanya ayah, belajar untuk sabar dan redha dengan takdir Allah, menata kewangan bersama, dan bersama circle pertemanan yang sihat. Sehingga ummahat bersama anak-anak dapat bersinergi untuk menata kehidupan baru yang sihat dan Islami.
- Buat Peraturan dengan Anak-anak
Tidak cukup hanya bercakap dan saling menguatkan, tapi buatlah peraturan untuk disepakati dan dijalani bersama. Misalnya, anak-anak perlu sudah mula berusaha untuk berdikari sesuai usia mereka. Mengerjakan tugas-tugas sekolah, menjaga ibadah, dan pergaulan. Sementara ummahat juga mengatur jadual bersama anak-anak, baik untuk agenda sekolah mahupun untuk waktu kekeluargaan (family time). Beranilah untuk menolak agenda atau pekerjaan tambahan bila merampas waktu bersama anak-anak.
6 . Jaga Pergaulan
Tidak kurang penting untuk ummahat tetap menjaga pergaulan sesuai tuntuntan syariat, kerana inilah yang akan menyelamatkan. Pahami fasa iddah bagi wanita yang bercerai serta hukum-hukum syarak tentangnya.
Seterusnya, jagalah pergaulan dengan lawan jenis, agar tidak jatuh pada ikhtilat yang terlarang. Jangan biarkan emosi membuat ummahat mudah meluahkan perasaan pada orang yang tidak amanah, apalagi terhadap lawan jenis. Bila memang ada keinginan untuk kembali membangun rumah tangga, maka jalani ia sesuai syariat.