“Harga” Ibunda Para Ulama
Oleh: Naowati Ummu Syaddad
Sosok ibu tak dapat dinafikan lagi, adalah suatu hal yang sangat penting dalam sebuah peradaban. Bila dimasa lalu bertebaran para ulama besar, tak dapat dielakkan peranan besar sosok di belakangnya.
Untuk mengetahui “harganya”, mari bertanya pada ibunda Imam Syafi’i; Ayah Imam asy-Syafi’i wafat dalam usia muda. Ibunyalah yang membesarkan, mendidik, dan memperhatikannya hingga kemudian Muhammad bin Idris asy-Syafi’i menjadi seorang imam besar. Ibunya membawa Muhammad kecil hijrah dari Gaza menuju Mekah.
Di Mekah, beliau mempelajari Al-Quran dan berjaya menghafalkannya saat berusia 7 tahun. Kemudian sang ibu mengirim anaknya ke sebuah desa yang bahasa Arabnya masih murni. Sehingga bahasa Arab pemuda Quraisy ini pun jadi tersusun dan fasih. Setelah itu, ibunya memperhatikannya agar dia boleh berkuda dan memanah. Lalu, jadilah dia seorang pemanah ulung. Beliau pernah memanah 100 anak panah dari busurnya, tiada satu pun yang tersasar dari sasaran.
Dengan taufik dari Allah SWT, berkat kecerdasan dan kedalaman pemahamannya, saat beliau baru berusia 15 tahun, Imam asy-Syafi’i sudah diizinkan Imam Malik untuk berfatwa. Hal itu tentu tidak terlepas dari peranan ibunya, Ummu Habibah, yang merupakan seorang muslimah yang cerdas dan pelajar ilmu agama. Imam asy-Sayfi’i bercerita tentang masa kecilnya,
“Aku adalah seorang anak yatim. Ibukulah yang mengasuhku. Namun dia tidak memiliki biaya untuk pendidikanku. Aku menghafal Al-Quran saat berusia 7 tahun dan menghafal (kitab) al-Muwaththa saat berusia 10 tahun. Setelah menyempurnakan hafalan Al-Quranku, aku masuk ke masjid, duduk di majlis ilmu para ulama. Aku menghafal hadis atau suatu permasalahan. Keadaan kami dalam masyarakat berbeza, aku tidak memiliki wang untuk membeli kertas. Aku pun menjadikan tulang sebagai tempat menulis”.
Walaupun memiliki keterbatasan dari segi material, ibu Imam asy-Syafi’i tetap memberi perhatian luar biasa terhadap pendidikan anaknya.
Mari bertanya pada ibunda Imam Bukhari; Imam al-Bukhari tumbuh besar sebagai seorang yatim. Ibunyalah yang mengasuhnya. Ibunya mendidiknya dengan pendidikan yang terbaik. Ibunya juga yang mengurus keperluannya, mendoakannya, dan memberi motivasi kepadanya untuk belajar dan berbuat baik. Saat berusia 16 tahun, ibunya mengajak Imam al-Bukhari safar ke Mekah. Kemudian si ibu meninggalkan puteranya di negeri haram tersebut. Tujuannya agar sang anak dapat menimba ilmu dari para ulama Mekah. Dari hasil bimbingan dan perhatian ibunya, jadilah Imam al-Bukhari seperti yang kita kenal saat ini. Seorang ulama yang gurunya pernah mengatakan, “Tidak ada orang yang lebih hebat darinya (dalam ilmu hadis)”.
Peradaban Islam, Peradaban Ulama
Itulah harga mahal yang perlu dibayar oleh para ummahat ulama besar. Apabila kita membaca biografi para ulama, rata-rata yang tertulis adalah jasa para ayah. Mengapa, sebab sebuah petikan popular mengatakan, disebalik seorang lelaki hebat, ada seorang isteri hebat.
Ertinya, peranan ibu sangat besar walau kadang tak tertulis oleh tinta sejarah. Azam yang kuat dari para bunda tersebut ternyata lahir dari suasana keimanan yang kental. Dimana mereka sendiri lahir dari didikan Islam yang kuat, bukan hanya itu, pengaruh penerapan Islam kaffah saat itu cukup memberi celupan warna yang berbeza.
Asas keilmuan merupakan suatu hal yang menonjol dalam peradaban Islam saat itu. Suasana kondusif yang sangat membantu para ibu, antara lain dengan banyaknya perpustakaan umum, diantaranya yang terkenal adalah perpustakaan Baghdad, Cordoba Sevilla. Bertebarnya majlis-majlis ilmu yang besar. Saat itu, suasana belajar para ulama begitu hidup, sepanjang masa memandang nuansa Islami di setiap tempat. Motivasi dari para guru terus terngiang-ngiang. Sebagai contoh, Imam Syafi’i belajar dari para ulama besar kala itu, seperti Muslim Bin Khalid, Dawud Bin Abdurrahman Al ‘Athar dan masih banyak lagi untuk mempelajari ilmu fikh, hadis, lughah (bahasa) dan Al Muwaththa’. Selain itu, umat Islam pada waktu itu juga berlumba-lumba dalam berinfak untuk ilmu sebagai sedekah dan sarana mendekatkan diri pada Allah.
Berapa harga bunda zaman sekarang untuk melahirkan para ulama?
Nampaknya harganya semakin tinggi, mengapa tidak, nilai-nilai sekularisme telah menjadi virus dalam merenggut cita-cita mulia para bunda hari ini. Jangankan bermimpi anaknya menjadi ulama, untuk mendapatkan sesuap makanan pun sudah mencabar. Para ibu yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan, bukannya menjadi tulang rosak, malah “dipaksa” menjadi tulang belakang, sebuah peranan yang layaknya disematkan bagi para suami. Belum lagi para bunda yang sudah mewakafkan hidupnya untuk bekerja, berangkat saat si buah hati belum bangun dan pulang saat dia sudah tidur. Bagaimana si ibu ingin membina hubungan yang akan berpengaruh pada kebaikan perilaku anak jika keadaannya begini?
Apa khabar bunda dengan gajetnya? Gajet telah hampir sempurna menggantikan posisi anak dalam genggaman sang ibu. Ibu sudah tidak lagi peduli pada jeritan si anak yang kelaparan, bunda zaman sekarang terus saja update status di media sosial, atau sibuk mengupload video di channel YouTubenya, sambil tidak lupa dengan taglinenya, “Jangan lupa like dan subscribe ya guys..”
Bagaimana dengan bunda yang membunuh anaknya? Inilah realiti kejam bunda zaman sekarang. Bunda yang terperangkap dalam kongkongan kapitalisme, yang terkena virus kemurungan akut (masalah mental yang serius) sehingga sanggup membunuh anak tersayang. Bagaimana mungkin bunda zaman sekarang mampu mencetak ulama besar? Jangankan untuk mencetak, bermimpi juga tidak sempat. Berleluasanya arus LGBT saat ini turut menambah beratnya beban bunda mendidik anak, Nastaghfirullah.
Maka, bunda persiapkanlah dirimu, kuatkan visi misimu bahkan sebelum menikah, ya… Ketika memilih pasangan, seperti pasangan Najmuddin – ibu bapa Salahuddin Al Ayyubi – ketika hendak menikah. Hiasi dirimu dengan keperibadian Islam yang khas, yang hanya menjadikan Islam sebagai landasan berfikir dan bersikap. Para ulama masa depan kelak, bukan hanya berhak mendapatkan ibu yang cerdas namun juga mampu menundukkan hawa nafsunya terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Berdoalah untuk ulama kecilmu saat ini, sematkan untaian doa setiap saat hingga saat ia berlaku yang di luar harapanmu, luruskan dan tetap terus mendoakan kerana doa seorang ibu itu maqbul. Jadilah the next “ibunda para ulama masa depan”, yang bukan hanya cukup membenahi diri tapi turut serta dalam medan perjuangan dakwah. Sebab anak-anak soleh ini akan turut dibentuk oleh persekitaran. Lihatlah persekitaran yang terbius sekularisme kapitalisme saat ini, yang telah berjaya membentuk para perasuah, pendusta, golongan seks songsang bahkan pegawai-pegawai berkolar putih.
Ya, ianya bukan sesuatu yang mudah, namun inilah risiko ibu zaman sekarang yang mengharapkan agar kelak anak-anaknya menjadi ulama, pewaris para Nabi. Maka langkah yang dibangun perlu diatas jalan yang benar dan lurus, berpacu dengan derasnya arus hedonisme yang lahirnya dari sekularisme. Jika para ibu lalai sedikit, boleh menyebabkan hancurnya masa depan anak.
Menyiapkan para ulama masa depan, bererti menyiapkan juga ibunya. Kerana dari tangan merekalah kelak akan terlahir para ulama besar yang akan menjadi garda terdepan dalam menjaga umat ini. Juga menyiapkan persekitaran yang kondusif, iaitu peradaban Islam itu sendiri. Wallahu a’lam.
Sumber: https://muslimahtoday.net/harga-ibunda-para-ulama/
#MuslimahIdeal #SeniMembinaGenerasiPemimpin #IbuMuslimahInspiratif #IslamicParenting