Meluruskan Pemahaman “Jihad Qital” dalam Syariat
Penulis: Halima Noer
Aktiviti pengarusan moderat makin gencar dalam berbagai bentuk, seperti laihan, seminar dan sebagainya, dengan melibatkan berbagai institusi yang ada. Akibatnya, dalam rangka moderat ini, sebahagian pihak terus menyerang dan memutar-balikkan konsep-konsep Islam. Misalnya, konsep jihad qital (jihad yang bermakna perang) yang ada di buku-buku mahupun media sosial, mereka curigai sebagai konten negatif yang membawa kepada sikap tidak bertoleransi, radikalisme, dan terorisme. Mereka menolak konsep jihad qital dan menganggapnya sebagai ancaman kepada keamanan.
Selanjutnya, mereka mencipta imej yang salah tentang jihad di tengah umat. Ada yang memaknai jihad sebagai usaha bersungguh-sungguh dalam menjalankan agama, seperti menuntut ilmu, mencari nafkah, membantu fakir miskin, menjaga alam sekitar dari pencemaran, dan sebagainya. Lahirlah istilah “jihad ilmu”, “jihad sosial”, “jihad lingkungan”, dan semacamnya.
Ada juga yang memaknai jihad sebagai peperangan yang bersifat defensif semata, yakni pembelaan diri ketika diserang. Bahkan, hal ini disandarkan pada Rasulullah SAW dengan mengatakan Rasulullah SAW tidak berperang, kecuali sekadar membela diri. Tentunya semua ini perlu diluruskan.
Meluruskan Makna Jihad
Jihad dalam Islam telah diikat dengan lafaz mulia, yakni fī sabīlillāh (di jalan Allah). Alhasil, jihad terlepas dari berbagai kepentingan manusiawi, seperti kekuasaan, kekayaan, dendam, dan lainnya. Jihad di dalam Islam disyariatkan untuk mencapai tujuan-tujuan mulia yang telah ditetapkan Allah SWT, Al-Khaliq, Al-Mudabbir, Yang Maha Pembuat Syariat Yang Maha Bijaksana.
Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya Asy-Syakhshiyyah Islamiyyah jilid 2 menjelaskan definisi jihad adalah mencurahkan kemampuan untuk berperang di jalan Allah secara langsung, atau dengan bantuan harta, pemikiran, memperbanyak perbekalan, dan lainnya. Dengan demikian, makna syarie jihad adalah peperangan (al-qital) dan semua hal yang terkait dengannya, berupa pemikiran, ceramah, tulisan, strategi, dan lainnya.
Allah SWT berfirman,
قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak beriman kepada hari akhirat, dan mereka pula tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan RasulNya, dan tidak beragama dengan agama yang benar, iaitu dari orang-orang yang diberikan Kitab (kaum Yahudi dan Nasrani), sehingga mereka membayar “Jizyah” dengan keadaan taat dan merendah diri.” (TMQ At-Taubah [9]: 29).
Ayat ini menjadi dasar penetapan wajibnya jihad bermakna qital, dalam rangka menegakkan hukum Allah. Ketika kaum kafir masuk Islam, mereka tidak diperangi. Jika mereka menolak masuk Islam, mereka tidak boleh dipaksa. Hanya saja, mereka diminta untuk menerima berhukum dengan hukum Islam dalam hal ehwal awam mereka dan membayar jizyah. Jika mereka menerima, hak dan kewajipan mereka akan disamakan dengan kaum muslim. Mereka tidak akan diperangi dan mendapat jaminan akan jiwa, harta, kehormatan, serta keyakinannya. Namun, jika menolak, mereka akan diperangi kerana mereka akan menjadi penghalang dalam penerapan hukum Islam secara menyeluruh.
Jihad fī Sabīlillāh, Kewajipan Mulia
Jihad fī sabīlillāh hukumnya wajib dan termasuk aktiviti yang sangat mulia. Kemuliaan tersebut kerana kemuliaan dari tujuan yang hendak dicapainya. Ada banyak ayat Al-Quran yang menjadi dalil kewajipan yang mulia ini. Di antaranya adalah firman Allah Taala,
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ ۚ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan (sehingga) menjadilah agama itu seluruhnya (bebas) bagi Allah semata-mata. Kemudian jika mereka berhenti (dari kekufurannya dan gangguannya, nescaya mereka diberikan balasan yang baik) kerana sesungguhnya Allah Maha Melihat akan apa yang mereka kerjakan.” (TMQ Al-Anfal [8]: 39).
Dijelaskan dalam Tafsir Al-Muyassar terkait ayat ini, “Dan perangilah oleh kalian (wahai kaum mukminin), kaum musyrikin sampai tidak ada lagi kemusyrikan dan tindakan menutup jalan Allah, dan tidak ada yang disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sehingga musibah akan terangkat dari hamba-hamba Allah di muka bumi, dan hingga agama, ketaatan, dan ibadah diperuntukkan bagi Allah semata, bukan kepada selain-Nya. Apabila mereka berhenti dari mengganggu kaum mukminin dan dari kemusyrikan kepada Allah, lalu mereka kembali menjadi pemeluk agama yang benar ini bersama kalian, maka sesungguhnya Allah tidaklah ada yang tersembunyi dari apa yang mereka perbuat, berupa meninggalkan kekafiran dan masuk ke dalam Islam.”
Allah SWT berfirman dalam ayat lainnya.
كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
”Kamu diwajibkan berperang (untuk menentang pencerobohan) sedang peperangan itu ialah perkara yang kamu benci; dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jualah Yang mengetahui (semuanya itu), sedang kamu tidak mengetahuinya.” (TMQ Al Baqarah [2]: 216).
Dijelaskan dalam Tafsir Al-Muyassar terkait ayat ini, “Allah telah mewajibkan kalian (wahai kaum mukminin), untuk memerangi orang-orang kafir, sedangkan perang itu perkara yang tidak kalian sukai secara naluri, lantaran berat dan banyaknya ancaman bahaya padanya. Namun, terkadang kalian membenci suatu perkara, padahal hakikatnya merupakan sesuatu yang lebih baik bagi kalian. Dan terkadang kalian menyukai sesuatu kerana ada kesempatan bersantai atau kesenangan sementara, padahal perkara itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui apa yang terbaik bagi kalian, sedangkan kalian tidak mengetahuinya. Maka bersegeralah untuk berjihad di jalan-Nya.”
Dari ayat-ayat di atas, tampak jelas bahawa yang dimaksud jihad fī sabīlillāh adalah jihad qital yang memiliki tujuan mulia. Misalnya, pada ayat pertama (surah Al-Anfal: 39) disebutkan tujuan mulia tersebut adalah agar tidak ada kekufuran dan agama Islam ini hanyalah bagi Allah. Maksudnya, hanya hukum Allah yang diterapkan bagi umat manusia. Natijahnya, tujuan disyariatkannya jihad adalah untuk menghilangkan hambatan yang menghalang pelaksanaan hukum Allah (hukum Islam) tersebut.
Sementara itu, hanya dengan penerapan hukum Islam dalam kehidupan manusia seluruhnya, maka umat manusia akan dapat menyaksikan kebenaran Islam dan keagungannya, serta mencapai kesejahteraan dan kemuliaan sehingga mereka akan menerima Islam tanpa terpaksa.
Sedangkan pada ayat kedua (surah Al-Baqarah: 216), Allah menjelaskan bahawa jihad adalah kebaikan, bahkan perkara yang terbaik bagi kaum muslim. Hanya saja, banyak di antara kaum muslim yang tidak menyukainya lantaran berat dan banyak ancaman bahaya padanya.
Jihad, Bukan Hanya Defensif (Bertahan)
Masih banyak di antara umat Islam saat ini yang tidak faham bahawa jihad yang disyariatkan ada dua macam, yakni ofensif (menyerang) dan defensif (bertahan). Selain kerana umat Islam jauh dari pemahaman agamanya, juga kerana begitu berleluasanya moderat beragama yang diaruskan di tengah umat dengan opini bahawa Islam adalah agama damai sehingga tidak mungkin menyerang terlebih dahulu. Ini jelas keliru.
Jihad ofensif adalah jihad yang bersifat menyerang, menaklukkan negeri-negeri yang menolak untuk menerapkan sistem Islam. Jihad ini dilakukan setelah diberikan tiga pilihan sebagaimana yang diterapkan Rasulullah SAW, iaitu ditawarkan Islam. Jika menolak masuk Islam, mereka ditawarkan bergabung dengan Daulah Islam. Jika bersedia, mereka akan menjadi kafir dzimmi, mereka diminta membayar jizyah dan mendapat hak dan kewajipan sebagai warganegara Daulah Islam. Akan tetapi, jika tetap menolak, barulah mereka diperangi. Jadi, jihad ofensif adalah sebahagian dari pengembanan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.
Pelaksanaan jihad ofensif tentu saja perlu dipimpin oleh seorang khalifah. Tatkala kekhalifahan belum tegak sebagaimana keadaan saat ini, maka jihad ofensif belum dapat dilakukan. Contoh jihad ofensif adalah serangan pasukan yang dipimpin Rasulullah SAW ke Hunain dan Tabuk. Perang Hunain adalah perang melawan kaum Badui dari Suku Hawazin dan Tsaqif pada 630 M atau 8 H, di salah satu jalan dari Mekah ke Thaif. Peperangan ini berakhir dengan kemenangan besar bagi umat Islam.
Sedangkan Perang Tabuk merupakan perang antara tentera muslim melawan imperium Romawi. Perang ini terjadi pada Rajab 9 H dan berakhir pada Ramadhan tahun yang sama. Walaupun tidak sempat berlaku pertarungan fizikal kerana pasukan musuh menyerah sebelum bertempur, peperangan ini berlangsung selama 50 hari dengan pembahagian 20 hari pasukan muslim berada di Tabuk, dan 30 hari untuk menempuh perjalanan pulang-pergi dari Madinah ke Tabuk.
Lalu, apabila kita mempelajari sejarah, sepanjang sejarah kekhilafahan Islam, umat Islam di bawah pimpinan khalifahnya senantiasa melakukan jihad untuk menjadikan negeri-negeri yang menolak masuk Islam bersedia tunduk menerapkan syariat Islam. Parsi, Syam, bahkan Konstantinopel ditundukkan dengan perang, dan ini bukanlah jihad defensif.
Hukum asal jihad ofensif adalah fardhu kifayah. Ketika ada sebahagian umat Islam telah melakukannya secara sempurna, gugurlah kewajipan bagi yang lainnya. Namun, ketika umat Islam di suatu wilayah diserang musuh, tanah mereka diduduki, dirampas, dan dibunuh, maka yang berlaku adalah hukum jihad defensif. Dalam situasi seperti ini, hukum jihad qital menjadi fardhu ain bagi setiap muslim di wilayah tersebut.
Di Palestin saat ini, misalnya, merupakan fardhu ain bagi para penduduknya untuk melawan Zionis Yahudi. Ketika penduduk Palestin tidak mampu—sebagaimana yang berlaku saat ini—maka menjadi fardhu kifayah bagi kaum muslim lainnya membantu, mulai dari wilayah yang terdekat sampai yang lebih jauh. Begitu pula kaum Muslim Uighur dan Rohingya, fardhu ain bagi mereka untuk melakukan jihad dibantu kaum muslim di sekitarnya.
Khatimah
Dari sini maka jelas, jihad fī sabīlillāh yang Allah perintahkan adalah jihad qital. Oleh kerana itu, memaknai jihad bukan dengan makna syarie-nya, iaitu qital ‘perang’ melainkan dengan makna bahasanya (jaahada) ‘usaya bersungguh-sungguh dalam menjalankan ajaran agama, seperti menuntut ilmu, mencari nafkah, membantu fakir miskin, dan sebagainya’, seluruhnya adalah usaha pembelokan makna jihad.
Yang mereka sebut sebagai “jihad ilmu”, “jihad sosial”, “jihad lingkungan”, dan semisalnya, pada hakikatnya bukanlah jihad yang disyariatkan dalam Islam, sekalipun bukan bererti menafikan keberadaan syariat tersebut. Menuntut ilmu memang wajib bagi setiap muslim, tetapi tidak dapat disebut sebagai jihad ilmu. Demikian juga dengan mencari nafkah bagi kaum lelaki, jelas hukumnya wajib, tetapi tidak dapat disebut sebagai jihad mencari nafkah. Demikian pula seterusnya.
Akhir sekali, penting bagi setiap muslim memiliki pemahaman yang benar tentang makna jihad yang disyariatkan Islam. Kesalahan memahami makna jihad boleh membawa pada upaya menghapus syariat jihad dalam kehidupan kaum muslim. Ini sama saja dengan mengingkari hukum Allah, sesuatu yang membawa pada kemurkaan Allah Taala. Semoga kita semua dijauhkan dari hal tersebut. Aamiin allahumma aamiin.
*Diolah dari sumber asal: https://muslimahnews.net/2023/12/08/25355/